Jakarta -
Aiptu Ahmad Syamsul berjuang untuk menghadirkan air bersih bagi warga di wilayahnya di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Upayanya membantu warga itu bahkan membuatnya harus merogoh kocek pribadi hingga meminjam kredit ke bank.
Aiptu Syamsul yang kini bertugas sebagai Kapolsub Sektor Tongkuno Selatan diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Dia dikenal sebagai polisi yang berdedikasi membantu masyarakat.
Salah satu warga yang menceritakan pengabdian Aiptu Syamsul adalah seorang mantan kepala desa bernama Muhamad Natsir. Natsir yang juga pensiunan militer itu mengenal Aiptu Syamsul sejak bertugas di Bone sampai akhirnya pindah ke Muna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak itu saya berkenalan sampai sama-sama pindah di Sulawesi Tenggara, di Kabupaten Muna khususnya. Kemudian beliau, saat ini yang saya tahu dia lagi bertugas di Polsek Tongkuno dan punya karya, kalau saya tidak salah itu pernah dia bikin sumur bor," kata Natsir kepada detikcom, Kamis (5/3/2026).
Natsir menjelaskan upaya Aiptu Syamsul membangun sumur bor itu lantaran warga kesulitan mendapatkan air bersih. Warga disebut harus menempuh jalan terjal untuk mengambil air.
"Yang jelas air itu sekarang sudah digunakan dan alhamdulillah masyarakat di situ cukup senang karena mereka sudah tidak beli lagi air," ujar Natsir.
Natsir mengenal Aiptu Syamsul sebagai sosok polisi yang ramah dan bersahaja. Aiptu Syamsul juga dikenal sebagai polisi yang aktif dalam kegiatan masyarakat.
"Jadi belum ada, istilahnya belum ada cacat selama yang saya kenal dia," kata dia.
Selain itu, kata Natsir, dedikasi yang dilakukan Aiptu Syamsul juga mempunyai andil dalam meningkatkan citra kepolisian di masyarakat setempat. Sebab, sumur bor yang dibangun Aiptu Syamsul benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.
"Karena dia Polri bisa terangkat nama baiknya untuk tingkat Kecamatan Tongkuno," ujar Natsir.
Kesaksian mengenai dedikasi Aiptu Syamsul membangun sumur bor juga disampaikan Arman selaku pengurus Masjid Nurul Iman. Ia mengatakan masyarakat terbantu dengan adanya sumur bor tersebut karena kini bisa mendapatkan air bersih.
"Sebelumnya kan di masjid itu memang sudah ada sumur, sumur galian-galian biasa tapi biasa kalau musim kemarau karena kalau di daerah kami itu kemaraunya itu lumayan panjang, jadi berdampak juga," kata Arman.
Setelah adanya sumur bor, masyarakat kini tidak lagi kesulitan air, bahkan ketika kemarau melanda. Tak hanya warga di sekitar masjid, pedagang hingga warga yang singgah pun ikut merasakan manfaatnya.
"Alhamdulillah selama ada sumur bor ini, alhamdulillah kami sudah tidak pernah lagi kekurangan," ujar Arman.
Cerita Aiptu Syamsul Bangun Sumur Bor
Aiptu Syamsul sebelumnya juga menjadi kandidat dalam program Hoegeng Corner 2025. Saat itu, ia menceritakan pengalamannya dalam membuat tiga sumur bor di Muna.
Awal pengabdian Syamsul sebagai polisi bermula sejak 1998 di Polda Sulsel. Selama lebih dari 10 tahun bertugas di sana, Syamsul kemudian dimutasikan untuk bertugas di Polda Sultra sejak 2009.
Adapun pengabdiannya yang membuat sumur bor bagi masyarakat dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat di sana yang kesulitan mendapatkan air bersih. Di Desa Oempu, Kecamatan Tongkuno, misalnya, warga harus pergi sampai puluhan kilometer untuk membeli air bersih.
Atas dasar itu, Syamsul berinisiatif untuk membuat sumur bor. Namun usahanya itu sempat tak berjalan mulus dan di luar perkiraan awal.
"Perkiraan kami sebelum menggali 60 sampai 70 meter, ternyata kurang lebih 6 bulan (pekerjaan) kedalamannya kurang lebih 143 meter. Itu karena daerah bebatuan," kata Syamsul, Rabu (15/10/2025).
Bertambahnya kedalaman penggalian juga berdampak pada biaya yang dikeluarkan. Syamsul bahkan harus mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 350-400 juta. Biaya itu dikeluarkan secara bertahap dan berasal dari tabungan hingga pinjaman kredit ke bank.
"Pertimbangan kami gini, saya berhenti sudah habis, jadi mendingan saya lanjut," kata Syamsul.
Setelah dijalankan berbulan-bulan, akhirnya air dari sumur bor itu bisa dimanfaatkan oleh warga. Aksi Syamsul yang menggagas sumur bor itu pun menuai respons positif dari warga.
Selanjutnya, Syamsul juga melakukan penggalian di daerah lain. Namun kali ini penggalian sumur bor itu gagal karena ada alat mesin yang tertanam di lubang.
Pada 2022, Syamsul juga menerima laporan bahwa masyarakat di Masjid Darul Falah, Desa Labasa, yang kesulitan mendapatkan air. Dia kemudian turun tangan untuk membantu warga dengan melakukan penggalian sumur bor di lokasi tersebut.
Penggalian di lokasi ketiga ini relatif berhasil dengan kedalaman kurang lebih 50 meter. Air bisa digunakan oleh warga, terutama ketika musim kemarau melanda.
"Itu (habis) sekitar Rp 30 jutaan," kata Syamsul.
Titik keempat pengeboran sumur ada di Kelurahan Lawama, Kecamatan Tongkuno Selatan, pada 2025. Biaya dan kedalaman pengeboran hampir sama dengan titik yang kedua.
"Itu biaya kurang lebih 30 juta dengan kedalaman kurang lebih 52 meter. Alhamdulillah air berguna bagi masyarakat, artinya saat ini mereka pagi sore banyak yang minta ambil air di masjid," imbuh dia.
Dalam melakukan penggalian sumur ini, Syamsul merekrut tukang bor yang biasa melakukan hal tersebut. Dia menaruh penuh kepercayaan pada tukang untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Ada orang lain, saya bayar," kata Syamsul.
Total ada empat titik pengeboran yang telah dikerjakan Syamsul, dengan tiga di antaranya yang berhasil. Dari upayanya itu, Syamsul menghabiskan uang sekitar Rp 500-600 juta.
"Saya tidak pernah menduga pekerjaan saya seperti ini, terutama masalah air ini," ujar dia.
Namun dia enggan membicarakan mengenai biaya. Sejak 2019, dia mengatakan sebenarnya dirinya tidak pernah mengekspos kegiatan pengeboran itu. Bahkan dia mengaku kerap datang ke lokasi tanpa sepengetahuan warga.
Syamsul menegaskan niatnya hanya untuk membantu masyarakat. Dia tidak pernah berharap imbal balik dari apa yang dilakukannya itu.
"Tidak ada niat saya mau viral karena ini semata-mata buat saya ini sedekah untuk masyarakat apalagi tentang masalah kehidupan," kata Syamsul.
(knv/fas)

















































