Tsunami 100 Meter Hantam Tsunami-2.000 Tewas, BMKG Ingatkan Ini

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah mencatat Indonesia memiliki jejak kelam bencana alam yang maha dahsyat. Jauh sebelum tsunami Aceh 2004, wilayah timur Indonesia, tepatnya di Ambon, Maluku, pernah luluh lantak diterjang gelombang tsunami raksasa setinggi 90-110 meter.

Peristiwa yang terjadi pada 17 Februari 1674 ini kembali menjadi sorotan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pentingnya mitigasi bencana di wilayah tersebut. Pasalnya, sejarah gempa dan tsunami di Indonesia merupakan sebuah siklus yang bisa berulang di masa depan.

Tragedi Megatsunami Ambon

Berdasarkan catatan sejarah dan data dari BMKG, gempa bumi berkekuatan sangat besar mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada abad ke-17. Getaran kuat tersebut kemudian memicu longsoran bawah laut yang menimbulkan gelombang tsunami setinggi ratusan meter.

"Kekuatan gempa juga telah mengakibatkan tsunami yang dahsyat utamanya di pesisir Utara Pulau Ambon," kata Deputi Bidang Geofisika, Nelly Florida Riama dalam Webinar 'Peringatan Tsunami Ambon 1674: Sepenggal Kisah Berharga Zaman Kolonial, Bekal Menuju Ambon Tsunami Ready', beberapa saat lalu.

Ilmuwan Belanda, Georg Eberhard Rumphius (1962-1702) mencatat peristiwa itu berdampak sangat mengerikan. Setidaknya lebih dari 2.000 orang meninggal dan banyak rumah rusak berat. Tsunami juga membuat kerusakan parah di Pesisir Utara Semenanjung Hitu.

Mengingat kondisi tersebut, Direktur Gempabumi dan Tsiunami BMKG Daryono mengatakan Maluku tidak pernah sepi dari fenomena gempa. Banyak sumber gempa yang tercatat berada di wilayah tersebut.

Daryono juga mengingatkan soal mitigasi bencana untuk masyarakat bisa peduli dan siap merespon tanda bahaya alam. Termasuk juga melakukan program-program di Ambon dan sekitarnya.

"Pembangunan kapasitas untuk kesiapsiagaan masyarakat dalam mempertahankan diri harus menjadi program yang berkelanjutan di Ambon dan sekitarnya," jelasnya.

Mengapa Bisa Setinggi 100 Meter?

Para ahli menjelaskan bahwa fenomena ini dikategorikan sebagai megatsunami. Berbeda dengan tsunami biasa yang dipicu oleh patahan lempeng, tsunami di Ambon saat itu diduga kuat diperparah oleh fenomena longsoran tebing bawah laut (submarine landslide) akibat guncangan gempa yang sangat kuat.

Mekanisme ini mampu melipatgandakan energi gelombang menjadi jauh lebih tinggi dan destruktif dalam waktu yang sangat singkat, sehingga warga di pesisir hampir tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |