Fenomena Batu 'Berjalan' yang Bikin Bingung Akhirnya Terjawab

2 hours ago 4

Jakarta -

Ada fenomena unik di Taman Nasional Death Valley yang berada di perbatasan California dan Nevada. Ada aktivitas batu berjalan di padang tandus itu. Ternyata begini penjelasannya.

Dikutip dari laman National Park Foundation, fenomena itu menunjukkan batuan yang bergerak di sepanjang tanah gurun tanpa sebab gravitasi. Batuan tersebut bervariasi ukurannya dari beberapa ons hingga ratusan pon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun belum ada yang pernah melihatnya bergerak secara langsung, jejak yang ditinggalkan oleh batuan dan perubahan periodik di lokasinya menunjukkan dengan jelas bahwa batuan tersebut memang bergerak.

Penjelasan Ilmiah

Setelah bertahun-tahun, akhirnya misteri ini terungkap. Ada penjelasan ilmiah di balik fenomena ini.

Batuan di Racetrack Playa terdiri dari dolomit dan syenit, bahan yang sama yang membentuk pegunungan di sekitarnya. Batuan tersebut jatuh karena gaya erosi, dan berhenti di tanah kering di bawahnya.

Setelah mencapai permukaan dataran rendah, batuan tersebut entah bagaimana bergerak secara horizontal, meninggalkan jejak sempurna di belakangnya.

Banyak batuan terbesar telah meninggalkan jejak sepanjang 1.500 kaki, menunjukkan bahwa batuan tersebut telah bergerak sangat jauh dari lokasi asalnya. Batu-batu dengan permukaan dasar yang kasar meninggalkan jejak lurus, sementara batu-batu dengan dasar yang halus cenderung bergerak tak beraturan.

Batu-batu yang bergerak ini telah diamati dan dipelajari sejak awal tahun 1900-an, dan beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan pergerakan misteriusnya.

Pada tahun 2014, para ilmuwan berhasil menangkap pergerakan batu-batu tersebut untuk pertama kalinya menggunakan fotografi time-lapse. Hasilnya sangat menunjukkan bahwa batu-batu yang bergerak ini adalah hasil dari keseimbangan sempurna antara es, air, dan angin.

Pada musim dingin tahun 2014, hujan membentuk kolam kecil yang membeku semalaman dan mencair keesokan harinya, menciptakan lapisan es yang luas yang berkurang pada siang hari menjadi hanya beberapa milimeter tebalnya.

Didorong oleh angin ringan, lapisan es ini pecah dan menumpuk di belakang batu-batu tersebut, perlahan-lahan mendorongnya ke depan.

(rdp/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |