Harga Logam Rontok Berjamaah: Emas, Perak - Platinum Ambruk Brutal

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar komoditas logam memasuki fase koreksi tajam pada pekan pertama Februari 2026.

Trading Economics mencatatkan lima komoditas logam mencatatkan penurunan mingguan terdalam, dipimpin perak yang anjlok 27,27% secara mingguan.

Platinum turun 16,27%, emas terkoreksi 8,10%, lithium melemah 6,14%, sementara bijih besi turun 3,29%.

Koreksi ini terjadi setelah reli panjang sepanjang 2025 yang mendorong harga ke rekor tertinggi dan memicu akumulasi posisi spekulatif besar.

Pemicu utama datang dari sisi kebijakan. Melansir CNBC International, pengumuman Presiden AS Donald Trump yang menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve menggeser persepsi pasar.

Warsh dipandang memiliki sikap lebih ketat terhadap inflasi, sehingga menurunkan peluang pemangkasan suku bunga agresif dalam waktu dekat.

Perubahan ekspektasi suku bunga langsung berdampak pada logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga, mendorong rotasi dana ke aset berimbal hasil.

Dampak lanjutan muncul dari penguatan dolar AS. Setelah sempat berada di level terlemah empat tahun, dolar berbalik menguat pasca pengumuman tersebut.

Hubungan terbalik antara dolar dan harga emas kembali bekerja. Penguatan mata uang AS membuat harga logam dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor global, mempercepat tekanan jual. JPMorgan mencatat rebound dolar menjadi pemicu awal de-risking cepat di pasar logam.

Tekanan jual diperparah oleh struktur pasar yang sarat leverage. Selama reli 2025, investor memanfaatkan pinjaman untuk mengejar kenaikan harga emas dan perak.

Ketika harga mulai turun, kenaikan margin requirement memaksa likuidasi posisi. CME Group merespons volatilitas dengan menaikkan margin kontrak berjangka emas hingga 8-8,8% dan perak hingga 15-16,5%. Proses ini mendorong penjualan teknis tanpa menunggu perubahan fundamental jangka panjang.

CFTC mencatat penurunan net long manajer investasi di COMEX emas sebesar 17.741 lot dalam sepekan terakhir, sementara posisi bersih perak turun ke level terendah sejak Februari 2024.

Arus keluar ETF juga konsisten. Kepemilikan ETF perak global turun tujuh sesi beruntun hingga akhir Januari, dengan total outflow hampir 40 juta ounce sepanjang bulan.

Koreksi tidak berhenti di logam mulia. Lithium, yang diperdagangkan di CNY 160.500 per ton, turun 6,14% secara mingguan meski masih mencatat kenaikan tahunan lebih dari 100%. Penurunan mencerminkan normalisasi setelah lonjakan tajam berbasis ekspektasi transisi energi. Bijih besi juga tertekan ke US$ 102,66 per ton, sejalan dengan pelemahan sentimen komoditas global dan kekhawatiran permintaan industri.

Konsekuensinya, volatilitas tinggi diperkirakan bertahan dalam jangka pendek. JPMorgan menilai harga emas masih berpotensi pulih setelah fase penjualan paksa mereda, bahkan menaikkan target akhir tahun ke USD 6.300 per troy ounce. Namun pandangan lain lebih berhati-hati.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |