Jakarta, CNBC Indonesia - Lalat lentera tutul atau spotted lanternfly menyebar cepat di Amerika Serikat dan menjadi ancaman bagi sektor pertanian. Penelitian terbaru mengungkap kehidupan di kota membuat serangga invasif ini berevolusi menjadi lebih tahan terhadap terhadap berbagai tekanan.
"Kota dapat bertindak sebagai inkubator evolusi yang membantu spesies invasif menghadapi tekanan seperti panas dan pestisida, yang kemudian membantu mereka beradaptasi lebih baik di lingkungan baru," kata penulis utama Fallon (Fang) Meng, ahli biologi di New York University, dikutip dari LiveScience, Senin (9/2/2026).
Lalat lentera tutul merupakan serangga pengisap getah tanaman yang berasal dari China. Hama ini kemudian menyebar ke Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat.
Di AS, serangga ini pertama kali ditemukan di Pennsylvania pada 2014 dan kini telah terdeteksi di 19 negara bagian di wilayah timur.
Tanaman inang utamanya adalah pohon ailanthus, yang juga termasuk spesies invasif. Namun, lalat lentera juga menyerang berbagai tanaman bernilai ekonomi, seperti anggur, maple, pohon buah, hingga pohon kayu keras.
Serangga ini dapat melemahkan tanaman dan menghasilkan cairan lengket yang memicu pertumbuhan jamur jelaga. Dampaknya tidak hanya pada tanaman, tetapi juga pada kualitas madu. Lebah yang mengumpulkan cairan manis tersebut menghasilkan madu dengan aroma asap dan rasa akhir yang kuat, meski tetap aman dikonsumsi.
Tak hanya itu, ada juga dampak secara ekonomi yang cukup besar. Studi tahun 2019 memperkirakan, jika tidak dikendalikan, kerugian akibat hama ini di Pennsylvania saja bisa mencapai US$324 juta per tahun.
Penelitian yang dipublikasikan pada 4 Februari di jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences menganalisis genom lalat lentera dari wilayah perkotaan dan pedesaan di Shanghai, serta dari beberapa lokasi di Amerika Serikat.
Hasilnya, peneliti menemukan perbedaan genetik yang jelas antara populasi di kota dan desa di China.
"Meskipun jaraknya hanya 30 kilometer, mereka memiliki diferensiasi populasi yang sangat kuat," kata Meng.
Menurutnya, meski lalat lentera bisa terbang, mereka harus terus makan sehingga tetap berada di dekat pohon inang. Kondisi ini membuat populasi mudah terpisah dan berevolusi secara berbeda.
Populasi lalat lentera di kota Shanghai diketahui berevolusi dengan toleransi genetik terhadap panas serta kemampuan lebih tinggi untuk mendetoksifikasi racun dan pestisida. Gen yang sama kemudian berkembang lebih jauh pada populasi di Amerika Serikat.
Peneliti juga menemukan tiga peristiwa penyempitan genetik, yakni saat urbanisasi cepat Shanghai lebih dari 170 tahun lalu, perpindahan serangga ke Korea Selatan pada 2004, dan saat tiba di Pennsylvania pada 2014 yang diduga menumpang pada barang impor.
Meng menjelaskan, adaptasi di kota-kota China kemungkinan mempersiapkan lalat lentera untuk bertahan di lingkungan panas dan tercemar di negara lain.
"Kita harus mempelajari spesies invasif dan urbanisasi sebagai bagian yang saling terhubung. Dua aspek besar ini terlalu sering dipelajari secara terpisah, padahal efeknya bisa saling memperkuat dengan cara yang sinergis dan mengejutkan," terangnya.
Ahli ekologi University of Delaware, Zach Ladin, mengatakan kemampuan menghadapi berbagai racun kemungkinan membantu penyebaran hama ini di AS.
"Namun, beberapa gen yang mereka temukan yang terkait dengan kemampuan menghadapi paparan bahan kimia beracun benar-benar bisa membantu mereka berpindah inang dan memanfaatkan tanaman lain," jelas Ladin.
Dia menambahkan, informasi genetik tersebut dapat membantu strategi pengendalian. "Dari perspektif pengendalian kimia, sekarang kita memiliki beberapa gen yang bisa menjadi target, yang mungkin penting untuk memastikan kita tidak hanya mendorong resistansi terhadap bahan kimia tertentu," ujarnya.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]


















































