Teror di Tengah Keramaian: Sejarah Panjang Serangan di Event Besar AS

11 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 June 2026 15:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Piala Dunia 2026 saat ini tengah berlangsung dan Amerika Serikat (AS). Untuk pertama kalinya, pesta sepak bola terbesar dunia ini digelar di tiga negara sekaligus, yakni AS, Kanada, dan Meksiko.

Bagi AS, status sebagai tuan rumah tentu menjadi kebanggaan besar. Namun, di balik gegap gempita turnamen tersebut, ada perhatian besar terhadap kondisi keamanan.

Apalagi, Piala Dunia bukan hanya menghadirkan pertandingan di dalam stadion, tetapi juga kerumunan besar di luar stadion, transportasi publik, hotel, restoran, hingga titik-titik kumpul suporter.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. AS memiliki catatan panjang serangan kekerasan di ruang publik. Ancaman di negara tersebut tidak hanya datang dari kelompok teroris asing, tetapi juga dari domestik, termasuk ekstremis ideologis, pelaku individu, hingga penembakan massal.

Namun, penting dicatat bahwa tidak semua penembakan massal otomatis dikategorikan sebagai terorisme.

Dalam konteks ini, yang menjadi perhatian adalah serangan atau rencana serangan yang menyasar keramaian besar, termasuk event olahraga dan festival publik, dengan motif ideologi, kebencian, atau keinginan menciptakan ketakutan luas.

Sejarah menunjukkan event olahraga dan keramaian besar di AS memang pernah menjadi sasaran.

Beberapa serangan benar-benar terjadi, sementara beberapa rencana lain berhasil digagalkan sebelum menimbulkan korban.

1. Bom Olimpiade Atlanta 1996

Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada Olimpiade Atlanta 1996. Saat itu, Eric Rudolph meledakkan bom pipa yang disimpan dalam tas ransel di Centennial Olympic Park, Atlanta.

Ledakan tersebut menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 100 orang. Serangan itu terjadi ketika banyak orang berkumpul untuk menikmati suasana Olimpiade, bukan hanya menonton pertandingan di arena saja.

Rudolph dikenal sebagai ekstremis antiaborsi. Serangan ini menjadi salah satu contoh bagaimana ajang olahraga besar bisa dijadikan panggung oleh pelaku kekerasan untuk menyampaikan agenda ideologisnya.

2. Bom Boston Marathon 2013

Kasus lain terjadi pada Boston Marathon 2013. Dua bersaudara, Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev, meledakkan dua bom rakitan di dekat garis finis lomba maraton tersebut.

Serangan itu menewaskan tiga orang dan melukai ratusan orang lainnya. Boston Marathon sendiri merupakan salah satu ajang olahraga tahunan paling terkenal di AS, sehingga serangan tersebut sangat mengguncang publik Amerika dan dunia.

Kasus ini juga memperlihatkan risiko dari pelaku yang teradikalisasi sendiri. Mereka tidak disebut mendapat perintah langsung dari organisasi asing, tetapi terinspirasi oleh propaganda ekstremis.

3. Penembakan Gilroy Garlic Festival 2019

Pada 2019, serangan terjadi di Gilroy Garlic Festival, California. Festival ini bukan ajang olahraga, tetapi memiliki karakter serupa dengan event besar lain, ramai, terbuka, dan dipenuhi pengunjung dari berbagai usia.

Pelaku, Santino Legan, menembaki pengunjung festival menggunakan senjata semiotomatis. Tiga orang tewas dalam serangan tersebut sebelum pelaku ditembak oleh polisi.

Kasus ini masuk dalam perhatian keamanan karena pelaku disebut sempat mengunggah konten bernuansa supremasi kulit putih sebelum serangan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ruang publik yang padat bisa menjadi sasaran empuk bagi pelaku kekerasan ekstrem.

4. Serangan Dodger Stadium 2023

Pada 2023, aparat AS menangkap Tibet Ergul dan Chance Brannon terkait rencana serangan di Dodger Stadium, Los Angeles, saat acara LGBTQ+ Pride Night.

Rencana itu disebut melibatkan bahan peledak yang akan diledakkan dari jarak jauh. Serangan tersebut tidak sampai terjadi karena berhasil digagalkan aparat.

Kasus ini menjadi penting karena sasarannya adalah stadion olahraga besar. Dodger Stadium merupakan salah satu arena bisbol paling terkenal di AS dan kerap menjadi tempat berkumpulnya puluhan ribu orang.

5. Bom Phoenix Pride Festival 2024

Pada 2024, seorang remaja bernama Marvin Jalo ditangkap karena diduga merencanakan serangan terhadap Phoenix Pride Festival di Arizona.

Dia disebut ingin menggunakan bahan peledak dalam serangan tersebut. Aparat setempat menyatakan Jalo telah menghadapi dakwaan terkait terorisme dan konspirasi untuk melakukan terorisme.

Meski targetnya bukan event olahraga, festival seperti ini memiliki kemiripan dengan Piala Dunia dari sisi risiko keamanan. Keduanya sama-sama menarik massa besar, berlangsung di ruang publik, dan bisa menjadi sasaran pelaku yang ingin mencari perhatian luas.

6. Penembakan Konser di State Farm Arena 2024

Masih pada 2024, Mark Adams Prieto ditangkap karena diduga merencanakan penembakan massal di sebuah konser rap di State Farm Arena, Atlanta.

Aparat AS menyebut Prieto memilih lokasi tersebut karena konser itu diperkirakan akan dihadiri banyak warga kulit hitam. Dia juga diduga ingin memicu perang ras melalui serangan tersebut.

Kasus ini kembali menegaskan bahwa arena olahraga dan hiburan besar di AS memiliki risiko keamanan yang tinggi. State Farm Arena sendiri merupakan venue besar yang biasa digunakan untuk pertandingan basket, konser, dan acara publik berskala besar.

Deretan kasus tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap event besar di AS bisa datang dari banyak arah. Motifnya pun cukup beragam. Ada yang terkait ekstremisme agama, antiaborsi, supremasi kulit putih, kebencian terhadap kelompok tertentu, hingga keinginan memicu konflik rasial.

Karena itu, Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi ujian bagi tim-tim peserta di lapangan, tetapi juga ujian besar bagi aparat keamanan AS. Apalagi, turnamen ini menghadirkan jutaan penonton, puluhan negara peserta, dan perhatian global selama lebih dari satu bulan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |