Petani Tebu Ungkap 4 Biang Keladi RI Doyan Impor Gula-Ancam Swasembada

6 hours ago 6
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen membeberkan sejumlah persoalan mendasar yang membuat Indonesia masih bergantung pada impor gula, sekaligus sulit mencapai target swasembada.

Ia menilai, masalah utama bukan sekadar produksi yang kurang, melainkan rangkaian persoalan dari hulu hingga hilir, mulai dari data kebutuhan yang tidak akurat, kebijakan impor yang tidak konsisten, hingga insentif yang lemah bagi petani.

Soemitro menyoroti penggunaan data kebutuhan gula, khususnya untuk industri, yang dinilai terlalu besar dan berdampak langsung pada keputusan impor.

"Yang disampaikan Pak Menteri Pertanian di sana (dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI) itu kan kebutuhan gula untuk industri masih 3,9 juta ton. Itu kegedean. Ya begitu itu, karena data yang nggak benar dipakai. Sehingga kita impornya lebih banyak," kata Soemitro kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, praktik serupa juga terjadi pada komoditas pangan lain seperti kedelai dan jagung. Kebutuhan kerap dilebihkan, sementara harga produk impor lebih murah karena negara lain sudah lebih maju secara teknologi.

"Karena apa? Harga pangan dari luar itu relatif lebih murah dari kita. Di sana pertaniannya sudah pakai mekanisasi yang itu jauh lebih murah biayanya dibanding kalau kita manual pakai orang," ujarnya.

Tak hanya soal data, ia juga mengkritik kebijakan impor yang dinilai tidak sinkron dengan kondisi riil di lapangan. Ia mencontohkan pada tahun lalu, ketika stok gula dalam negeri masih tersedia, namun impor tetap dilakukan.

"Tahun lalu itu impor, terus kita sudah ingatkan. Karena masih ada stok gula kita yang itu hasil impor tahun-tahun sebelumnya. Ini yang masih tersisa. Tapi pemerintah tetap impor," ucap dia.

Kondisi ini berdampak langsung pada serapan gula petani. Bahkan, ia menyebut gula dalam negeri sempat tidak laku meski musim giling baru berjalan.

"Dan terbukti di pertengahan tahun, kita baru giling 2 bulan, gula kita sudah nggak laku. Pernah dengar kan gula petani tidak laku, terus kita teriak-teriak untuk pemerintah segera beli itu?" katanya.

Ia juga menyinggung inkonsistensi antara pernyataan dan praktik kebijakan di lapangan.

"Jadi ngomongnya kalau di sana sama praktek lainnya nggak sama. Itu yang kadang-kadang kita bikin bingung. Kalau memang mau serius gimana caranya? Ya serius dong," tegas Soemitro.

1. Harga Dikekang, Petani Enggan Tanam Tebu

Sementara dari sisi produksi, Soemitro menilai rendahnya minat petani menanam tebu menjadi faktor utama produksi gula nasional belum optimal. Penyebabnya, harga gula dinilai tidak memberikan insentif yang cukup.

"Bercocok tanam atau menanam tebu itu masih kurang menarik. Karena harga gulanya dibatasi-batasi," ungkapnya.

Ia menjelaskan, secara ideal harga gula seharusnya berada di kisaran 1,5 kali dari harga beras agar menarik bagi petani. Namun kenyataannya, harga dibatasi sementara biaya produksi terus meningkat.

"Gula itu sekarang biaya pokok produksinya sudah Rp15.000 lebih. Sehingga harganya itu minimal kita habis hampir pada angka Rp16.875," jelas dia.

Dengan kondisi tersebut, margin petani menjadi sangat tipis. Akibatnya, petani cenderung beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan.

"Kalau dibandingkan menanam padi, masih menguntungkan menanam padi. Jadi jangan dibatasi harga gula," katanya.

Ia pun meminta pemerintah mencabut batas harga atas dalam Harga Acuan Penjualan (HAP) gula, dan menyerahkan harga pada mekanisme pasar.

"Biarlah pasar yang menentukan harga. Jangan kita ini dipatok-patokin. Orang kita biaya pokok produksinya udah segitu, tapi di harga jual di atasnya dibatasi," tegas Soemitro.

2. Gula Impor Lebih Kompetitif

Sedangkan, ketergantungan pada impor juga dipicu oleh ketimpangan biaya produksi antara Indonesia dan negara lain. Soemitro menyebut negara lain sudah menggunakan mekanisasi dan memiliki lahan luas, sehingga biaya jauh lebih efisien.

"Jauh lebih murah karena di sana semuanya pakai mekanisasi. Kebun-kebun mereka luas-luas. Kita manual, pakai tenaga manusia, dan hamparannya kecil-kecil," ujarnya.

Ia bahkan membandingkan skala lahan petani tebu di Indonesia dengan luar negeri. "Petani tebu di sini 200 hektare saja sudah dianggap besar. Di sana 2.000 hektare," kata dia.

3. Produksi Tertahan Masalah Manajemen dan Kebijakan

Selain faktor petani, Soemitro juga menyoroti persoalan manajemen dan kebijakan, termasuk di BUMN sektor gula.

"Taruhlah sekarang misalnya PT SGN (Sinergi Gula Nusantara) rugi Rp680 miliar. Kenapa? Karena gula impor? Ya enggak lah. Ya karena nggak bisa, manajemennya nggak bisa kerja," tukas Soemitro.

Ia menilai pembenahan manajemen, regulasi, dan kebijakan menjadi kunci untuk meningkatkan produksi nasional.

"Yang harus dibenahi kebijakannya, dan regulasinya," sambung dia.

Dengan berbagai persoalan tersebut, Soemitro menilai target swasembada gula harus dilihat secara realistis. Ia menegaskan, swasembada bukan sekadar soal angka produksi, tetapi juga kemampuan menyerap hasil produksi dalam negeri.

"Swasembada itu benar-benar dipenuhi dari produksi dalam negeri. Jangan asal-asal ngomong swasembada," ucapnya.

Ia mencontohkan, meski produksi gula konsumsi nasional katakanlah sudah mendekati kebutuhan, namun gula lokal tetap bisa tidak terserap jika pasar dibanjiri oleh produk dari luar.

"Kita belum swasembada, tapi gula kita sudah tidak laku. Gimana ini? Kan berarti ada gula lain yang masuk ke kita," kata Soemitro.

Menurutnya, sebelum berbicara target swasembada, pemerintah perlu membenahi data, kebijakan impor, hingga perlindungan pasar domestik.

"Masalahnya diurai. Jangan mengira-ngira. Ajak kita petani bicara," ujarnya.

4. Petani Butuh Konsistensi

Meski demikian, Soemitro optimistis Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor gula jika pembenahan dilakukan secara konsisten.

"Bisa (lepas impor dan swasembada gula). Bahkan saya jamin bisa itu di tahun 2030. Tapi tahapannya harus sudah kelihatan dari sekarang," kata dia.

Ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan, kemudahan akses pembiayaan, serta keberpihakan pada petani.

"Permudah lah (petani)," pungkasnya.

Dengan perbaikan tersebut, ia meyakini produksi tebu dan gula nasional bisa meningkat dan pada akhirnya mengurangi ketergantungan terhadap impor.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |