Jakarta -
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI kembali menegaskan komitmennya dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap isu strategis kawasan perbatasan melalui penyelenggaraan kuliah umum interaktif BNPP MENYALA (Menyapa Langsung Praja dan Mahasiswa) di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Sulawesi Utara, Selasa (9/6).
Membuka kegiatan, Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan BNPP RI, Irjen Pol. Edfrie R Maith, menyampaikan arahan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memahami perbatasan tidak hanya sebagai materi akademik, tetapi juga sebagai ruang pengabdian nyata bagi bangsa.
"Saya berharap para praja dan mahasiswa memiliki kepedulian serta komitmen untuk turut berkontribusi dalam pembangunan kawasan perbatasan dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Irjen Pol. Maith membacakan arahan Mendagri dalam keterangan tertulis, Selasa (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menambahkan bahwa BNPP MENYALA merupakan gagasan langsung Menteri Dalam Negeri, berangkat dari kebutuhan untuk memperkenalkan peran dan fungsi BNPP RI secara lebih luas kepada masyarakat, khususnya di kawasan perbatasan. Menurutnya, penguatan literasi publik mengenai perbatasan menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan wilayah negara.
Sementara itu, Plt. Kepala Biro Keuangan, Umum, dan Humas BNPP RI Belly Isnaeni menjelaskan bahwa BNPP MENYALA merupakan bagian dari strategi komunikasi publik BNPP RI. Program ini dirancang untuk menjadikan isu perbatasan lebih dekat dan relevan bagi generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa.
Ia menegaskan bahwa perbatasan bukan sekadar garis di peta, melainkan simbol kedaulatan dan martabat bangsa. "Perbatasan adalah ruang hidup bersama yang mencerminkan kehadiran negara, kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan bagi rakyat," tuturnya.
Pandangan strategis turut disampaikan Kelompok Ahli BNPP RI, Robert Simbolon, yang mengajak praja dan mahasiswa melihat perbatasan sebagai sebuah entitas utuh. Ia menekankan bahwa perbatasan membentuk sistem sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang saling terkait.
Menurutnya, perbatasan memiliki fungsi formal dan substansial, baik ke dalam sebagai pengaturan administrasi dan hukum nasional, maupun ke luar sebagai penanda awal hubungan internasional.
Tantangan pengelolaan perbatasan Indonesia, lanjut Robert, semakin kompleks karena karakter wilayah Indonesia yang 75 persen berupa perairan dan sangat terbuka terhadap mobilitas lintas negara.
Sementara itu, Kepala Bidang Koordinasi Pelaksanaan Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Sri Ratna Pasiak menyoroti peran strategis pemerintah daerah, khususnya di Provinsi Sulawesi Utara. Ia menjelaskan bahwa perbatasan merupakan wajah negara yang menunjukkan sejauh mana negara hadir bagi masyarakatnya.
Sri Ratna juga memaparkan potensi unggulan kawasan perbatasan Sulawesi Utara, mulai dari komoditas pertanian seperti pala, kelapa, dan cengkeh, hingga potensi kelautan dan perikanan yang memiliki peluang besar untuk mendorong perdagangan nasional dan ekspor.
Dari perspektif akademik, Koordinator Program S3 Doktor Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Manado, Goinpeace H. Tumbel, mengungkapkan bahwa kawasan perbatasan masih dihadapkan pada persoalan mendasar, seperti keterbatasan akses dan mutu pendidikan, infrastruktur dasar, serta risiko krisis identitas dan nasionalisme.
Ia menekankan bahwa bela negara tidak hanya dimaknai melalui pendidikan militer, tetapi juga melalui penguasaan kompetensi, soft skill, dan hard skill yang mumpuni agar generasi muda mampu berpartisipasi secara inklusif dalam pembangunan bangsa.
Melalui BNPP MENYALA, BNPP RI berharap generasi muda tidak hanya memahami kompleksitas pengelolaan perbatasan, tetapi juga tumbuh sebagai agen perubahan yang memiliki kepedulian, kapasitas, dan komitmen kebangsaan.
Forum ini menjadi bukti nyata kehadiran BNPP RI dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap berkontribusi menjaga kedaulatan sekaligus mendorong kawasan perbatasan Indonesia menjadi wilayah yang maju, sejahtera, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai informasi, kegiatan ini menjadi edisi ketiga BNPP MENYALA yang mengangkat tema 'Peran Strategis Generasi Muda dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045'.
Sebelumnya, BNPP MENYALA I dilaksanakan di IPDN Kampus Kalimantan Barat dan BNPP MENYALA II di Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan RI Belu, Nusa Tenggara Timur. Melalui forum ini, BNPP RI menghadirkan ruang dialog lintas pemangku kepentingan yang membahas tantangan, peluang, dan masa depan kawasan perbatasan Indonesia.
Tonton juga video "BNPP Sebut Ada 3 Desa di Nunukan Sebagian Masuk Malaysia"
(akd/ega)


















































