Bripka Alfred Pulangkan 64 Warga Maybrat dari Hutan, Kembali ke Pangkuan NKRI

4 hours ago 2

Jakarta -

Bripka Alfred Namora membantu pemulangan 64 warga di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, yang melakukan eksodus ke hutan. Mereka telah kembali ke kampung halamannya dan menyatakan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Atas dedikasinya, Bripka Alfred diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Ia kini bertugas sebagai Ps Kanit III Sat Intelkam Polres Maybrat.

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sorong Selatan, Paskalis Sewa, menceritakan Bripka Alfred merupakan polisi yang berdededikasi tinggi. Menurut Paskalis, Bripka Alfred mampu membangun komunikasi yang humanis dengan masyarakat setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami memang sangat mengenal beliau secara baik karena kehadiran beliau dalam membangun komunikasi interaktif dan pendekatan-pendekatan persuasif sampai pada pemulangan pengungsi," kata Paskalis saat dihubungi detikcom, Jumat (13/3/2026).

Selain itu, Paskalis mengatakan Bripka Alfred banyak terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Salah satunya mengadakan kegiatan turnamen olahraga dalam menyambut Hari Sumpah Pemuda. Tujuannya untuk meyakinkan masyarakat di sana bahwa kondisi aman dan kondusif.

"Kami melakukan kegiatan. Kegiatannya itu hampir sebetulnya masyarakat memang belum pulang, tapi dengan kami buat kegiatan dengan terobosan itu memberi keyakinan bahwa situasi wilayah aman, kendala konfliknya mulai berkurang karena ada kegiatan-kegiatan yang kami lakukan," katanya.

Paskalis menjelaskan kegiatan yang digagas oleh Bripka Alfred itu berjalan aman dan tertib. Dia juga bersyukur kegiatan tersebut dapat meyakinkan warga untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

"Kakak Alfred sendiri ya memang punya ide, punya pikiran sehingga kita lakukan kegiatan yang tujuannya meyakinkan situasi dan masyarakat bahwa situasi keamanan aman sehingga masyarakat bisa pulang," ujar dia.

Di mata Paskalis, Bripka Alfred merupakan polisi yang sangat dekat dengan masyarakat. Bahkan warga di pelosok pun kenal dan mengetahui polisi yang berdinas di Intelkam Polres Maybrat itu.

"Masyarakat sampai hampir semua pelosok mereka kenal beliau. Tidak hanya satu orang, tapi beliau dikenal semua orang. Dan karena gayanya beliau luar biasa. Luar biasa, kami mengakui itu," tutur dia.

Bripka Alfred Pulangkan Warga yang Eksodus ke Hutan

Saat dihubungi detikcom, Bripka Alfred menjelaskan alasannya ikut membantu pemulangan warga yang eksodus ke hutan karena panggilan hati. Dia menganggap bahwa mereka yang pergi ke hutan itu tetap bagian dari keluarganya.

"Iya, jadi mungkin hal itu bergerak dari ini toh, selain sebagai anggota Kepolisian, terus saya juga merasa bahwa ini juga bagian dari keluarga, terus bagaimana wilayah ini bisa baik," kata Bripka Alfred.

Bripka Alfred Bripka Alfred (kanan) Foto: Dok Ist

Dia mengaku kerap memikirkan kondisi sumber daya manusia (SDM) di wilayahnya bertugas. Dia ingin kualitas pendidikan masyarakat di sana semakin baik setiap harinya.

Akhirnya, dia pun berkoordinasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk memulangkan warga yang eksodus ke hutan. Pendekatan bahasa lokal dan pendekatan keagamaan dipakai dalam proses pemulangan itu.

"Kita kasih motivasi bahwa kalau mereka ini tidak kita pulangkan, terus bagaimana dengan SDM kita? Itu juga kadang kita tidur di dalam berhari-hari, kasih motivasi," ujar Bripka Alfred.

Dia mengatakan pendekatan yang dipakai untuk berkomunikasi dengan masyarakat di sana akan lebih menyentuh jika menggunakan bahasa daerah. Menurut Alfred, justru bahasa-bahasa yang sederhana lah yang mempersatukan komunikasi mereka.

"Soalnya kalau orang di daerah perkampungan itu dia cepat nyambung kalau kita pakai bahasa yang sederhana," tutur dia.

Untuk meyakinkan warga yang eksodus, Bripka Alfred mengatakan proses pendekatannya membutuhkan waktu sampai tiga tahun. Upaya itu membuahkan hasil berkat dukungan dari semua elemen pemerintah dan masyarakat.

"Ini kan pola pikirnya kita orang Timur ini kan dia kalau tidak yakin, dia tidak berani. Dan dia itu kita punya, dia lihat dari kita. 'Oh orang ini dia serius, oh orang ini dia betul'," kata Bripka Alfred.

Setelah semuanya berhasil, 64 orang warga itu dibawa bertemu pihak kepolisian hingga pemerintah daerah. Mereka diberikan pemahaman mengenai kehadiran negara dalam membantu kehidupan mereka di wilayahnya.

"Kita kasih keyakinan bahwa negara hadir untuk bantu mereka melihat kekurangan-kekurangan di wilayah. Kalau pun ada doktrin-doktrin yang memang kemarin sudah beda paham, kalau memang mau pulang mari nanti kita sama-sama bantu. Anggap saja ini kelalaian kami, negara mungkin tidak perhatikan jangkauan wilayah," ujar Bripka Alfred.

Mereka juga menyatakan ikrar setia di depan forkopimda dan masyarakat. Selanjutnya, warga tersebut akan dibina hingga mendapatkan bantuan dari pemerintah.

"Mereka dinilai ya, bisa diberikan kepercayaan balik, ya sudah. Lakukan monitoring-monitoring sampai ya akhirnya sudah jadi warga biasa. Ada yang sekarang sudah kerja di kampung, ada yang kerja di distrik, aparat kampung. Ya, makin baguslah. Dikasih kepercayaan mereka juga lakukan dengan baik," kata dia.

"Setelah saya yakin mereka sudah mulai adaptasi, terus warga mulai terima mereka, sudah kita mulai bantu mereka. Kasih mereka dagangan kecil-kecil, kalau kita di Papua sini biasa dibilang jualan pinang. Kita kasih mereka modal sedikit, coba kasih bantuan. Coba lepas mereka baru kita ikuti, oh ternyata mereka ingin pulang tapi aksesnya susah. Kebetulan dapat kita yang tanpa mempersulit mereka, ya mereka rasa terbantukan," sambung Alfred.

Dia menjelaskan penyebab warga tersebut melakukan eksodus karena adanya provokasi dari pihak-pihak tertentu. Selain itu, mereka juga kerap mendapatkan teror. Karena itu, Bripka Alfred mencoba untuk memberikan pemahaman kepada warga agar tidak mudah terhasut oleh para provokator tersebut.

"Itu kan mereka juga kan kadang diteror dari mereka yang berbeda paham, bahwa 'kalian kalau berani melawan nanti kita apa-apakan'. Ya sudah, kita juga harus kasih keyakinan ke mereka bahwa negara tetap hadir. Sudah kita gabung ini sudah, teman-teman dari Satgas TNI, teman-teman dari Brimob sudah sama-sama mereka kolaborasi," ujar Bripka Alfred.

Adapun alasan Bripka Alfred ikut terlibat dalam pemulangan warga yang eksodus karena dia mengaku sudah berjanji untuk melakukan yang terbaik begitu dirinya dilantik menjadi seorang polisi. Dia menyatakan bahwa apa yang dilakukannya hari ini merupakan hasil dari janji dan komitmen di masa lalu.

"Ya jadi setelah tugas, saya punya motto dalam tugas itu kan 'Tekadku Pengabdian Terbaik'. Jadi itu yang jadi motivasi buat saya," kata Bripka Alfred.

Tonton juga video "Daftar Polisi Teladan Penerima Hoegeng Awards 2025"

(knv/lir)

Loading...

Hoegeng Awards 2026

Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |