Soroti Penanganan TBC di Bandar Lampung, Wamendagri Tekankan Kolaborasi

4 hours ago 2

Jakarta -

Kolaborasi lintas sektor dan keterbukaan data menjadi kunci percepatan penanganan tuberkulosis (TBC) di daerah. Selain itu, dukungan kepala daerah, ketersediaan fasilitas layanan kesehatan, serta keterlibatan para kader turut menjadi modal penting dalam mendorong percepatan tersebut.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri RI (Wamendagri) Akhmad Wiyagus saat menghadiri kegiatan Penguatan Komitmen dan Aksi Nyata Penanggulangan Tuberkulosis di Aula Gedung Semergou, Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung.

Menurut Wiyagus, penanganan TBC menjadi perhatian serius pemerintah pusat dengan target penyelesaian dalam waktu tiga tahun. Upaya tersebut terus didorong melalui berbagai kegiatan di daerah sebagai bentuk penguatan komitmen bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bapak Presiden memberikan atensi khusus. Tiga tahun ini harus sudah tuntas," ujar Wiyagus, dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).

Sejalan dengan target tersebut, Wiyagus menekankan pentingnya pendekatan aktif di lapangan, khususnya melalui deteksi dini terhadap masyarakat yang berpotensi terpapar, agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Dalam kesempatan itu, Wiyagus juga menilai Pemkot Bandar Lampung telah menunjukkan kesiapan dalam penanganan TBC. Meski demikian, ia kembali mengingatkan bahwa keterbukaan data merupakan faktor kunci yang tidak dapat diabaikan.

Data yang akurat dan transparan akan memudahkan pemerintah dalam menentukan langkah intervensi yang tepat.

"Tidak usah takut untuk memaparkan data yang sesungguhnya, tidak perlu ada data yang disembunyikan," tegas Wiyagus.

Lebih lanjut, Wiyagus menegaskan penanganan TBC tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah (Pemda) hingga masyarakat.

Wiyagus mendorong agar pendekatan yang dilakukan bersifat proaktif dengan menjangkau langsung masyarakat, bukan sekadar menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

"Kita proaktif, bukan hanya menunggu, ya, di Puskesmas, bukan hanya menunggu di rumah sakit, di sini pentingnya kolaborasi," ujar Wiyagus.

Wiyagus menambahkan persoalan TBC tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas masyarakat dan kualitas sumber daya manusia.

Oleh karena itu, penanganannya menjadi bagian penting dalam mendukung agenda pembangunan nasional, termasuk menuju Indonesia Emas 2045.

Terakhir, Wiyagus mengajak seluruh pihak untuk menghilangkan stigma terhadap TBC di tengah masyarakat. Wiyagus menegaskan bahwa penyakit tersebut dapat diobati dan tidak perlu ditutup-tutupi.

"Tuberkulosis ini bukan aib bagi kita. Ini bisa diobati," pungkasnya.

(akn/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |