Aisha Mayra, CNBC Indonesia
22 May 2026 11:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Di saat dunia ramai bicara kendaraan listrik dan energi hijau, perusahaan minyak terbesar dunia justru masih bernilai triliunan dolar AS.
Industri yang beberapa tahun terakhir sering disebut perlahan akan "ditinggalkan" itu ternyata masih memegang pengaruh besar dalam ekonomi global. Bahkan, sejumlah perusahaan minyak saat ini memiliki valuasi lebih besar dibanding banyak perusahaan teknologi, perbankan, hingga ekonomi negara tertentu.
Saudi Aramco Masih Nomor Satu
Di puncak daftar ada Saudi Aramco dengan nilai pasar sekitar US$1,8 triliun.
Angka itu membuat raksasa energi milik Arab Saudi tersebut tetap menjadi perusahaan minyak paling bernilai di dunia. Secara total, 20 perusahaan minyak dan gas terbesar dunia memiliki valuasi gabungan sekitar US$5,1 triliun.
Kenapa Valuasinya Besar?
Sederhananya, market capitalization atau nilai pasar menunjukkan seberapa besar nilai perusahaan di mata investor.
Dan meski transisi energi bersih terus berkembang, kebutuhan dunia terhadap minyak dan gas masih sangat besar. Mulai dari transportasi, industri, penerbangan, hingga pembangkit listrik, sebagian besar aktivitas ekonomi global masih bergantung pada energi fosil.
Nama Lama Masih Mendominasi
Di bawah Saudi Aramco, daftar perusahaan minyak terbesar dunia masih dipenuhi nama-nama lama.
Exxon Mobil berada di posisi kedua dengan valuasi sekitar US$637 miliar, disusul Chevron US$380 miliar. Dari Eropa ada Shell dengan nilai pasar sekitar US$249 miliar, sementara PetroChina menjadi perusahaan energi terbesar China dengan valuasi sekitar US$273 miliar.
Masing-masing datang dengan kekuatan berbeda. Saudi Aramco ditopang cadangan minyak Arab Saudi, Exxon dan Chevron tumbuh lewat infrastruktur energi Amerika Serikat, sementara PetroChina dan CNOOC memperlihatkan kuatnya peran negara dalam sektor energi China.
Amerika Dominan, Saudi Tetap Terbesar
Amerika Serikat mendominasi daftar berdasarkan jumlah perusahaan dengan delapan nama di dalam 20 besar, termasuk Exxon Mobil, Chevron, hingga ConocoPhillips.
Namun dari sisi ukuran perusahaan tunggal, Saudi Aramco tetap jauh berada di atas semuanya dan menguasai lebih dari sepertiga total valuasi 20 perusahaan minyak terbesar dunia.
Di sisi lain, Eropa masih mempertahankan pengaruh lewat Shell, BP, dan TotalEnergies, meski kawasan tersebut aktif mendorong transisi energi hijau.
Dunia Masih Bergantung pada Minyak
Besarnya valuasi perusahaan minyak menunjukkan bahwa dunia masih sangat bergantung pada energi fosil.
Ketika pasokan energi terganggu atau konflik geopolitik meningkat, harga minyak biasanya ikut naik dan membuat prospek keuntungan perusahaan energi kembali menguat. Salah satu titik paling penting adalah Selat Hormuz di Timur Tengah yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir 20% perdagangan minyak dunia.
Di saat yang sama, kebutuhan energi global juga terus meningkat seiring pertumbuhan pusat data AI, elektrifikasi, dan aktivitas industri dunia.
Belum Kehilangan Pengaruh
Mobil listrik mungkin semakin populer dan investasi energi terbarukan terus naik. Namun daftar perusahaan minyak paling bernilai dunia menunjukkan bahwa energi lama ini belum benar-benar kehilangan tempatnya.
Selama dunia masih membutuhkan transportasi, listrik, manufaktur, dan rantai logistik global yang stabil, minyak dan gas kemungkinan masih akan tetap menjadi bagian penting dari ekonomi modern dalam waktu yang belum sebentar.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































