Yen-Yuan Jatuh: Rupiah Ambruk di Luar Negeri, Dolar Tembus Rp 17.000

5 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

23 March 2026 09:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (19/3/2026).

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 08.40 WIB, seluruh mata uang Asia yang dipantau bergerak di zona pelemahan terhadap dolar AS.

Pelemahan terdalam dibukukan oleh peso Filipina (PHP) yang turun 0,66% ke level PHP 60,192/US$. Baht Thailand (THB) menyusul dengan depresiasi 0,49% ke posisi THB 32,94/US$, sementara yuan China (CNY) melemah 0,37% ke level CNY 6,9111/US$.

Dolar Taiwan (TWD) juga tercatat turun 0,26% ke posisi TWD 32,098/US$. Di saat yang sama, won Korea Selatan (KRW) melemah 0,20% ke level KRW 1.508,3/US$, sedangkan yen Jepang (JPY) turun 0,09% ke posisi JPY 159,33/US$.

Adapun dong Vietnam (VND) terdepresiasi 0,08% ke level VND 26.308/US$, sementara dolar Singapura (SGD) melemah tipis 0,03% ke posisi SGD 1,2821/US$.

Rupiah pada hari ini masih belum diperdagangkan di pasar spot karena libur pasca Lebaran. Namun, arah pergerakan rupiah tetap bisa dicermati dari pasar non-deliverable forward (NDF).

Berdasarkan data kontrak NDF rupiah Kamis (19/3/2026), tenor jangka pendek menunjukkan rupiah masih berada di level yang relatif lemah. Pada tenor 1 bulan, NDF outright bid tercatat di Rp17.004/US$ dan ask di Rp17.015/US$.

Kehati-hatian tersebut tak lepas dari posisi dolar AS yang secara umum masih bertahan kuat. Indeks dolar AS (DXY) per waktu yang sama masih bergerak di atas level 99,5 seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Perang AS-Israel melawan Iran kini telah memasuki pekan keempat dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka. Di sisi lain, Teheran memperingatkan akan menargetkan aset-aset penting milik AS dan Israel di kawasan apabila fasilitas energinya diserang.

Kondisi ini ikut mendorong harga minyak tetap tinggi, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat. Situasi tersebut juga membuat peluang pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat menjadi semakin kecil.

Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.

Pada pertemuan pekan lalu, The Fed memang kembali menahan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar.

Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan masih terlalu dini untuk menilai dampak penuh konflik Iran terhadap perekonomian. Sikap serupa juga diambil bank sentral utama lain seperti European Central Bank (ECB), Bank of England (BOE), dan Bank of Japan (BOJ), yang sama-sama menahan suku bunga, tetapi tetap memberi sinyal siap memperketat kebijakan apabila tekanan inflasi berlanjut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |