Bukan Jago Bicara, Ini Ciri Pemimpin Idaman Perusahaan

4 hours ago 5

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

20 June 2026 14:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 1.000 profesional di Amerika Serikat (AS) diminta menilai kualitas yang paling penting dari para pemimpin terbaik di perusahaan mereka.

Jawaban teratas ternyata bukan visi besar. Bukan pula kemampuan berbicara di depan umum.

Yang memperoleh nilai tertinggi justru kemauan untuk mengambil tanggung jawab pribadi dan menetapkan standar akuntabilitas yang lebih tinggi.

Survei Leadership Contract Inc terhadap 1.020 responden menunjukkan perilaku "take personal ownership" memperoleh skor 4,42 dari 5 di perusahaan berkinerja tinggi. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara 10 kualitas kepemimpinan yang diukur.

Temuan ini memberi petunjuk menarik mengenai apa yang membedakan perusahaan unggul dari perusahaan biasa.

Ada Pola yang Konsisten

Survei membagi responden ke dalam tiga kelompok, yakni perusahaan berkinerja tinggi, rata-rata, dan berkinerja rendah.

Hasilnya menunjukkan pola yang cukup tegas. Perusahaan berkinerja tinggi memberikan penilaian lebih tinggi pada seluruh kualitas kepemimpinan yang diuji.

Tidak ada satu pun indikator yang memperoleh skor di bawah 4.

Sebaliknya, perusahaan berkinerja rendah memberikan nilai lebih rendah hampir di semua kategori, mulai dari kejelasan strategi hingga kemampuan menghadapi percakapan sulit.

Artinya, perbedaan kinerja perusahaan tampaknya tidak hanya ditentukan oleh produk, industri, atau strategi bisnis. Cara pemimpin menjalankan perannya juga ikut membentuk hasil akhirnya.

Pemimpin Terbaik Bukan yang Paling Pintar Bicara

Menariknya, kualitas dengan skor tertinggi tidak berkaitan dengan kemampuan menyusun strategi.

Tiga perilaku yang memperoleh nilai tertinggi di perusahaan berkinerja tinggi justru adalah:

  • Mengambil tanggung jawab pribadi dan menjadi teladan akuntabilitas: 4,42.

  • Mampu melakukan percakapan sulit secara langsung dan suportif: 4,38.

  • Memiliki kejelasan mengenai ekspektasi kepemimpinan dalam perannya: 4,36.

Ketiganya memiliki benang merah yang sama.

Perusahaan terbaik tampaknya lebih menghargai pemimpin yang bersedia mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab atas hasilnya dibanding sekadar pandai menyampaikan ide.

Titik Buta Perusahaan Berkinerja Rendah

Ada satu temuan lain yang tidak kalah menarik.

Skor terendah dalam seluruh survei muncul pada kemampuan pemimpin memahami tekanan dan tuntutan dari perannya sendiri. Nilainya hanya 3,82 dari 5 dan berasal dari responden di perusahaan berkinerja rendah.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa sebagian organisasi mungkin belum cukup memberi perhatian pada kesiapan pemimpinnya menghadapi kompleksitas pekerjaan.

Padahal, seorang pemimpin saat ini dituntut menyeimbangkan banyak hal sekaligus, mulai dari target bisnis, kebutuhan karyawan, perubahan teknologi, hingga ketidakpastian ekonomi.

Ketika pemimpin tidak memahami peran dan tanggung jawabnya secara utuh, organisasi berisiko kehilangan arah.

Kualitas yang Justru Sering Diabaikan

Survei ini juga mematahkan anggapan lama mengenai sosok pemimpin ideal.

Responden memberikan penilaian tinggi pada kualitas yang sering kali tidak terlihat di permukaan.

Di perusahaan berkinerja tinggi, sikap optimistis terhadap masa depan perusahaan memperoleh skor 4,32. Kemampuan membangun ketangguhan pribadi mendapat nilai 4,33. Sementara kemampuan membangun jaringan rekan yang saling mendukung memperoleh skor 4,28.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya soal memberi instruksi.

Perusahaan terbaik juga membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga ketenangan, membangun kepercayaan, dan membuat tim tetap bergerak ketika situasi tidak menentu.

Kejelasan Jadi Aset Baru

Dunia bisnis bergerak semakin cepat. Teknologi berubah, persaingan bertambah ketat, dan arah pasar semakin sulit diprediksi.

Dalam kondisi seperti itu, pemimpin tidak lagi dinilai dari kemampuannya memiliki semua jawaban.

Yang justru menjadi pembeda adalah kemampuan memberikan kejelasan.

Kejelasan mengenai arah perusahaan. Kejelasan mengenai prioritas. Dan kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Tidak mengherankan jika hampir seluruh indikator dengan nilai tertinggi dalam survei ini berkaitan dengan akuntabilitas, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menghadapi situasi sulit.

Di tengah ketidakpastian, kualitas-kualitas tersebut mulai menjadi keunggulan kompetitif baru.

Lebih dari Sekadar Gaya Memimpin

Survei terhadap lebih dari 1.000 profesional ini menunjukkan satu hal yang sederhana.

Perusahaan terbaik tidak selalu mencari pemimpin yang paling karismatik.

Mereka mencari orang yang bersedia mengambil tanggung jawab, memberi kejelasan ketika keadaan tidak pasti, dan tetap hadir saat keputusan sulit harus dibuat.

Karena strategi terbaik sekalipun bisa kehilangan momentum jika tidak ada orang yang benar-benar bersedia memilikinya.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |