NHTSA mengevaluasi layanan tersebut di tengah ambisi Tesla mengembangkan kendaraan otonom.
Patroli polisi berkuda terlihat saat Tesla Cybercab berwarna emas tiba untuk menghadiri sebuah acara di pusat kota Austin, Texas, Amerika Serikat, Kamis (3/9/2026). Tesla mulai menawarkan layanan tumpangan menggunakan robotaxi dua kursi tanpa setir dan pedal tersebut di area terbatas Austin. Peluncuran ini berlangsung saat regulator keselamatan otomotif AS tengah mengevaluasi layanan tersebut. (REUTERS/Kaylee Greenlee)
CEO Tesla Elon Musk menyebut Cybercab sebagai bagian penting dari ambisi perusahaan untuk mendominasi industri kendaraan tanpa pengemudi. Kendaraan ini dirancang khusus untuk beroperasi secara otonom tanpa kendali manual seperti setir maupun pedal. (REUTERS/Kaylee Greenlee)
National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), badan yang menetapkan dan menegakkan aturan keselamatan kendaraan bermotor di AS, kini mengevaluasi langkah Tesla tersebut. Tesla sebelumnya telah menjalankan layanan robotaxi secara terbatas menggunakan armada Model Y otonom, dengan sebagian kendaraan masih diawasi petugas keselamatan manusia. (REUTERS/Kaylee Greenlee)
Tesla memperbarui situs web robotaxi mencantumkan Cybercab sebagai salah satu kendaraan yang digunakan dalam layanan tersebut. Namun, perusahaan belum menjelaskan apakah layanan Cybercab akan dikenakan biaya atau apakah seluruh pengguna aplikasi Tesla di Austin dapat mengakses layanan tersebut. (REUTERS/Kaylee Greenlee)
Tesla pertama kali menguji layanan robotaxi di Austin pada Juni 2025 dan sejak itu memperluas operasinya ke sejumlah kota lain di Texas dan Florida. Layanan tersebut masih banyak beroperasi di wilayah pinggiran dengan kondisi jalan yang relatif lebih mudah dibandingkan pusat kota yang padat. (REUTERS/Kaylee Greenlee)
Kendaraan tanpa pengemudi menjadi bagian penting dari strategi Tesla untuk menopang pertumbuhan perusahaan. Investor dan analis melihat bisnis robotaxi sebagai salah satu kunci masa depan Tesla, yang saat ini memiliki nilai pasar sekitar US$1,4 triliun atau sekitar Rp24,6 kuadriliun. (REUTERS/Mike Blake)














































