Jakarta, CNBC Indonesia - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan laporan investigasi awal terkait kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April lalu. Kecelakaan tersebut melibatkan KA Argo Bromo Anggrek bernomor KA 4B relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi dengan KRL bernomor KA 5568A relasi Kampung Bandan-Cikarang.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan dalam laporan awal tersebut, ada tiga penyebab terjadinya kecelakaan kedua kereta api tersebut. Pertama adanya anomali persinyalan antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur.
"Berdasarkan hasil simulasi pelayanan KA (Train Stepping) yang dilakukan pada Equipment Room Stasiun Bekasi dan simulasi lapangan pasca kejadian, dengan skenario rute perjalanan KA berjalan langsung dari jalur 3 Stasiun Bekasi dan kondisi track 104BT (area Stasiun Bekasi Timur) terisi, sinyal keluar J12 (Stasiun Bekasi) dapat menunjukkan aspek berwarna hijau (semboyan 5) atau aspek aman.
Sinyal pengulang atau sinyal repeater blok UB104 menunjukkan cahaya mendatar menyala berwarna putih (semboyan 9C3) yang menunjukkan sinyal blok indikasi merah. Lalu, sinyal blok B104 menunjukkan aspek berwarna merah (semboyan 7). Dari simulasi pelayanan KA yang dilakukan menunjukkan hasil yang konsisten dari aspek persinyalannya," kata Soerjanto dalam paparannya di rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
Foto: Petugas gabungan mengevakuasi puing-puing usai kecelakaan kereta appi di Sitasiun Bekasi TImur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Hal ini menandakan sinyal di Stasiun Bekasi tidak bisa mendeteksi KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur, yang menunjukkan bahwa sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek aman atau lampu hijau menyala. Kemudian sinyal pengulang menunjukkan aspek tidak aman atau lampu garis datar menyala, dan sinyal blok menunjukkan aspek tidak aman atau menyala merah.
Padahal seharusnya, sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek hati-hati atau lampu kuning menyala, jika aspek sinyal di depannya masih menunjukan indikator tidak aman atau menyala merah.
Tak hanya itu saja, berdasarkan hasil sementara simulasi, masinis Argo Bromo Anggrek juga kesulitan untuk melihat aspek sinyal pengulang di petak Stasiun Bekasi - Stasiun Bekasi Timur karena pencahayaannya terhalang oleh cahaya rumah-rumah warga.
"Jadi ini kami mengikut di dalam kabin lokomotif, juga di kabin KRL, kita melihat malam situasinya, jadi masinis kesulitan untuk melihat sinyal pengulang, karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu pasar dan rumah di sekitar rel. Jadi terdapat sumber cahaya dari rumah warga maupun lampu penerangan jalan, dengan intensitas dan warna yang menyerupai aspek sinyal pengulang tersebut," lanjutnya.
Selain persinyalan, Soerjanto juga mengungkapkan adanya miskomunikasi antara pengendali perjalanan kereta api (PK). Selain itu, sistem komunikasi tersebut dianggap terlalu berbelit.
"Sistem komunikasi Petugas Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api (PK) terlalu berbelit. KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan). Sementara, KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada pada wilayah komunikasi S.1 (PK Timur). Ini membuat jeda terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahukan kepada Chief. Lalu, chief meneruskan informasi ke PK Timur. Ini perlu diperbaiki," jelasnya.
Ia mengungkapkan, PK tidak mengetahui kondisi sebenarnya di Stasiun Bekasi, mengingat komunikasi dilakukan melalui suara radio.
"Kami mendapat laporan dari masinis KA Argo Bromo Anggrek, bahwa Ia sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 km, setelah menerima informasi bahwa di depan ada temperan KRL. Masinis sudah mencoba pengereman. Cuma di PK tidak tahu kondisi sebenarnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur, karena komunikasi kan lewat suara saja, lewat radio di kabin. Jadi PK tidak tahu kondisi sebenarnya seperti apa, tetapi mereka hanya memberi tahu kalau ada temperan, dan masinis sudah berupaya mengerem," terangnya.
Berikutnya, juga ada alasan miskomunikasi antara PK Stasiun Bekasi dengan masinis KA Argo Bromo Anggrek, di mana masinis hanya diminta oleh PK untuk melakukan pengereman bertahap, bukan pengereman secara penuh, sehingga kejadian tabrakan pun tak terhindarkan.
"Informasi dari PK Timur, KA 4B Argo Bromo Anggrek hanya diminta untuk melakukan pengereman secara bertahap dan perbanyak semboyan 35 (klakson), serta status jalur hulu dan hilir belum didapatkan informasi dari lintas terkait ruang bebas KA (prepal)," ujarnya.
Soerjanto menjelaskan KA 4B Argo Bromo Anggrek sejatinya sudah melakukan upaya pengereman darurat saat melewati sinyal blok sebelum Stasiun Bekasi Timur. Namun karena PK hanya meminta kepada masinis KA 4 B untuk melakukan pengereman bertahap, maka tabrakan pun tidak bisa dihindari.
"Dari data logger yang ditampilkan, KA 4B Argo Bromo Anggrek melakukan emergency brake dan independent brake 300 meter dari sinyal blok sebelum Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan terjadi pada kecepatan 40-60 km/jam," pungkasnya.
(chd/wur)
Addsource on Google

















































