- Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan SBN menguat sementara Rupiah melemah.
- Wall Street ambruk berjamaah
- Inflasi AS, testimoni Warsh, dan neraca dagang China menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. bursa saham menguat sementara rupiah ditutup melemah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan lebih lega dan siap melanjutkan reli pada hari ini ditopang sentimen positif di pasar domestik walaupun masih banyak pengumuman penting pada hari ini yang patut diwaspadai.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat kencang pada akhir perdagangan kemarin, Senin (13/6/2026). Setelah mengalami volatilitas tinggi sepanjang hari, IHSG tiba-tiba melambung 20 menit sebelum pasar tutup hingga akhirnya parkir di level 6.037,84.
IHSG ditutup naik 113,48 poin atau 1,92%. Sebanyak 377 emiten naik, 250 turun, dan 107 stagnan. Nilai transaksi pada akhir sesi 2 mencapai Rp 12,2 triliun dengan volume 25,10 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,68 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 10.510 triliun.
Pasar juga tercatat menutup perdagangan masih dalam posisi net foreign outflow pada sesi perdagangan kemarin sebesar Rp 437,65 miliar mengindikasikan net foreign outflow year to date sebesar Rp 76,59 triliun.
Mengutip Refinitiv, pada akhir sesi nyaris seluruh sektor berada di zona hijau. Hanya kesehatan yang masih koreksi tipis.
Bahan baku, energi, utilitas, dan finansial memimpin penguatan dengan masing-masing naik 3,74%, 2,58%, 2,39%, dan 1,69%.
Tercatat saham perbankan dan konglomerat kompak mendongkrak IHSG. Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Amman Mineral (AMMN) menjadi pendorong utama dengan bobot 13,88 poin, 11,68 poin, dan 11,37 poin.
Adapun IHSG melompat naik di menit-menit akhir perdagangan setelah Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah harus mengakhiri perdagangan awal pekan ini di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di level Rp18.100/US$ atau melemah 0,30% pada perdagangan Senin (13/7/2026). Posisi tersebut membuat rupiah kembali berada di level terlemah dalam sebulan terakhir.
Sepanjang perdagangan, rupiah sejatinya sudah berada dalam tekanan sejak pagi. Mata uang Garuda dibuka melemah di level Rp18.075/US$, sebelum koreksinya semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp18.100/US$. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah harian di Rp18.140/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,04% ke level 100,985.
Pelemahan rupiah kemarin terutama dipengaruhi oleh tingginya permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat.
Tekanan muncul setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada akhir pekan. Iran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu, sekaligus menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Perkembangan tersebut langsung mengangkat harga minyak pada awal perdagangan Asia. Harga minyak Brent tercatat naik 3,3% ke level US$78,49 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan inflasi global. Inflasi yang kembali meningkat bisa memperbesar peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 7,184% pada Senin (13/7/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 7,221%.
Turunnya nilai imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai membeli obligasi tersebut sehingga harga naik.
source on Google


















































