RI Dihantam 2 Badai Besar: MSCI Depak 18 Saham dan Inflasi AS Memanas

5 hours ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk berjamaah, bursa saham dan rupiah melemah
  • Wall Street ditutup beragam, saham teknologi berjatuhan
  • Perkembangan perang, rebalancing MSCI dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia lagi-lagi harus babak belur pada perdagangan Selasa. Bursa saham dan rupiah jatuh dalam.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih mendapat tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan pada hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Selasa (12/5/2026) melemah.

Meski sempat bertenaga pada awal pembukaan pasar, yang mana IHSG sempat melaju dengan kuat dan bahkan sempat naik 1%. Akan tetapi pada akhir perdagangan sesi kedua, IHSG berbalik arah dan ambruk ke level6.858,90 atau turun 0,68%.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 931,9 miliar pada perdagangan kemarin.


Sebanyak 463 saham melemah,207 menguat dan151 lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp16,29 triliun yang melibatkan 32,97 miliar saham dalam 2,53 juta kali transaksi.


Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 4,78%, disusul utilitas -2,24% serta teknologi melemah -4,08%.

Dari sisi saham, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi penurunan 24,21 poin indeks. Saham MORA anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) 15% ke level 7.650.

Selanjutnya ada Astra International (ASII) yang menekan indeks7,98 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar7,15 poin, serta PT Barito Renewables EnergyTbk (BREN) sebesar6,64 poin.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru.

Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah intraday di posisi Rp17.525/US$.


Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kemarin meningkat karena kombinasi faktor eksternal dan domestik.

"Tekanan terhadap rupiah hari ini meningkat karena konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian global," ujar Destry, Selasa (12/5/2026).

Dari sisi domestik, Destry mengatakan permintaan dolar AS juga meningkat karena faktor musiman. seperti pembayaran utang luar negeri, pembayaran dividen, serta kebutuhan untuk ibadah haji, turut mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik.

Destry menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 6,737% pada perdagangan Selasa kemarin, tertinggi dalam empat hari terakhir.

Imbal hasil yang naik menandai harga SBN yang tengah turun karena ada aksi jual besar-besaran.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |