Emas Mengamuk Brutal, Ini Ramalan Harga Terbaru, Bisa Sampai US$6.000?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak akhirnya kembali ngamuk. Emas melonjak dipicu ketidakpastian tarif perdagangan Donald Trump serta data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lemah.

Pada perdagangan hari ini Senin (23/2/2026) hingga pukul 06.18 WIB, harga emas dunia di pasar spot di posisi US$5148,77 per troy ons atau melesat 0,9%.

Lonjakan ini memperpanjang amukan emas.

Pada perdagangan sebelumnya Jumat (20/2/2026), harga emas dunia naik 2,09% di level US$5.103,49 per troy ons. Penguatan ini memperpanjang kenaikan harga emas selama tiga hari beruntun dengan terbang 4,6%. Kenaikan ini juga membuat emas berhasil membawa ke level psikologis US$5.100 per troy ons

Harga emas naik lebih dari 2% pada hari Jumat, didukung oleh data pertumbuhan ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, sementara investor mencerna pengumuman Presiden Donald Trump tentang tarif global baru setelah putusan Mahkamah Agung AS tentang tarif.

"Sulit untuk melihat presiden mengambil mainannya dan pulang, dia akan mencoba untuk memberlakukan kembali tarif menggunakan undang-undang lain yang akan memicu volatilitas," ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen, dikutip dari Reuters.

Dia menambahkan ketidakpastian jangka menengah tidak akan menghalangi para pendukung emas.

Trump mengatakan bahwa ia akan memberlakukan tarif global 10% selama 150 hari untuk menggantikan beberapa tugas daruratnya yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.

Mahkamah Agung menyatakan ilegal tarif global luas yang diberlakukannya berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional, dengan memutuskan bahwa ia telah melampaui wewenangnya berdasarkan undang-undang tersebut.

Indeks saham utama Wall Street melonjak pada hari Jumat setelah putusan Mahkamah Agung.

Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam menjadi tingkat tahunan 1,4% pada kuartal keempat, jauh di bawah perkiraan ekonom sebesar 3%, karena penutupan pemerintah dan penurunan pengeluaran konsumen memukul aktivitas ekonomi.

Secara terpisah, indikator inflasi pilihan The Fed, indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi, naik 0,4% pada bulan Desember, di atas ekspektasi kenaikan 0,3%.

"Data tersebut menunjukkan inflasi masih ada di pasar, tetapi dengan PDB yang lebih rendah, hal itu menunjukkan ekonomi belum mendekati titik balik. Masih banyak hal yang tidak diketahui dan ketidakpastian seputar ekonomi AS, dan itu mendukung harga emas," ujar Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior RJO Futures.

Para pelaku pasar saat ini masih mengharapkan dua pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed tahun ini, dengan yang pertama diperkirakan pada bulan Juni.

Emas, yang dianggap sebagai aset safe-haven ketika ada ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, juga cenderung berkinerja baik ketika suku bunga rendah.

Beberapa lembaga pun memproyeksikan harga emas yang cerah di 2026.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |