Kripto Jadi Alat Pembayaran Perdagangan Manusia, Wilayah Ini Terbesar

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Penggunaan mata uang kripto dalam jaringan perdagangan manusia mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan laporan Chainalysis, pembayaran kripto ke sindikat perdagangan manusia dicurigai melonjak 85% sepanjang 2025.

Perusahaan analitik blockchain berbasis di Amerika Serikat ini mencatat setidaknya ratusan juta transaksi telah terlacak di jaringan blockchain publik. Sebagian besar aktivitas tersebut terkait dengan ekosistem kriminal yang berkembang di Asia Tenggara.

Di mana kompleks penipuan, operasi perjudian online ilegal, dan jaringan pencucian uang berbahasa Mandarin beroperasi secara bersamaan.

Chainalysis mengatakan dalam laporannya bahwa aktivitas kripto oleh para pelaku perdagangan manusia sebagian besar terbagi dalam tiga kategori.

Diantaranya yakni layanan pendamping dan prostitusi internasional, agen penempatan tenaga kerja dan kompleks penipuan, dan penjual materi pelecehan seksual anak (CSAM).

Meskipun data di blockchain menunjukkan sebagian besar layanan terkonsentrasi di Asia Tenggara, namun pelanggan mengirimkan pembayaran dari seluruh Amerika Utara dan Selatan, Eropa, dan Australia, yang menyoroti jangkauan global operasi tersebut.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa penjahat siber semakin mengandalkan platform pesan seperti Telegram untuk mengiklankan layanan mereka, merekrut korban, dan mengkoordinasikan pembayaran.

"Terdapat migrasi yang lebih luas dari forum darknet lama ke aplikasi perpesanan dan ekosistem Telegram semi-terbuka, yang dikombinasikan dengan kripto, memungkinkan jaringan ini berkembang lebih cepat, menjalankan layanan pelanggan dan memindahkan uang secara global dengan gesekan yang jauh lebih sedikit," kata analis intelijen Chainalysis, Tom McLouth, dikutip dari cnbc.com, Senin (16/2/2026).

Meski begitu, Chainalysis menambahkan bahwa transparansi blockchain publik juga memberikan visibilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam aliran keuangan kriminal, yang diandalkan oleh pengawas dan otoritas untuk mengganggu aktivitas tersebut.

"Poin pentingnya adalah bahwa skala keuangan sebenarnya sangat besar, setidaknya ratusan juta USD nilai transaksi kripto, dan kerugian fisik jauh lebih besar daripada angka dolar apa pun," kata McLouth.

Jaringan jasa pendamping dan prostitusi

Aktivitas blockchain menunjukkan bahwa jaringan yang sangat terorganisir berada di balik banyak transaksi.

Meskipun beberapa jasa pendamping dan pekerjaan seks beroperasi secara legal, laporan tersebut mengatakan bahwa potensi operasi perdagangan manusia dapat diidentifikasi melalui perilaku keuangan yang berbeda.

Secara khusus, jaringan yang dicurigai semakin bergantung pada stablecoin dan kelompok pencucian uang berbahasa Mandarin untuk mencairkan dana dengan cepat, kata McLouth.

Jaringan pencucian uang ini beroperasi terutama melalui saluran Telegram berbahasa Mandarin, yang dapat membantu penjahat siber "membersihkan" dana ilegal dengan memindahkannya melalui mata uang kripto. Chainalysis memperkirakan layanan tersebut menyalurkan setidaknya US$ 16,1 miliar dana ilegal pada tahun 2025.

Data menunjukkan bahwa layanan pendamping internasional yang terkait dengan kripto juga menyumbang sebagian besar transfer bernilai tinggi yang dilacak oleh Chainalysis, dengan hampir setengah dari transaksi melebihi US$ 10.000.

(ayh/ayh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |