Usai Foya-Foya Akhir Tahun, Warga RI Ngerem Belanja: Dompet Kering?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Belanja masyarakat di awal 2026 mulai melambat usai puncak konsumsi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), seiring dengan kembalinya prioritas belanja untuk kebutuhan penting.

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI) per 25 Januari 2026, belanja masyarakat turun 4,4% secara mingguan ke level 350,7. Pelemahan ini lebih dalam dibanding pekan sebelumnya yang tercatat turun 1,5% secara mingguan.

Menurut MSI, penurunan belanja masyarakat ini terjadi seiring dengan normalisasi pasca libur Nataru. Sebagai catatan, libur Nataru memang kerap menjadi puncak konsumsi masyarakat Indonesia, karena di tengah libur panjang masyarakat cenderung untuk berani mengeluarkan uang lebih banyak untuk kebutuhan liburan.

Meski belanja secara umum melemah, tidak semua pos ikut menurun. Data Mandiri justru memperlihatkan belanja yang terkait kebutuhan dasar masih bertahan cukup baik. Terlihat dari belanja pendidikan yang kembali melanjutkan akselerasi dan tumbuh 13,4% secara mingguan, lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang tumbuh 12,5%.

Catatan ini mengarah pada indikasi pembayaran biaya pendidikan yang dilakukan lebih awal. Di saat yang sama, belanja kesehatan juga kembali menguat 1,1% secara mingguan setelah pada pekan sebelumnya sempat turun tipis 0,8%.

Mandiri Spending IndexFoto: Mandiri Institute
Mandiri Spending Index

Sementara itu, sejumlah kelompok belanja lain masih berada dalam tren perlambatan, terutama pada kelompok mobilitas, leisure, dan consumer goods.

Laporan MSI menunjukkan bahwa kelompok tersebut melanjutkan penurunan, sehingga konsumsi non esensial terlihat lebih mudah menurun begitu periode liburan berakhir. Untuk kelompok mobilitas, perlambatan dinilai terjadi pada seluruh komponennya dengan penurunan yang lebih dalam dibanding periode yang sama tahun lalu.

Proporsi Belanja Masyarakat Mulai Kembali ke Yang Penting

Normalisasi belanja pasca libur panjang juga terlihat dari komposisi pengeluaran masyarakat. Jika dilihat dari proporsi belanja, porsi pengeluaran untuk kebutuhan yang sifatnya paling dasar mulai kembali menguat, salah satunya belanja supermarket.

Pada awal 2026 ini, belanja supermarket mengambil porsi 15,6% dari total belanja. Angka ini naik dibanding Desember 2025 yang sebesar 15,2%. Kenaikan tipis ini memberi sinyal bahwa setelah belanja musiman mereda, masyarakat mulai menata ulang prioritas dan kembali mengarahkan pengeluaran ke kebutuhan sehari hari.

Di tengah perlambatan konsumsi secara umum, supermarket menjadi salah satu pos yang kembali mendapatkan ruang, karena belanja kebutuhan rumah tangga cenderung lebih sulit ditunda dibanding belanja yang bersifat pilihan.

Tabungan Masyarakat Meningkat

Yang menarik, di saat belanja mereda, tabungan masyarakat justru menguat. Hal ini terutama pada kelompok bawah dan kelompok atas.

Data Mandiri Saving Index untuk kelompok bawah naik ke 72,6 dari 72,4 pada Desember 2025.Kelompok atas naik ke 94,1 dari 92,0. Sementara kelompok menengah relatif stabil di 101,1 dari 101,2, sejalan dengan besarnya belanja pada periode libur Natal dan Tahun Baru.

Mandiri juga menjelaskan bahwa pengukuran indeks tabungan menggunakan basis Januari 2022 sama dengan 100, serta membagi rekening tabungan perorangan menjadi tiga kelompok. Kelompok bawah memiliki rata rata tabungan di bawah Rp1 juta.

Kelompok menengah berada pada kisaran Rp1 juta sampai Rp10 juta. Kelompok atas memiliki tabungan lebih dari Rp10 juta.

Mandiri Saving IndexFoto: Mandiri Institute
Mandiri Saving Index

Hal ini cukup memperlihatkan setelah hiruk pikuk belanja musiman mereda, suasana dompet rumah tangga pelan pelan berubah. Yang semula habis untuk mengejar momen liburan, kini mulai kembali ke tabungan.

Pengeluaran ditahan, bukan karena aktivitas berhenti, melainkan karena prioritas ikut bergeser. Uang yang sebelumnya mengalir ke berbagai jenis konsumsi perlahan diarahkan lagi ke simpanan.

Di titik ini, pola back to basic terlihat makin jelas. Kebutuhan yang benar benar penting seperti pendidikan dan kesehatan tetap berjalan, sementara belanja yang sifatnya pilihan biasanya yang pertama kali dikurangi.

Bagi pelaku usaha, perubahan ini seperti memberi petunjuk arah permintaan di awal tahun.

Bisnis yang menempel pada kebutuhan mendasar cenderung punya bantalan yang lebih kuat karena konsumen tetap mengalokasikan uangnya untuk pos pos tersebut. Sebaliknya, sektor yang bertumpu pada rekreasi, perjalanan, dan belanja discretionary perlu bersiap menghadapi penyesuaian, ketika konsumen mulai lebih selektif menentukan mana yang wajib dan mana yang bisa ditunda.

Untuk pasar, kombinasi belanja yang melambat dan tabungan yang meningkat bisa dibaca sebagai sinyal kehati hatian.

Setelah konsumsi tinggi di akhir tahun, rumah tangga seperti menarik napas sejenak, merapikan keuangan, dan menyiapkan tabungan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |