Roti Yahudi Ini Sanggup Menaklukan Dunia

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

06 February 2026 17:50

Jakarta, CNBC Indonesia- Bagel kini memiliki tempat khusus dalam kuliner dunia.

Roti ini berada di rak supermarket, di warkop sarapan bule New York, bahkan punya hari perayaan sendiri di Amerika Serikat setiap 15 Januari. Padahal, sampai 1960, surat kabar besar di New York masih merasa perlu memberi definisi tentang apa itu bagel.

Roti ini datang dari tempat yang jauh, lalu butuh waktu lama untuk dianggap "normal".

Melansir The Economist, catatan tertulis pertama tentang bagel muncul pada 1610 di Krakow. Dewan Yahudi setempat mengatur siapa yang berhak menerima bagel dalam perayaan sunatan bayi laki-laki.

Pada fase ini, bagel berfungsi sebagai makanan komunitas dengan makna sosial mendalam dan peredaran terbatas.

Market size bagelFoto: Fortune
Market size bagel

Ada cerita lain yang menyebut teknik perebusan adonan sebelum dipanggang berkembang di Prusia, terkait pembatasan terhadap pembuat roti non-Kristen.

Terlepas dari variasi cerita, bagel pada periode ini berada di luar sistem pangan arus utama Eropa.

Perubahan struktur konsumsi terjadi saat gelombang imigran Yahudi tiba di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Produksi bagel berpindah dari ruang domestik ke lingkungan urban, terutama di New York.

Dari titik ini, dua gaya utama berkembang. Versi Montreal berukuran lebih kecil, bertekstur padat, direbus dalam air bercampur madu, lalu dipanggang dengan oven kayu.

Versi New York berukuran lebih besar, bertekstur lebih mengembang, dan lebih kompatibel dengan format sandwich. Perbedaan teknik produksi membentuk preferensi pasar yang bertahan hingga sekarang.

Meski hadir di kota besar Amerika, bagel lama berada dalam kategori pangan komunitas. Bahkan pada 1960, surat kabar besar di New York masih merasa perlu menjelaskan apa itu bagel kepada pembaca umum. Persepsi publik saat itu menggambarkan bagel sebagai produk asing, tidak familier, dan terbatas pada lingkungan tertentu. Kondisi ini berubah ketika teknologi produksi pangan memungkinkan standarisasi adonan, pemendekan waktu fermentasi, dan pembekuan massal.

Roti Bagel. (Dok. Freepik)Foto: Roti Bagel. (Dok. Freepik)
Roti Bagel. (Dok. Freepik)

Mekanisasi mengubah posisi bagel dalam rantai pasok pangan.

Produksi skala industri menurunkan biaya, memperluas distribusi, dan membuka akses ke pasar ritel modern. Bagel masuk ke rak supermarket, freezer aisle, hingga menu jaringan makanan cepat saji.

Adonan menjadi lebih basah, tekstur lebih ringan, dan rasa lebih netral. Kelompok tradisionalis mengkritik hasil ini, namun penerimaan pasar menunjukkan daya tahan produk dalam format baru.

Pada tahap ini, bagel mengikuti jalur yang sebelumnya ditempuh hamburger, hot dog, dan pizza. Produk dengan akar etnis tertentu bertransformasi menjadi makanan sehari-hari masyarakat Amerika, lalu bergerak ke pasar internasional. Identitas asal tetap dikenali, namun tidak lagi membatasi konsumen. Dalam konteks ini, bagel berfungsi sebagai produk pangan lintas budaya dengan adaptasi rasa yang luas.

Inovasi rasa mempercepat penetrasi pasar. Varian bawang, bawang putih, pumpernickel, dan garam berkembang ke arah produk berwarna-warni, beraroma dessert, hingga versi berisi daging dan keju.

Strategi ini memperluas segmen konsumen dan menyesuaikan bagel dengan preferensi lokal di berbagai wilayah. Ekspansi rasa berjalan seiring dengan peningkatan volume produksi global.

Kenaikan konsumsi terjadi pada periode ketika wacana pengurangan karbohidrat semakin dominan di ruang publik.

Fakta ini mengindikasikan posisi bagel sebagai makanan praktis, mudah diakses, dan fleksibel dalam konsumsi harian.

Perjalanan bagel menunjukkan bagaimana migrasi dan teknologi produksi dapat mengubah fungsi sebuah makanan. Dengan riwayat panjang di belakangnya jarang disadari, juga tradisi yang beradaptasi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |