Harga Batu Bara Makin Membara, Kiamat Menjauh?

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih menguat dan melewati rekor tertinggi setahun.

Pada perdagangan Selasa (17/2/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 121,05 atau menguat 0,79%. Penguatan ini memperpanjang tren positif harga batu bara dengan menguat 4,13% selama empat hari beruntun.

Penguatan juga membawa emas ke rekor tertinggi sejak 22 Januari 2025 atau setahun lebih. Harga batu bara terbilang luar biasa mengingat harga energi, termasuk minyak sedang ambruk.

Persediaan batu bara di pelabuhan utara China bergerak turun, terutama karena arus keluar dari stok yang lebih tinggi dibanding arus masuk via kereta api selama libur Imlek.

Libur Tahun Baru Imlek 2026 diperkirakan berlangsung sembilan hari, dari 15-23 Februari, membuat banyak pelaku pasar menghentikan atau menunda aktivitas sebelum liburan tiba

Pelabuhan seperti Qinhuangdao, yang merupakan salah satu pelabuhan transhipment batu bara terbesar di utara China, mencatat penurunan stok batu bara karena permintaan dan pengambilan dari pembeli tetap kuat, sementara pasokan lewat jalur rel constrains.

Tren ini menggambarkan pola di mana permintaan pembangkit listrik dan industri menghabiskan stok pelabuhan lebih cepat daripada pengisian ulang, sehingga stok total di pelabuhan pelan-pelan menurun meskipun volume masuk masih terbatas.

Dalam beberapa minggu sebelumnya, stok batu bara di pelabuhan utara China sudah menunjukkan kecenderungan serupa, turun atau fluktuatif menurun karena arus keluar yang kuat dibanding pasokan masuk, khususnya menjelang libur Tahun Baru Imlek dan musim dingin.

Selain persoalan pasokan, harga batu bara juga naik karena bahan bakar ini diyakini tahan banting.

Seiring ekspansi energi terbarukan, berkurangnya jam operasi pembangkit listrik batu bara dan gas dapat melemahkan basis pendapatan yang dibutuhkan untuk menopang dua rantai pasok bahan bakar fosil yang terpisah.

Namun, pembangkit listrik tenaga batu bara khususnya fasilitas yang berada di mulut tambang bisa memperoleh keuntungan pada tahap akhir karena keunggulan dalam penyimpanan bahan bakar, keandalan saat musim dingin, dan kompleksitas infrastruktur yang lebih rendah.

Dunia tetap membutuhkan pembangkit fosil, terutama saat musim dingin ketika hari lebih pendek dan tenaga angin lemah. Namun jumlahnya akan jauh lebih sedikit.

Pembangkit batu bara memiliki performa operasional lebih baik dibanding gas saat musim dingin, serta harga bahan bakar yang lebih stabil.

Dalam jangka panjang, bahan bakar fosil tidak lagi terlalu dibutuhkan untuk pembangkit beban dasar. Infrastruktur terkait yang luas bisa menjadi tidak relevan secara ekonomi, meskipun tetap dibutuhkan untuk melengkapi energi terbarukan.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |