Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
25 March 2026 15:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di kawasan Teluk kini sudah memasuki minggu keempat. Setiap hari ketika serangan Iran terhadap kapal-kapal masih membuat Selat Hormuz tertutup, sekitar seperlima produksi minyak dan liquefied natural gas (LNG) dunia tetap tertahan dan tidak bisa mengalir ke pasar global.
Artinya, setiap hari pelaku pasar terus memperbarui hitungan berapa besar pasokan energi dunia yang hilang tahun ini. Semakin besar perkiraan kehilangan pasokan itu, semakin tinggi pula harga energi.
Harga minyak Brent memang sudah melandai di US$99 per barel pada hari ini, Rabu (25/3/2026)pukul 14.57 WB. Harga minyak brent sempat menyentuh US$ 119 per barel pada 19 Maret 2026 atau 76% lebih mahal dibanding sebelum perang pecah. Sementara itu, harga gas di Eropa melonjak 85%.
Alasan harga energi belum naik jauh lebih tinggi adalah karena investor masih berharap arus pasokan akan segera pulih.
Menurut Société Générale dilansir dari The Economist, jumlah taruhan di pasar keuangan yang memperkirakan harga akan turun atau put option masih lebih banyak dibanding taruhan bahwa harga akan naik atau call option untuk pengiriman Juli dan seterusnya.
Dengan kata lain, jika memperhitungkan keterlambatan pengangkutan, investor masih berharap kondisi akan kembali normal pada Mei.
Foto: The Economist
Harga Minyak
menurut hitungan The Economist, jika Iran mematuhi ancaman Donald Trump pada Sabtu (21/3/2026) untuk membuka kembali selat dalam 48 jam atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya, yang tetap merupakan kemungkinan besar yang belum tentu terjadi, pasar minyak dan gas global tetap akan kekurangan pasokan selama berbulan-bulan. Kondisi ini pada akhirnya akan membebani perekonomian dunia.
Pasar Energi Belum Akan Pulih Cepat
Masalah pertama dimulai dari produksi. Karena tidak bisa mengekspor dan menghadapi keterbatasan penyimpanan, negara-negara Teluk sudah memangkas produksi minyak mentah mereka secara gabungan sebesar 10 juta barel per hari.
Angka itu setara dengan 10% produksi global dan 40% dari tingkat produksi mereka sebelum perang.
Foto: The Economist
Produksi Minyak
Untuk memulihkan produksi ke level semula, produsen tidak bisa langsung menyalakan semuanya begitu saja. Mereka harus lebih dulu memastikan semua fasilitas masih berfungsi, membersihkan sumbatan pipa, lalu menyalakan kembali sumur minyak dengan memulihkan tekanan secara perlahan agar reservoir tidak rusak. Setelah itu, fasilitas pemrosesan awal seperti separator, kompresor, dan treatment plant juga perlu dinyalakan kembali. Semua proses ini membutuhkan waktu tambahan.
Memang, sebagai anggota OPEC, negara-negara Teluk terbiasa menaikkan dan menurunkan produksi hanya dalam hitungan hari.
Namun pemangkasan kali ini jauh lebih mendadak dan lebih dalam dibanding yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Para ahli memperkirakan proses ini memerlukan waktu antara dua hingga empat minggu.
Agar pasar energi bisa kembali seimbang setelah Hormuz dibuka, ada tiga hal yang harus terjadi.
Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?
Pertama, produsen Teluk harus mengembalikan produksi ke level sebelum perang. Kedua, kapal-kapal harus mengangkut pasokan itu ke kilang-kilang di luar negeri. Ketiga, kilang-kilang tersebut harus mengolahnya menjadi bahan bakar yang bisa digunakan. Setiap tahap dalam rantai industri ini membutuhkan waktu.
Kondisi pasar gas bahkan terlihat lebih rumit. Ras Laffan di Qatar, yang memasok hampir seperlima LNG dunia, sudah ditutup sejak 2 Maret 2026 setelah terkena serangan drone Iran. Dalam sepekan terakhir, serangan misil merusak dua dari 14 unit pencairan gas di fasilitas itu. Kerusakan tersebut setara dengan 17% kapasitas pabrik dan 3% pasokan global.
Menteri Energi Qatar mengatakan perbaikan akan memakan waktu tiga hingga lima tahun, sementara rencana ekspansi juga akan tertunda. Besarnya kerusakan di lokasi lain masih belum jelas. Namun untuk fasilitas yang kerusakannya lebih ringan sekalipun, kemungkinan tetap dibutuhkan perbaikan selama berminggu-minggu sebelum operasi bisa kembali berjalan.
Namun perbaikan hanyalah tahap awal. Setelah itu, seluruh peralatan harus dibersihkan dari kelembapan agar pipa tidak retak saat kembali didinginkan ke suhu minus 160 derajat Celsius.
Jika proses ini dilakukan terlalu cepat, logam akan menyusut secara tidak merata dan sambungan las bisa pecah. Anne-Sophie Corbeau dari Columbia University memperkirakan seluruh proses ini dapat memakan waktu hingga tujuh minggu.
Tahap berikutnya adalah pengiriman. Jika terjadi gencatan senjata, sebagian besar nakhoda dari sekitar 480 kapal yang saat ini tertahan di Teluk kemungkinan ingin melihat beberapa hari tanpa serangan sebelum mencoba keluar.
Sebagian besar kapal tanker sebenarnya sudah terisi penuh dan Selat Hormuz mampu menampung lalu lintas padat, sehingga antrean bisa diurai dalam waktu sekitar dua minggu. Setelah itu, secara teori kapal-kapal baru bisa masuk untuk mengangkut produksi yang perlahan mulai pulih.
Namun dalam praktiknya, belum tentu banyak kapal yang langsung bersedia masuk selama beberapa minggu ke depan. Iran telah menyerang fasilitas pelabuhan di berbagai wilayah Teluk, termasuk tangki bahan bakar, gudang, dan kapal yang sedang berlabuh. Terminal-terminal utama memang terlihat sebagian besar masih utuh, tetapi ada kemungkinan sebagian kerusakan belum diungkapkan.
Selain itu, kapal yang tenggelam atau infrastruktur yang rusak mungkin harus lebih dulu disingkirkan agar jalur pelayaran aman dilalui. John Ollett dari Argus Media mengatakan perbaikan dermaga atau peralatan bongkar muat biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Masalah lain datang dari asuransi. Sebagian besar asuransi risiko perang di kawasan ini sudah dibatalkan. Perusahaan asuransi yang masih bersedia memberikan perlindungan kini menaikkan premi dari semula 0,2% hingga 0,4% dari nilai kapal menjadi 1% atau lebih. Untuk pelayaran yang paling berisiko, angkanya bisa mencapai 10%.
Siapa pun yang memiliki akses internet dapat mengetahui pemilik atau penyewa kapal, sehingga kapal-kapal yang terkait dengan musuh Iran bisa menjadi sasaran jika ketegangan kembali meningkat. Ellis Morley dari broker asuransi Howden mengatakan perusahaan asuransi juga tidak akan terburu-buru menurunkan premi.
Bahkan jika asuransi kembali tersedia dan terjangkau, para nakhoda dan pemilik kapal pun belum tentu langsung berani berlayar. Meski kelompok Houthi di Yaman secara resmi mengakhiri kampanye dua tahun mereka terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Barat di Laut Merah pada November tahun lalu, jumlah kapal tanker minyak yang masih berani melintas kini hanya setengah dari level 2023.
Untuk kapal tanker LNG, hampir tidak ada yang berani lewat. Alasannya, banyak pihak masih ragu apakah janji Houthi, yang didukung Iran, benar-benar bisa dipercaya.
Foto: The Economist
Biaya Pengiriman
Keterlambatan tambahan juga muncul karena armada kapal tanker dunia kini berada di lokasi yang salah. Ketika perang pecah, kapal-kapal supertanker yang sebelumnya mengangkut minyak mentah Timur Tengah ke Asia beralih mencari muatan di Atlantik.
Saat Hormuz dibuka kembali, banyak dari mereka kemungkinan akan memilih menyelesaikan pelayaran yang sedang berjalan lebih dulu, misalnya mengambil minyak di Amerika lalu mengantarkannya ke China, sebelum kembali ke Teluk.
Menurut Andrew Wilson dari broker BSR, perjalanan pulang-pergi seperti itu biasanya memakan waktu hingga 90 hari.
Bahkan Jika Perang Berhenti, Dampaknya Tetap Panjang
Bahkan ketika minyak mentah dari Teluk akhirnya tiba di kilang-kilang yang jauh, itu pun tidak langsung mengatasi kelangkaan bahan bakar. Sejumlah kilang di China, India, Malaysia, dan Thailand sudah menutup seluruh unit mereka karena kekurangan bahan baku. Secara total, throughput kilang di Asia turun 3 juta barel per hari atau 8%.
Setelah minyak Teluk kembali tersedia, kilang-kilang itu tetap membutuhkan waktu beberapa minggu untuk beroperasi penuh lagi. Menurut Ajay Parmar, mantan insinyur di perusahaan energi Prancis TotalEnergies, penghentian operasi darurat secara khusus bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk dipulihkan.
Sama seperti di lokasi produksi hulu, menghidupkan kembali kilang di hilir berarti harus memeriksa dan membersihkan setiap pipa, memulihkan sistem listrik, uap, air pendingin, dan udara bertekanan, lalu memanaskan unit pemrosesan secara perlahan agar logam tidak retak. Hal yang sama juga berlaku untuk terminal regasifikasi LNG.
Dengan demikian, bahkan jika Donald Trump dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan perang besok, pasar tetap membutuhkan sekitar empat bulan lagi untuk kembali mendekati kondisi normal. Produsen di luar kawasan juga tidak bisa menaikkan produksi cukup cepat untuk menutup kehilangan pasokan yang sudah terjadi.
Akibatnya, produksi minyak global tahun ini diperkirakan akan berkurang sekitar 3% dari target semula. Setiap bulan Ras Laffan tetap tutup, dunia kehilangan sekitar 7 juta ton LNG, atau hampir 2% dari proyeksi pasokan tahunan.
Ditambah lagi, kapasitas penuh fasilitas itu nantinya juga akan lebih rendah dibanding sebelum perang akibat serangan terbaru. Hasil akhirnya, produksi akan tetap 4% di bawah permintaan tahun ini, bahkan jika Qatar mulai memompa sebanyak yang bisa dilakukan mulai hari ini.
Foto: The Economist
Suplai LNG
Dampaknya sangat serius. Stok minyak mentah global, yang diperkirakan menutup Maret di sepertiga terbawah dari kisaran historisnya, akan terus menurun selama beberapa minggu bahkan setelah Hormuz dibuka kembali. Ketika negara-negara dengan cadangan tipis mulai kehabisan stok, kondisi itu bisa memicu aksi beli panik dan lonjakan harga.
Persaingan mendapatkan LNG juga sangat mungkin terjadi. Ashley Sherman dari Vortexa mengatakan kargo terakhir dari Qatar yang berangkat sebelum Hormuz ditutup akan tiba di Asia dan Eropa dalam beberapa hari ke depan. Setelah itu, para pembeli harus mencari pasokan dari tempat lain atau tidak mendapat pasokan sama sekali.
Kondisi ini berisiko mengganggu pengisian kembali cadangan energi untuk musim dingin.
Sampai saat ini, pelaku pasar minyak dan gas masih berharap akan ada keajaiban pada musim semi.
Dunia pun berharap hal yang sama. Namun bahkan jika Trump dan para ayatollah Iran mewujudkan harapan itu, logistik minyak dan gas tidak akan bisa pulih dengan mudah. Pasar energi tetap akan menanggung dampak perang ini hingga jauh ke musim dingin di belahan bumi utara.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































