Demi Perkuat Cadangan RI, DEN Kaji Hidupkan Lagi Tangki BBM 'Nganggur'

7 hours ago 5

Bogor, CNBC Indonesia - Dewan Energi Nasional (DEN) sedang mengkaji pemanfaatan tangki idle atau 'nganggur'. Hal itu sebagai solusi jangka pendek untuk memperkuat Cadangan Penyangga Energi (CPE) nasional sembari menunggu pembangunan fasilitas penyimpanan baru yang membutuhkan investasi besar.

Anggota DEN Satya Widya Yudha mengungkapkan bahwa pemerintah sedang memetakan potensi penggunaan fasilitas penyimpanan yang saat ini sedang tidak beroperasi secara maksimal. Dia menegaskan bahwa pemanfaatan aset yang sudah ada tersebut bertujuan untuk menekan beban anggaran negara dalam penyediaan infrastruktur energi dasar di tengah gejolak global.

"Kita lagi memikirkan tangki-tangki yang idle yang bisa dimaksimalkan. Kan banyak tangki yang idle ya. Nah itu gimana kita convert misalkan dari gas menjadi tangki crude ataupun BBM itu yang lagi kita lihat termasuk yang di upstream yang milik daripada KKKS yang mungkin sudah depresiasi menjadi milik negara," ujarnya di sela acara Sarasehan Energi DEN, di Kampus IPB Bogor, Rabu (10/6/2026).

Pengalihan fungsi tangki tersebut dinilai lebih efisien secara keekonomian dibandingkan harus membangun fasilitas baru dalam skala besar dari awal. Skenario pemanfaatan tangki milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang masa pakainya telah habis dan menjadi milik negara dinilai menjadi peluang untuk mengamankan stok minyak mentah maupun BBM.

"Itu yang kita pikirkan karena itu yang paling tidak cost-nya tidak terlalu besar," lanjut Satya.

Di sisi lain, pihaknya tetap melakukan peninjauan terhadap Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Cadangan Penyangga Energi guna membuka ruang bagi keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur. Selama ini, pendanaan untuk pengadaan tangki penyimpanan dalam jumlah besar masih bergantung pada kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kita lagi mereview Perpres yang ada karena di dalam CPE itu kita pikirkan apakah keterlibatan swasta bisa atau tidak untuk membangun storagenya. Karena kalau perpres yang ada ini kan murni kekuatan APBN," paparnya.

Penyediaan kapasitas penyimpanan yang memadai dipandang sangat mendesak karena target penyangga energi nasional menuntut ketersediaan stok yang sangat besar hingga 30 kali dari volume impor.

Pihaknya memastikan koordinasi dengan kementerian terkait akan terus diintensifkan guna merealisasikan rencana konversi tangki ini demi menjamin kedaulatan energi nasional.

"Storagenya itu gedenya 30 kali hari impor. Perlu dana besar sekali ya kita berbicaranya levelnya masih ke situ dulu," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut negara-negara di Asia Tenggara tengah merumuskan pembentukan pusat penyimpanan cadangan minyak atau storage hub untuk kawasan ASEAN. Dalam rencana tersebut, Indonesia mengusulkan agar fasilitas itu dibangun di tanah air.

Menurut Bahlil, rencana tersebut muncul dalam pembahasan di forum KTT ASEAN di Filipina sebagai bagian dari penguatan kerja sama energi regional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

"Di dalam KTT, kita menyepakati beberapa hal penting dalam pandangan dari Bapak Presiden Prabowo, mengajak ASEAN untuk kita melakukan satu kerja sama kawasan yang saling menguntungkan, khususnya di sektor energi," kata Bahlil.

Dalam pembahasan itu, Bahlil mengaku telah menawarkan Indonesia sebagai lokasi pembangunan pusat penyimpanan minyak kawasan ASEAN. Namun demikian, ia tidak memerinci lokasi detailnya.

"Kita akan membangun storage di mana saja, tapi kemarin saya tawarkan untuk di Indonesia. Kita membangun cadangan yang cukup besar yang pada akhirnya kemudian ini menyuplai ke negara-negara di Asia Tenggara," ujarnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |