Saham Konglo Ramai-Ramai Turun "Kasta"

2 hours ago 4

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

09 February 2026 09:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Huru-hara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga trading halt dua kali membuat banyak saham konglomerat hancur lebur, posisi-nya pun tergusur dari jajaran market cap terbesar.

Tekanan paling terasa terjadi pada saham-saham grup Barito. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang sebelumnya menjadi jangkar utama IHSG, tercatat telah turun sekitar 28% sejak akhir Januari 2026.

Koreksi lebih dalam terjadi pada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang ambles lebih dari 25% dalam periode 27 Januari hingga 6 Februari 2026.

Dalam rentang waktu yang sama, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mengalami tekanan signifikan dengan penurunan harga sekitar 26%, bahkan sempat jatuh ke bawah level Rp1.000 per saham.

Sementara itu, koreksi terdalam di kelompok ini relatif terjadi pada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang terkoreksi sekitar 8,77%, meskipun secara relatif masih lebih tahan dibandingkan emiten konglomerasi lainnya.

Di tengah tekanan tersebut, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru menjadi pengecualian. Saham ini masih mampu bertahan di zona positif dengan kenaikan sekitar 3%, menjadikannya salah satu saham konglomerasi dengan pemulihan tercepat pasca volatilitas tinggi IHSG.

Tekanan juga meluas ke grup konglomerasi lainnya. Dari kelompok Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat mengalami koreksi sekitar 26%, dari posisi Rp116.000 per saham pada 27 Januari menjadi Rp85.375 per saham pada 6 Februari 2026.

Sementara itu, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang berafiliasi dengan Low Tuck Kwong juga telah turun sekitar 12,30%. Di sisi lain, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang terafiliasi dengan Aguan tercatat terkoreksi sekitar 20%.

Rangkaian koreksi ini kemudian tercermin jelas pada perubahan bobot saham-saham besar di IHSG, sebagaimana terlihat dalam perbandingan struktur Top 20 saham antara akhir 2025 dan posisi per 6 Februari 2026.

Tekanan pada saham konglomerasi membuat kontribusi market cap mereka terhadap IHSG menyusut, memicu fenomena "turun kasta" pada beberapa saham yang sebelumnya menjadi penopang utama indeks.

Dari tabel di atas terlihat, BREN masih mempertahankan posisinya sebagai kontributor terbesar IHSG. Namun bobotnya mengalami penurunan dari 8,19% di akhir 2025 menjadi 7,47%, mencerminkan tekanan harga pasca reli panjang. Tekanan juga lebih terasa terjadi pada DSSA turun dari 4,91% ke 4,58%.

Fenomena "turun kasta" paling jelas terlihat pada saham-saham yang berada di batas bawah Top 20.

PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan CDIA mengalami penurunan bobot yang cukup signifikan dibandingkan akhir 2025, membuat kontribusinya terhadap IHSG semakin mengecil.

Kalau mau disebut dua saja, ada saham MORA yang turun kasta signifikan dari posisi 12 pada akhir tahun lalu menjadi posisi 19.

Saham CDIA juga turun peringkatnya dari 17 menjadi 20. Kalau harganya turun lagi ke bawah 1000, besar kemungkinan terdepak dari 20 besar.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa koreksi saham-saham konglomerasi telah mengurangi konsentrasi bobot IHSG, membuat struktur indeks menjadi sedikit lebih tersebar dibandingkan akhir 2025.

Namun demikian, IHSG masih sangat bergantung pada segelintir saham berkapitalisasi raksasa. Artinya, selama saham-saham top tier belum kembali menguat, ruang pemulihan IHSG akan cenderung terbatas, meskipun saham lapis kedua mulai bergerak lebih aktif.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |