Mengenal Fenomena Boomcession, Ekonomi Tumbuh Tapi Warga Tertekan

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Amerika Serikat (AS) secara statistik menunjukkan kinerja solid, namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat. Fenomena ini dikenal sebagai boomcession.

Ini adalah istilah yang menggambarkan paradoks antara pertumbuhan ekonomi dan tekanan finansial yang dialami warga. Matt Stoller, direktur riset American Economic Liberties Project, memperkenalkannya untuk menjelaskan situasi ketika ekonomi tampak "booming" di atas kertas tetapi banyak rumah tangga justru merasa tertinggal.

"Secara tradisional, ekonomi berjalan sangat baik. Tetapi orang-orang biasa mengatakan sebaliknya," ujar Stoller, seperti dikutip CNBC International, Kamis (19/2/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, output ekonomi AS dan pasar saham mencetak rekor, sementara konsumsi rumah tangga tetap kuat dan resesi pasca pandemi yang banyak diprediksi tak pernah terjadi. Namun di sisi lain, sentimen konsumen justru memburuk. Banyak warga percaya AS tengah mengalami perlambatan ekonomi, meski data produk domestik bruto (PDB) menunjukkan pertumbuhan.

Kondisi ini mencerminkan putusnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan persepsi publik, sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Kepala ekonom KPMG, Diane Swonk, menyebut fenomena tersebut tidak lazim.

"Saya sudah berkecimpung di bidang ini selama 40 tahun, dan saya belum pernah melihat hal seperti ini," katanya.

Salah satu faktor utama yang mendorong boomcession adalah inflasi yang tidak dirasakan secara merata. Kenaikan harga makanan dan perumahan tercatat paling tinggi sejak 2020, dua komponen yang menyerap porsi terbesar pengeluaran rumah tangga berpenghasilan rendah.

Ekonom Morgan Stanley, Heather Berger, menilai kelompok berpendapatan rendah secara historis memang menghadapi inflasi lebih tinggi, terutama saat laju inflasi berada di atas target 2% Federal Reserve.

Tekanan finansial rumah tangga juga tercermin dari lonjakan utang. Data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan utang kartu kredit mencapai rekor US$1,28 triliun (setara Rp20.480 triliun) pada kuartal IV 2025. Kondisi ini membuat banyak keluarga merasa lebih rentan dibandingkan masa awal pandemi ketika stimulus pemerintah masih mengalir, menurut ekonom senior NerdWallet, Elizabeth Renter.

Dari sisi ketenagakerjaan, pasar kerja AS juga menunjukkan sinyal yang membingungkan. Lowongan pekerjaan menurun ke level terendah sejak 2020, sementara pemutusan hubungan kerja meningkat di sejumlah perusahaan besar seperti Nike, Amazon, dan UPS. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menggambarkan kondisi ini sebagai lingkungan perekrutan rendah dengan tingkat pemutusan kerja yang juga relatif rendah.

Meski produktivitas per jam kerja mencapai rekor tertinggi, hal tersebut justru memicu kekhawatiran baru. Peningkatan produktivitas dinilai sebagian dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan, yang berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Sementara itu, keuntungan pasar saham lebih banyak dinikmati kelompok berpendapatan tinggi yang memiliki aset finansial.

"Jika Anda memiliki aset yang nilainya sangat tinggi, Anda merasa didukung. Tetapi pasar saham yang kuat tidak berarti apa-apa jika Anda tidak memiliki saham," kata Joanne Hsu, direktur Survei Konsumen University of Michigan.

Survei menunjukkan hampir tiga perlima warga AS percaya negaranya tengah berada dalam resesi, meski secara teknis belum memenuhi definisi perlambatan ekonomi. Jajak pendapat Snap Finance terhadap lebih dari 1.400 responden pada Desember lalu menunjukkan tekanan paling besar dirasakan kelompok berpendapatan rendah dan mereka yang memiliki skor kredit di bawah 670.

Renter menyebut fenomena boomcession ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi secara agregat tidak selalu mencerminkan kesejahteraan yang merata, karena pada saat ekonomi dinilai berjalan cukup baik, jutaan warga masih merasakan tekanan finansial.

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |