Dua pekerja rumah tangga (PRT) berinisial R (15) dan D (30) nekat meloncat dari kamar kos majikannya di Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat (Jakpus). Polisi kini mengusut ada atau tidaknya unsur pidana di balik peristiwa yang menewaskan korban R.
"Kami sedang melakukan penyelidikan dugaan tindak pidana yang terjadi," ujar Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin saat dihubungi wartawan, Jumat (24/4/2026).
Iman menyebut pihaknya dan Polres Metro Jakarta Pusat masih menyelidiki kasus tersebut. Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung mengatakan polisi masih mendalami keterangan dari PRT yang selamat. Agen penyalur kedua PRT itu akan diperiksa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami juga akan memanggil agen PRT untuk didalami keterangannya. Langkah ini penting agar penyidik mendapatkan informasi yang lengkap dan utuh, sehingga penanganan perkara dapat dilakukan secara profesional, cermat, dan berimbang," ujar Reynold.
Kedua Korban Asal Jateng
Salah satu warga RT 005 RW 002, Nani (68), ikut membantu proses evakuasi sesaat setelah kejadian. Nani menyebut kedua korban berasal dari daerah yang berbeda di Jateng.
"Yang satu yang akhirnya meninggal itu dari Pekalongan. Yang satu yang masih bisa diajak bicara dari Brebes," kata Nani saat ditemui, Sabtu (25/4).
Nani menjelaskan bahwa kedua korban merupakan pekerja baru di kos tersebut. Bahkan salah satunya baru bekerja selama hitungan hari.
"Yang sadar itu, yang masih bisa diajak bicara (korban R), dia mengatakan baru satu minggu (bekerja). Kalau yang satunya lagi (asal Pekalongan), saya tanya ke penjaga kos katanya sudah tiga bulan di sini," jelas Nani.
Korban Selamat Bungkam Saat Ditanyai Warga
Foto: Getty Images/Rich Legg
"Kita buka sama-sama (tasnya), tidak menemukan KTP yang kondisinya sudah parah (korban meninggal). Tapi yang satu (asal Brebes) ada KTP-nya," tutur Nani.
Nani menceritakan kondisi nahas kedua korban saat pertama kali ditemukan warga di belokan jalan samping kosan tersebut. Korban asal Pekalongan ditemukan dalam
posisi tengkurap, sedangkan korban asal Brebes dalam posisi miring.
"Kondisi yang satunya tengkurap, yaitu yang usianya masih muda (asal Pekalongan). Yang satu miring posisinya. Dua-duanya parah," ungkapnya.
Meski begitu, Nani menyebut kedua korban enggan menjawab saat ditanya tentang alasan keduanya loncat dari lantai empat kos itu. Mereka hanya diam sambil menahan sakit.
Waktu kita tanya, 'Kenapa kok pakai lompat dari atas?' Diam, tidak menjawab. Rasa takut ada ya. Kemudian tanya, 'Mau kabur ya?', diam. Kemudian, 'Apa yang punya rumah galak?', diam. Ya pokoknya dia diam saat itu," cerita Nani.
Nani menambahkan, korban asal Brebes sempat merintih kesakitan dan memegang bagian belakang badan serta tangannya yang mengalami patah tulang. Tak lama kemudian, ambulans datang dan mengevakuasi keduanya ke Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr. Mintohardjo.
"Dia kalau di sela-sela yang kita tidak tanya apa-apa gitu, dia tiba-tiba gitu 'Sakit, Bu, Bu, sakit' gitu," cerita Nani.
Korban Tewas Sempat Curhat Majikan Sita HP
Foto: Ilustrasi ponsel. (Getty Images/iStockphoto/Mikhail Dmitriev)
"Tadi menanyakan sama mbak yang satu lagi itu ya yang masih bisa diajak bicara, 'kamu HP-nya mana biar diamankan'. Nah dijawab itu, 'HP saya disita oleh bos perempuan atas suruhan bos laki-laki'," cerita Nani.
Nani, yang pernah menjadi ketua RT di lingkungan itu, mengaku tahu dan kenal dengan sosok pemilik rumah kos berlantai empat. Dia menyebut pemilik kosan itu baru pindah ke lokasi tersebut saat pandemi.
Dia menyebut keseharian pemilik rumah kos cukup ramah, namun sangat tertutup dari aktivitas warga. Sehingga interaksi yang terjalin dengan para tetangga juga sangat minim.
(aud/aud)


















































