Jakarta, CNBC Indonesia - Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video struk pembelian BBM di SPBU Pertamina yang mencantumkan harga Pertalite tanpa subsidi mencapai Rp16.088 per liter. Video itu memicu polemik lantaran harga tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan Pertamax yang saat ini dijual Rp12.300 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun menegaskan kebijakan subsidi BBM sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Dalam hal ini, Pertamina hanya menjalankan penugasan yang telah ditetapkan negara.
"Kebijakan program subsidi BBM adalah kewenangan pemerintah, bukan Pertamina. Karena itu subsidi diberikan pada jenis BBM khusus penugasan atau JBKP yaitu Pertalite, dan Pertamina sebagai operator patuh terhadap kebijakan pemerintah," ujar Roberth dalam pernyataannya kepada CNBC Indonesia, Sabtu (9/5/2026).
Tujuan subsidi BBM bukan hanya menekan harga energi, melainkan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat secara luas di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
"Subsidi bertujuan menjaga kestabilan nasional, baik dari sisi daya beli masyarakat maupun menjaga roda perekonomian tetap berjalan," katanya.
Roberth juga menjelaskan Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang harga jualnya mengikuti mekanisme pasar. Namun, pemerintah ikut berperan dalam menjaga agar harga Pertamax tidak mengalami kenaikan sejak April lalu.
"Pertamax adalah jenis BBM non-subsidi karena harganya mengikuti harga pasar. Namun pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga per 1 April 2026, sehingga harga Pertamax ditahan untuk tidak naik," ujarnya.
Sebelumnya, salah satu unggahan yang ramai dibahas muncul di platform Threads dan memperlihatkan rincian harga dasar Pertalite sebelum mendapatkan subsidi pemerintah.
Dalam struk tersebut, tercantum harga dasar Pertalite mencapai Rp16.088 per liter. Namun konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter karena terdapat subsidi pemerintah sebesar Rp6.088 untuk setiap liter BBM yang dibeli.
Temuan itu langsung memicu pertanyaan publik. Pasalnya, harga dasar Pertalite yang memiliki RON 90 justru terlihat lebih tinggi dibandingkan Pertamax dengan RON 92 yang saat ini dijual sekitar Rp12.300 per liter di wilayah Jabodetabek.
Narasi dalam video yang beredar kemudian berkembang menjadi perdebatan soal logika harga BBM. Banyak warganet mempertanyakan alasan pemerintah memberikan subsidi kepada Pertalite, bukan kepada Pertamax yang dinilai memiliki kualitas lebih tinggi.
Dalam struk pembelian yang viral tersebut tertulis rincian harga dasar Pertalite Rp16.088 per liter, subsidi pemerintah Rp6.088 per liter, dan harga jual ke masyarakat sebesar Rp10.000 per liter.
(fys/wur)
Addsource on Google


















































