"Kiamat" Baru Ancam Bumi, 45 Juta Orang Bisa Kena

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia menghadapi ancaman "kiamat baru" yang tak lagi hanya berasal dari perang dan krisis energi, tetapi juga dari potensi kelaparan massal akibat tersendatnya distribusi pupuk global di Selat Hormuz.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan sebanyak 45 juta orang berisiko mengalami kelaparan dan kekurangan gizi apabila jalur pelayaran strategis tersebut terus diblokade.

Kepala gugus tugas PBB untuk pencegahan krisis kemanusiaan, Jorge Moreira da Silva, mengatakan dunia kini hanya memiliki waktu beberapa minggu untuk mencegah bencana pangan global.

"Dalam beberapa minggu ke depan, kita harus mencegah apa yang kemungkinan menjadi krisis kemanusiaan besar-besaran," kata Moreira da Silva kepada AFP di Paris, dikutip Selasa (12/5/2026).

"Kita mungkin akan menyaksikan krisis yang memaksa 45 juta orang tambahan mengalami kelaparan dan kekurangan gizi," lanjutnya.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital perdagangan dunia, termasuk untuk distribusi pupuk dan bahan baku pertanian. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk global melewati kawasan tersebut.

Namun selama berbulan-bulan terakhir, Iran memperketat akses pelayaran di Selat Hormuz sebagai balasan atas perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu.

Akibatnya, distribusi bahan penting seperti amonia, sulfur, dan urea terganggu. Padahal, komoditas tersebut sangat dibutuhkan petani di berbagai negara untuk mengejar musim tanam. PBB khawatir dampak krisis ini akan paling menghantam negara-negara berkembang di Afrika dan Asia yang sangat bergantung pada impor pupuk.

Sekretaris Jenderal PBB bahkan telah membentuk gugus tugas khusus sejak Maret guna membuka jalur distribusi pupuk melalui Selat Hormuz.

Moreira da Silva juga mengaku telah bertemu lebih dari 100 negara untuk menggalang dukungan internasional. Namun hingga kini, belum ada dukungan penuh dari pihak-pihak utama seperti Amerika Serikat, Iran, maupun negara-negara Teluk yang merupakan produsen pupuk besar dunia.

Menurutnya, sejumlah negara di Afrika bahkan hanya memiliki waktu beberapa minggu sebelum musim tanam berakhir. Jika pupuk gagal tiba tepat waktu, produksi pangan dunia diperkirakan turun drastis dan memicu lonjakan harga pangan global.

Ia juga memperingatkan biaya pupuk kini sudah mengalami "peningkatan besar-besaran", yang dapat memperparah tekanan terhadap sektor pertanian dunia.

PBB memperkirakan mekanisme darurat sebenarnya bisa diaktifkan dalam tujuh hari. Namun meski jalur pelayaran dibuka sekarang, distribusi pupuk diperkirakan baru kembali normal dalam tiga hingga empat bulan.

(sef/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |