Amerika Dalam Bahaya! Utang Menuju Rp 900 Kuadriliun-Segera Bangkrut?

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menghadapi persoalan utang yang semakin mengkhawatirkan. Utang pemerintah federal AS resmi menembus US$40 triliun, mencetak rekor baru dan menjadi peringatan atas semakin beratnya beban fiskal negara tersebut.

Mengacu pada data Departemen Keuangan AS, utang federal mencapai US$40 triliun pada Selasa. Jika menggunakan kurs sekitar Rp17.940 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp717.600 triliun atau Rp 717 kuadriliun.

Angka tersebut menjadi semakin mencolok karena pertumbuhan utang AS berlangsung sangat cepat. Utang bertambah US$1 triliun hanya dalam lima bulan terakhir.

CEO Peter G. Peterson Foundation, Michael Peterson, juga memberi peringatan. Bahwa jika tren tersebut terus berlangsung, utang AS dapat mencapai US$50 triliun (Rp 892 ribu triliun atau 892 kuadriliun) alias hampir Rp 900 kuadriliun hanya dalam enam tahun.

"Jika melihat ke belakang, kita baru mencapai US$20 triliun kurang dari 10 tahun lalu," ujarnya Kamis (20/8/2026).

Mengapa Bahaya?

Persoalan AS bukan hanya besarnya utang, tetapi juga kecepatannya bertambah. Ini "berbahaya" karena pemerintah AS terus mengalami defisit karena pengeluaran lebih besar dibandingkan penerimaan negara.

Dalam 10 bulan pertama tahun fiskal ini saja, defisit anggaran AS telah mencapai US$1,8 triliun. Salah satu faktor yang membuat beban fiskal semakin berat adalah perubahan demografi.

Sekitar 10.000 warga Baby Boomer pensiun setiap hari, sementara masyarakat AS juga hidup lebih lama. Kondisi tersebut meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk program Social Security dan Medicare.

Di sisi lain, berbagai kebijakan pemangkasan pajak dan peningkatan belanja selama beberapa tahun terakhir juga ikut memperbesar utang. Termasuk kebijakan pajak era Presiden Donald Trump serta berbagai paket bantuan ekonomi selama pandemi Covid-19.

Yang mengejutkan, pencapaian utang US$40 triliun terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Congressional Budget Office pada 2023 memperkirakan angka tersebut baru akan tercapai pada 2028.

Tak Hanya Kecepatan Utang Tapi...


Hal ini tak hanya terkait kecepatan utang, masalah lain muncul dari biaya untuk membayar bunga utang. Kombinasi antara utang yang semakin besar dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi membuat pembayaran bunga pemerintah AS melonjak.

Pembayaran bunga diperkirakan menembus US$1 triliun pada tahun fiskal ini. Hal ini menjadi rekor baru.

Dalam lima tahun terakhir, sebenarnya biaya bunga tersebut telah meningkat lebih dari tiga kali lipat. Bahkan, pembayaran bunga kini hampir menyamai pengeluaran pemerintah untuk Medicare dan menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar pemerintah AS setelah Social Security.

"Utang kita menghasilkan lebih banyak utang. Ini menciptakan lingkaran setan," kata analis dari Committee for a Responsible Federal Budget, Marc Goldwein.

Bisa Bikin AS Bangkrut?

Besarnya utang tidak otomatis berarti AS akan bangkrut atau mengalami collapse. Amerika masih memiliki posisi unik karena dolar AS merupakan mata uang utama dunia dan Treasury AS menjadi salah satu aset paling banyak digunakan investor global.

Namun, persoalan tersebut dapat menimbulkan tekanan yang semakin besar apabila tidak dikendalikan. Salah satu dampaknya sudah terlihat di pasar obligasi.

Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun pada Selasa mencapai level tertinggi sejak 2007. Sementara imbal hasil tenor 10 tahun juga berada di dekat level tertinggi pada masa jabatan kedua Trump.

Ketika investor menilai risiko utang pemerintah meningkat, mereka dapat meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi AS. Masalahnya, kenaikan imbal hasil Treasury tidak hanya berdampak kepada pemerintah.

Imbal hasil Treasury 10 tahun menjadi salah satu acuan penting bagi bunga KPR, kredit kendaraan, hingga pinjaman bisnis. Dengan demikian, semakin mahal biaya utang pemerintah, semakin besar pula potensi tekanan terhadap konsumen dan dunia usaha.

Presiden organisasi non partisan Committee for a Responsible Federal Budget, Maya MacGuineas, mengatakan beban utang US$40 triliun pada akhirnya akan terasa hingga ke masyarakat.

"Semakin banyak kita berutang, semakin besar tekanan terhadap inflasi, prioritas anggaran lainnya, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat," ujarnya.

AS Sudah Kehilangan Rating Sempurna

Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS juga telah tercermin dari peringkat kreditnya. Pada 2025, Moody's menurunkan peringkat utang AS, sehingga Amerika kehilangan status sebagai negara dengan rating kredit sempurna terakhir yang masih dimilikinya.

Meski demikian, utang AS masih memiliki peringkat sangat tinggi dan tetap berada di atas sejumlah negara maju seperti Prancis dan Jepang. Persoalan utang juga bukan hanya dialami AS. Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang menghadapi tekanan serupa, dengan imbal hasil obligasi pemerintah berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan utang yang sudah mencapai US$40 triliun dan berpotensi menyentuh US$50 triliun dalam beberapa tahun ke depan, tantangan terbesar AS bukan sekadar apakah negara tersebut bisa membayar utangnya. Tetapi seberapa besar beban utang akan menggerus ruang pemerintah untuk membiayai ekonomi di masa depan.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |