Tanda Kiamat Makin Dekat, Orang-orang Kaya Malah Bilang Begini

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kritik terhadap dampak lingkungan kecerdasan buatan (AI), perusahaan-perusahaan teknologi raksasa justru mengklaim teknologi tersebut akan menjadi solusi perubahan iklim. Namun, laporan terbaru menyebut klaim itu minim bukti ilmiah dan berpotensi menjadi praktik greenwashing.

Laporan yang dipesan sejumlah organisasi lingkungan seperti Beyond Fossil Fuels, Friends of the Earth, dan Stand.earth menganalisis 154 pernyataan perusahaan teknologi, termasuk Google dan Microsoft, yang menyebut AI akan memberikan manfaat iklim bersih.

Hasilnya, sebagian besar klaim merujuk pada AI tradisional yang relatif lebih hemat energi dibandingkan AI generatif, teknologi yang kini memicu ledakan pembangunan data center global. Meski demikian, perusahaan kerap mencampuradukkan keduanya sehingga manfaat dan dampak lingkungannya terlihat sebagai satu paket.

Secara statistik, hanya 26% klaim yang didukung makalah akademik terpublikasi. Sebanyak 36% tidak mencantumkan bukti apa pun, sementara sisanya mengutip publikasi internal perusahaan atau sumber non-peer review.

Salah satu klaim populer menyebut AI dapat membantu mengurangi 5%-10% emisi gas rumah kaca global pada 2030. Peningkatan emisi gas rumah kaca meningkatkan potensi pemanasan global yang berdampak petaka besar terhadap kelangsungan kehidupan di Bumi.

Google mengulang angka tersebut dalam laporan lingkungannya. Namun angka itu berasal dari blog firma konsultan BCG tahun 2021 yang mendasarkan klaim pada pengalaman dengan klien.

"Ekstrapolasi yang meragukan tentang manfaat iklim global yang sangat besar ini, merupakan contoh pertama yang jelas dari tren jangka panjang dalam melebih-lebihkan manfaat iklim AI," tulis laporan tersebut, dikutip dari FastCompany, Kamis (19/2/2026).

Di sisi lain, International Energy Agency memproyeksikan konsumsi energi pusat data akan berlipat ganda pada 2030 akibat AI. Bloomberg New Energy Finance bahkan memperkirakan lonjakan ini bisa meningkatkan emisi sektor listrik global 10% dalam satu dekade.

Contoh lain muncul dalam laporan lingkungan Google 2025 soal panel surya atap berbantuan AI yang diklaim mampu mengurangi 6 juta ton emisi gas rumah kaca. Namun catatan kaki laporan menunjukkan angka tersebut berasal dari total manfaat panel surya, bukan pengurangan tambahan akibat AI.

"Tidak ada bukti bahwa AI akan membantu iklim lebih besar daripada merusaknya. Kita tidak bisa mempertaruhkan iklim pada klaim tanpa dasar ini," tegas Jill McArdle dari Beyond Fossil Fuels.

Laporan itu juga menekankan bahwa AI generatif, yang menjadi pendorong utama ekspansi pusat data, tidak terbukti menghasilkan pengurangan emisi yang signifikan. Namun justru teknologi inilah yang menyedot energi dan air dalam jumlah masif.

"Hype AI dari Big Tech mengalihkan perhatian publik dari ekspansi cepat dan berbahaya pusat data raksasa yang haus energi dan air, sementara kebutuhan energi industri teknologi yang sangat besar memberi napas baru bagi industri bahan bakar fosil," katanya.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |