Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Partai Buruh, Said Iqbal menyebut industri padat karya menjadi sektor yang paling cepat terdampak ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tekanan global, dan kenaikan biaya produksi.
Ia menjelaskan, dampak perang dan kenaikan harga energi memang belum terasa saat ini, namun dalam waktu dekat efeknya akan mulai terlihat.
"Ini akan terlihat tiga bulan (ke depan). Sekali lagi ini baru potensi PHK. Di industri padat karya, tekstil, garmen, sepatu yang raw material atau bahan bakunya dari impor," kata Said dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, industri padat karya menjadi yang paling rentan lantaran sangat bergantung pada bahan baku impor yang kini harganya terus naik. Tekanan tersebut, kata dia, sudah mulai terasa di sejumlah sektor, salah satunya industri berbasis plastik.
"Bahan baku plastik sekarang kan sudah naik, harga plastik sudah naik," ujarnya.
Selain industri padat karya, sektor padat modal juga mulai menghadapi tekanan serupa, terutama industri otomotif yang terdampak lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Kemudian juga industri yang terdampak adalah industri di capital intensive seperti industri otomotif, dengan harga BBM yang melambung tinggi, tentu industri otomotif yang berpikir untuk memproduksi otomotif secara massal atau besar-besaran akan turun produksinya, sehingga efisiensi dari perusahaan akan melakukan PHK," terang Said.
Ia menegaskan, kombinasi kenaikan harga energi dan bahan baku menjadi faktor utama yang mendorong perusahaan melakukan efisiensi, yang pada akhirnya berujung pada potensi PHK dalam waktu dekat.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]


















































