Bank Mandiri Proyeksi Dolar Rp17.135, Dibayangi Perang Timur Tengah

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) memproyeksikan nilai tukar rupiah akan berada di level Rp17.135. Office of Economist Group Bank Mandiri menilai tekanan rupiah serta pasar keuangan RI saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor global, terutama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Seperti bagaimana pekan lalu pasar sempat positif karena ada harapan situasi AS-Iran membaik, tetapi pekan ini sentiment sudah kembali negatif. Sebab penutupan Selat Hormuz menjadi fokus utama pasar yang bila terganggu bisa menimbulkan disrupsi terhadap harga minyak.

Karena ketidakpastian tinggi, investor asing banyak menarik dana (capital outflow) dari negara berkembang termasuk Indonesia. Dana keluar dari pasar saham dan obligasi RI membuat rupiah tertekan.

Bahkan, menurut Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri Diah Ayu Yustina, sejak pandemi arus modal asing belum benar-benar kembali penuh ke Indonesia karena dunia terus dihantam berbagai risiko global dan geopolitik.

"Kita melihat capital outflow dari pasar saham dan obligasi ini secara tahunannya memang cukup besar. Sejak pandemi kita masih mengalami capital outflow dan belum fully kembali ke pasar domestik karena memang serangkaian event, terutama terkait global geopolitik itu terus terjadi. Nah ini yang memang jadi risiko utama saat ini," terang Diah dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ia kemudian menyinggung CDS (Credit Default Swap), yaitu indikator risiko suatu negara gagal bayar utang. Kalau CDS naik, artinya investor melihat risiko negara berkembang makin tinggi. Awal 2026 sempat naik, lalu turun lagi, tapi masih fluktuatif karena pasar belum tenang.

"Memang masih cukup volatile karena memang ini sebenarnya pasar keuangan secara emerging market secara global ini terpengaruh oleh sentimen perang AS dan Iran begitu juga dampaknya ke currency," ujar Diah.

Dampak perang AS-Iran tidak cuma terasa di Indonesia, tapi juga ke mata uang emerging market secara global. Banyak mata uang negara berkembang melemah, namun pergerakannya campuran atau mixed.

Diah menyebut Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia menguat, sementara seperti Yen Jepang dan Yuan China justru melemah.

Ia kembali menekankan bahwa sentimen di global ini sangat berpengaruh menggerakkan pasar keuangan RI.

Meski demikian, Diah menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 yang mampu tumbuh 5,6%.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |