Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Martin Berry meninggalkan karir perbankan bergaji jutaan dolar pada akhir 2013 lalu bisa dibilang nekat. Bahkan, bosnya kala itu menganggapnya cukup gila.
Saat itu, Berry masih berusia 30-an dan telah menduduki posisi eksekutif senior dan mengelola neraca keuangan bernilai triliunan dolar. Namun seiring waktu ia merasa tak lagi menemukan kepuasan.
"Saya menyadari setelah bekerja keras cukup lama bahwa saya sebenarnya tidak menyukai sistem korporat. Saya tidak suka kurangnya jiwa kewirausahaan di dalamnya," ujar Berry dikutip dari CNBC Make It, Selasa (16/2/2026).
Kini siapa sangka, Berry menjabat sebagai pendiri dan chairman Gong Cha Global, jaringan waralaba bubble tea internasional terbesar di dunia. Perusahaan ini bermula dari sebuah kedai teh kecil di Taiwan yang didirikan pada 1996 oleh Zhen-hua Wu.
Sebelum Berry bergabung, Gong Cha hanya beroperasi di empat negara Asia. Di bawah kepemimpinannya, merek tersebut bertransformasi menjadi jaringan global dengan lebih dari 2.000 lokasi di 30 negara.
Mengandalkan Diri Sendiri
Berry tumbuh di pedesaan Melbourne, Australia. Sejak kecil, ia sudah memiliki naluri bisnis yang kuat.
Dari bekerja di peternakan, memberi makan sapi, hingga menjual pohon Natal, Berry menemukan berbagai cara untuk menghasilkan uang sejak kecil.
"Saya dilahirkan dengan keinginan bawaan untuk menghasilkan uang. Saya pikir saya sangat termotivasi oleh uang," ujarnya.
Berry menjadi semakin berjiwa wirausaha seiring bertambahnya usia. Pada usia 19 tahun, di saat sebagian besar teman sebayanya fokus pada sekolah dan kehidupan sosial mereka, ia berhasil mendapatkan pekerjaan korporat penuh waktu pertamanya.
Ia bahkan menyelinap masuk ke presentasi rekrutmen universitas yang ditujukan bagi para lulusan. Setelah acara, ia mendekati perwakilan HR dari Hewlett-Packard (HP) dan menawarkan diri bekerja tanpa bayaran.
Hal itu membuahkan hasil, Berry mendapatkan magang musim panas pertamanya di perusahaan tersebut, yang akhirnya berubah menjadi pekerjaan penuh waktu, yang ia jalani bersamaan dengan studi universitasnya.
"Saya berhasil mengatur waktu dengan belajar di malam hari dan akhir pekan untuk menyelesaikan gelar, dan pada saat saya lulus, saya sudah memiliki pengalaman kerja di perusahaan selama kurang lebih tiga tahun," kata Berry.
Pada saat Berry berusia 30-an, ia menempati posisi yang cukup tinggi di kantor-kantor di seluruh dunia termasuk Australia, London, Singapura, dan Korea Selatan. Setelah sekitar dua dekade bekerja di dunia korporat, ia tahu sudah waktunya untuk sesuatu yang lain.
Suatu hari di awal 2011, Berry secara kebetulan menemukan apa yang akan menjadi babak selanjutnya dalam hidupnya. Ia sedang potong rambut di sebuah mal di Singapura ketika ia melihat antrean panjang terbentuk di luar sebuah toko di dekatnya.
Karena penasaran, ia ikut mengantre. Ternyata itu adalah toko Gong cha, yang semakin populer di Asia.
Berry memperhatikan beberapa tanda positif: minuman cepat dibuat, toko-toko kecil dan minim staf, dan bahan-bahan produk yang sederhana menunjukkan margin keuntungan yang tinggi.
"Saya tidak tahu apa-apa tentang boba atau bubble tea, tetapi dari sudut pandang keuangan, produk ini pasti sangat menguntungkan," katanya.
Berry berpikir itu tampak seperti semua bahan yang tepat untuk sebuah bisnis, jadi ia mulai melakukan uji tuntas. Ia membeli sepuluh minuman terlaris mereka hari itu, mencicipinya, lalu menghabiskan beberapa minggu berikutnya mengunjungi berbagai toko untuk mengamati lalu lintas pengunjung. Ia memutuskan ingin bergabung.
Setelah beberapa kali gagal menghubungi kantor pusat Gong cha, ia memutuskan untuk terbang ke Taiwan dan datang langsung ke kantor mereka. Untungnya pendiri aslinya ada di sana. Keduanya menandatangani kesepakatan dan Berry menjadi master franchise perusahaan bubble tea tersebut.
Berry mengaku telah menghabiskan sekitar US$ 2,5 juta dari tabungan hidupnya untuk membawa perusahaan ke pasar kelimanya, Korea Selatan, dan kemudian memimpin ekspansi internasional merek tersebut.
Pada tahun 2024, perusahaan tersebut menghasilkan lebih dari US$ 500 juta dalam penjualan sistem secara keseluruhan, menurut dokumen yang ditinjau oleh CNBC Make It.
(ayh/ayh)
[Gambas:Video CNBC]
















































