Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat menjadi sorotan saat merilis iklan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam format animasi berbasis teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada awal 2025 lalu. Netizen mempertanyakan alasan pemerintah lebih memilih teknologi AI ketimbang berkolaborasi dengan studio animasi profesional.
Ada dugaan penghematan anggaran, sebab teknologi AI bisa memangkas waktu produksi dan mereduksi sumber daya manusia yang terlibat. Pemanfaatan AI juga terkesan lebih 'kekinian' karena relatif baru dan digadang-gadang sebagai teknologi masa depan.
Kala itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, tidak memberikan penjelasan secara perinci. "Itu kan bagian dari kreativitas. Saya kira tidak ada salahnya menggunakan AI," ujar Nezar, pada Februari 2025.
Setahun berselang, konten animasi AI makin sering ditemui di internet, baik dalam bentuk amatir (AI slop), maupun konten-konten lebih serius seperti iklan pemerintah, iklan swasta, hingga film layar lebar sci-fi 'Pelangi di Mars' yang tayang di bioskop pada Maret 2026.
Pembuatan animasi yang dulunya cuma bisa dilakukan tim animator profesional dengan kemampuan teknis spesifik, membutuhkan biaya besar dan waktu panjang; kini bisa digarap secara instan dan murah bermodalkan 'prompting' di platform-platform semacam Midjourney, Google Veo 3, Runway, dan Kling.
Lecturer Specialist di DKV Binus University, Dermawan Syamsuddin, menilai fenomena ini merupakan bentuk demokratisasi industri animasi yang selama ini eksklusif menjadi inklusif. Terkait peluang dan ancamannya, Syamsuddin menyebut ada dua pemikiran yang saling bertolak belakang, tetapi sama-sama valid: ideologis dan bisnis.
"Dari segi ideologis, AI dianggap mengancam [industri animasi] karena pembuatan animasi seharusnya merujuk ke pakem-pakem yang selama ini digunakan. Dari segi bisnis, apa pun yang menguntungkan itu yang dipilih. Mengharamkan AI jadinya tidak relevan," kata Dermawan kepada CNBC Indonesia.
Sebagai catatan, Dermawan juga menjabat sebagai Deputi Edukasi di Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI). Ia menegaskan AINAKI secara organisasi belum menentukan arah terkait penggunaan AI dalam industri animasi. Pernyataan yang ia lontarkan merupakan opini pribadi.
Dalam artikel ini, CNBC Indonesia mewawancarai beberapa pemilik studio animasi di Indonesia -baik yang sudah mengadopsi AI, maupun yang masih mempertahankan pembuatan animasi dengan metode sepenuhnya manual-, untuk melihat bagaimana dampak penerapan teknologi AI ke industri animasi Tanah Air, dari segi bisnis hingga tenaga kerja.
Apakah demokratisasi industri animasi berkat teknologi AI mengancam eksistensi animator, atau justru menciptakan pertumbuhan yang lebih positif? Simak selengkapnya!
Addsource on Google

















































