Rupiah Ditutup Melesat 0,48%, Dolar AS Turun ke Rp17.740

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah tampil perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda melanjutkan penguatannya seiring dengan pelemahan dolar di pasar global.

Melansir Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), rupiah terapresiasi 0,48% ke posisi Rp17.740/US$.

Penguatan tersebut memperpanjang kinerja positif rupiah menjadi dua hari perdagangan beruntun. Pada Rabu (19/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,14% ke level Rp17.825/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,08% ke posisi 98,760.

Koreksi tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika DXY ditutup ambruk 0,83%. Indeks dolar pun bergerak di sekitar posisi terendahnya dalam tiga bulan terakhir.

Rupiah memperoleh angin segar dari pelemahan dolar AS setelah pemerintah Negeri Paman Sam mengumumkan langkah untuk meredakan gejolak di pasar obligasi.

Departemen Keuangan AS berencana menggandakan operasi pembelian kembali obligasi berjangka panjang guna menjaga likuiditas pasar.

Kebijakan tersebut muncul setelah aksi jual mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh 5,337%, posisi tertingginya sejak 2007. Setelah pengumuman itu, imbal hasil berangsur turun ke sekitar 5,184%.

Turunnya imbal hasil mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati risalah rapat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang menunjukkan sejumlah pejabat masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi belum kembali menuju target 2%.

Adapun keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% turut memberikan kepastian bagi pasar mengenai arah kebijakan moneter.

Gubernur sementara BI Destry Damayanti menegaskan nilai tukar rupiah ke depan diperkirakan tetap stabil seiring dengan upaya bank sentral mengoptimalkan instrumen moneternya.

"BI menempuh strategi menjaga stabilitas nilai tukar. Ke depan nilai tukar stabil didukung penguatan stabilisasi BI," kata Destry, Rabu (19/8/2026).

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |