Amalia Zahira, CNBC Indonesia
09 May 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - China kembali menunjukkan ambisinya dalam memperkuat jalur perdagangan global.
Negeri Tirai Bambu itu kini tengah membangun Kanal Pinglu, jalur air sepanjang 134 kilometer yang dirancang untuk menghubungkan wilayah pedalaman China langsung ke jalur laut internasional.
Target resmi pemerintah China, proyek ini diperkirakan mulai beroperasi sekitar akhir 2026, jika semua pekerjaan konstruksi berjalan sesuai jadwal.
Proyek bernilai hampir US$10 miliar ini diproyeksikan memangkas biaya logistik, mempercepat distribusi barang, sekaligus memperkuat hubungan dagang China dengan Asia Tenggara di tengah melemahnya ekspor ke Amerika Serikat.
Jalur Baru China Pangkas Rute Pengiriman Ratusan Kilometer
Kanal Pinglu menghubungkan Kota Nanning di wilayah Guangxi dengan Teluk Tonkin atau Beibu Gulf di pesisir selatan China. Jalur ini sebagian besar mengikuti Sungai Qinjiang sebelum mencapai laut.
Kehadiran kanal tersebut akan membuat kapal-kapal dari wilayah barat daya China tidak lagi bergantung pada Provinsi Guangdong sebagai jalur utama menuju perdagangan internasional. Dengan kata lain, China sedang menciptakan "jalan tol air" baru untuk mempercepat arus barang dari kawasan pedalaman.
Jika beroperasi sesuai rencana pada akhir 2026, kanal ini diperkirakan mampu memangkas rute pengiriman hingga sekitar 560 kilometer. Efisiensi tersebut dinilai sangat penting bagi distribusi barang manufaktur dan material industri yang dikirim dalam volume besar.
Otoritas setempat memperkirakan penghematan biaya logistik dapat mencapai lebih dari 5,2 miliar yuan atau sekitar US$750 juta per tahun, terutama dari pemangkasan waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar.
Bukan Sekadar Kanal, China Bangun Sistem Logistik Raksasa
China tidak hanya membangun kanal biasa, tetapi juga sistem logistik air berskala besar dengan teknologi dan infrastruktur kompleks.
Sistem raksasa dari kanal ini diproyeksikan akan memberikan manfaat ekonomi dan logistik yang besar bagi China.
China Makin Fokus ke ASEAN, Tapi Risiko Lingkungan Mengintai
Pembangunan Kanal Pinglu bukan sekadar proyek infrastruktur domestik, tetapi juga mencerminkan perubahan arah strategi perdagangan China.
Di tengah melemahnya ekspor ke Amerika Serikat, Beijing kini semakin agresif memperkuat koneksi ekonomi dengan kawasan Asia Tenggara melalui pembangunan jalur logistik baru yang lebih cepat dan efisien.
Di balik potensi ekonomi tersebut, proyek kanal raksasa ini juga memunculkan berbagai kekhawatiran terkait dampak ekologis.
Perubahan aliran sungai dalam skala besar dinilai berpotensi memengaruhi kualitas air, habitat lahan basah, hingga migrasi ikan.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah China mengklaim telah menyiapkan:
-
36 zona konservasi ekologis,
-
Jalur penyeberangan satwa liar,
-
Sistem pemantauan pergerakan ikan secara real time.
Namun sejumlah peneliti mengingatkan bahwa kanal besar tetap berisiko membawa air laut lebih jauh ke daratan dan meningkatkan akumulasi polusi di area perairan dengan arus lambat.
Meski menjanjikan efisiensi logistik dan potensi ekonomi besar, Kanal Pinglu tetap menyisakan tantangan serius di bidang lingkungan. Keberhasilan proyek ini nantinya turut diukur dari kemampuan China menjaga keseimbangan ekosistem di sepanjang jalur kanal tersebut.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































