Wall Street Bangkit dan Harga Minyak Adem, Indonesia Siap Lanjut Pesta?

3 hours ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menghijau, rupiah dan saham menguat
  • Wall Street bangkit dan mampu menguat bersamaan 
  • Perkembangan perang hingga data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI bergerak ceria pada hari pertama pembukaan pasar setelah libur panjang lebaran, Rabu (25/3/2026). Bursa saham dan rupiah diharapkan kembali menguat pada hari ini, Kamis (26/3/2026).

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju 2,75% ke posisi 7.302,12 pada Rabu kemarin (25/3/2026). Ini menjadi penguatan paling kencang secara harian selama lebih dari empat minggu dalam zona merah.

Sebanyak 597 saham naik, 164 turun, dan 197 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin mencapai Rp 25,84 triliun, melibatkan 36,33 miliar saham dalam 2,1 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 12.842 triliun.

Adapun mengutip Refinitiv, seluruh sektor berada di zona hijau. Industri, konsumer primer, dan energi menjadi sektor dengan penguatan terbesar.

Hal tersebut seiring dengan saham Astra (ASII) yang naik 13,79% ke level 6.600. ASII pun tercatat menjadi penggerak utama IHSG kemarin dengan bobot 32,76 indeks poin. Kemudian diikuti oleh Telkom (TLKM) yang naik 8,2% dan menyumbang 26,3 indeks poin terhadap IHSG.

Selain itu, saham bank jumbo juga masuk dalam daftar penggerak utama. Bank Mandiri (BMRI) naik 5,07% dan berkontribusi 18,64 indeks poin, sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang naik 1,72% menyumbang 9,43 indeks poin.

Seiring dengan penguatan IHSG, dari pasar nilai tukar juga terpantau mengalami gerakan yang sama.

Merujuk Refinitiv, rupiah bertengger di posisi Rp16.905/US$ sampai penutupan kemarin. Menguat 70 poin dalam sehari atau sekitar 0,41%.

Penguatan rupiah seiring dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) 0,08% ke posisi 99,35 pada kemarin sekitar pukul 15.00 WIB.

Indeks dolar AS masih berada dalam tekanan setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Presiden AS Donald Trump juga menyebut Iran telah menunjukkan isyarat positif dalam negosiasi yang berkaitan dengan arus energi melalui Selat Hormuz.

Di saat yang sama, sejumlah laporan menyebut Washington sedang mendorong gencatan senjata sementara untuk membuka ruang negosiasi dengan Iran. Harapan meredanya konflik ini ikut menekan harga minyak, sehingga memberi sedikit kelegaan bagi pasar yang sebelumnya khawatir lonjakan harga energi akan memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong kenaikan suku bunga

Kondisi tersebut membuat dolar AS melemah dan memberi ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.

Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau stabil di posisi 6,84% sejak penutupan sebelum lebaran.

Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Meski begitu, perlu dipahami bahwa yield obligasi acuan RI ini sudah naik empat minggu beruntun dan sudah dekat 7%, yang artinya tekanan jual masih rawan terjadi.

Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |