Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) menindaklanjuti anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda mengatakan, harga telur di sentra produksi sudah jatuh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, sehingga membuat peternak merugi.
"Tujuan rapat pada hari ini adalah dalam rangka menyikapi beberapa hal, khususnya terkait dengan stabilisasi harga telur di tingkat peternak, yang belakangan ini memang harganya ada agak sedikit turun di bawah harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah," kata Agung saat ditemui usai rapat di kantornya, Selasa (12/5/2026).
Ia mengungkapkan, secara rata-rata nasional harga telur ayam saat ini berada di level Rp24.500 per kg di tingkat konsumen. Namun, di sentra produksi seperti di Pulau Jawa, harganya lebih rendah lagi.
"Harganya bervariasi, jadi kalau secara rata-rata nasional harga elit kita itu di angka Rp24.500 (per kg). Namun di sentra produksi utama di Pulau Jawa, harganya lebih rendah lagi, sekitar Rp22.500 per kg," ucapnya.
Padahal, berdasarkan aturan pemerintah, harga acuan telur ayam di tingkat produsen (on farm) ditetapkan sebesar Rp26.500 per kg.
"Oleh karena itu, tadi disepakati juga oleh teman-teman asosiasi, koperasi, dan pelaku usaha, untuk bersama-sama menjaga agar harga ini menuju pada harga acuan di tingkat produsen, sesuai dengan harga yang ditetapkan dalam Peraturan Kepala Bapanas (Perbadan)," terang dia.
Adapun salah satu penyebab harga telur ayam jatuh, kata Agung, karena produksi nasional yang saat ini sedang surplus. Pada 2026, produksi telur diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 6 juta ton.
"Sehingga masih ada surplus kurang lebih secara nasional itu sekitar 800 ribu ton, atau kurang lebih sekitar 13% dari kebutuhan nasional," ujar Agung.
Kendati demikian ia menilai surplus tersebut sebenarnya masih dalam batas aman dan bisa dikendalikan. pemerintah juga terus mendorong ekspor telur untuk menyerap kelebihan produksi.
Menurutnya, persoalan utama justru terjadi karena perang harga antar peternak yang dimanfaatkan oleh tengkulak atau middleman.
"Kadang-kadang ada peternak yang nggak sabaran pengen cepat laku, sehingga terpaksa banting-bantingan harga, dan inilah yang terjadi di lapangan," jelasnya.
Agung menilai, kondisi tersebut membuat harga di tingkat peternak jatuh, sedangkan harga di konsumen masih relatif stabil.
"Karena harga di tingkat konsumennya tidak turun signifikan juga, jadi harga di konsumen masih relatif stabil yang on farmnya. Ini yang tentu harus kita dongkrak mendekati harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah," ujar dia.
Ia juga menyinggung peran middleman yang dinilai memainkan harga di lapangan.
"Kalau ada peternak yang mau jual Rp19.000 (per kg) dan ada yang jual Rp23.000 tentu Rp19.000 (per kg) yang dipilih oleh middleman. Padahal dijualnya di harga konsumennya relatif tidak turun juga," ucapnya.
Foto: Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku usaha peternakan kini menghadapi tekanan ganda akibat lonjakan harga pakan di tengah anjloknya harga jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Untuk itu, pemerintah meminta peternak menjaga kekompakan agar tidak menjual telur di bawah biaya produksi.
"Jangan sampai jual rugi, tentu ini harus kompak bersama, karena isu terkait dengan harga ini sangat dipengaruhi oleh pembeli dan penjualnya sendiri," kata Agung.
Sementara itu, Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pemerintah akan mengeluarkan surat edaran agar harga beli telur di tingkat produsen minimal Rp25.000 per kg.
"Tentu yang dapat memastikan harga, nanti kami akan mengeluarkan edaran, sehingga harga beli telur di tingkat produsen minimal Rp 25.000 (per kg) kesepakatan, ini salah satu cara juga," ujar Ketut dalam kesempatan yang sama.
Ia juga mengakui, pemerintah kini tengah menata rantai distribusi, terutama para middleman yang dinilai berperan besar mengguncang harga di tingkat peternak.
"Middleman ini harus kita tata, selama ini hulu kita tata, hilir kita tata, nah tengah-tengahnya ini juga kita cari datanya," katanya.
Di sisi lain, Ketua Umum Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan menegaskan, harga telur saat ini tidak mencerminkan harga sebenarnya.
"Jadi harga ini, harga yang sekarang ini bukan harga asli. Ada middlemen," kata Herry.
Menurutnya, permainan isu harga di lapangan membuat peternak saling menjual murah.
"Misalkan beli ke Pak Cecep Rp20.000 (per kg), nanti ke saya ngomong, wah di Pak Cecep Rp18.000 kita terpengaruh," ujarnya.
Ia pun menyoroti selisih besar antara harga di kandang dengan harga di konsumen.
"Ini harga nggak wajar. kalian tau tadi harga berapa dibilang? Rp21.000, kalian beli telur berapa? Rp29.000-Rp30.000 per kg, siapa yang menikmati Rp8.000 itu?" kata Herry.
Saat ditanya soal biaya produksi, Herry menyebut saat ini biaya produksi telur sudah mencapai Rp24.000 per kg. Artinya, banyak peternak kini menjual telur di bawah ongkos produksi.
"Biaya produksi sekarang Rp24.000 (per kg)," ungkapnya.
Ketika ditanya apakah peternak rugi, ia langsung menjawab singkat.
"Lah he-eh (iya), makanya saya sampai ke sini kita," pungkasnya.
(wur)
Addsource on Google

















































