Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden ke-3 RI B.J. Habibie menghentikan proyek strategis nasional demi memperbaiki ekonomi Indonesia. Ironisnya, proyek yang dihentikan itu merupakan buah perjuangannya sendiri selama puluhan tahun, yakni pesawat N250.
Bagi pria yang lahir tepat hari ini 90 tahun lalu itu, N250 bukan sekadar pesawat. Proyek tersebut merupakan simbol dari cita-citanya menjadikan Indonesia sebagai negara industri berbasis teknologi tinggi melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun tak lama setelah N250 mengudara untuk pertama kalinya pada 10 November 1995, Indonesia justru memasuki salah satu periode ekonomi terburuk dalam sejarah. Nilai tukar rupiah ambruk, banyak bank kolaps, dan keuangan negara berada di bawah tekanan hebat akibat krisis moneter 1997-1998.
Untuk keluar dari krisis tersebut, pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) pada awal 1998. Konsekuensi dari perjanjian itu adalah penghentian dukungan negara atau subsidi terhadap proyek strategis.
Akibatnya, proyek-proyek yang membutuhkan pendanaan besar tidak lagi memperoleh suntikan modal dari pemerintah. Salah satu yang paling terdampak adalah proyek pesawat nasional N250.
Padahal, saat itu N250 tinggal selangkah lagi menuju tahap akhir pengembangan. Pesawat yang sukses menjalani penerbangan perdana pada 1995 tersebut sedang memasuki proses akhir uji terbang untuk memperoleh sertifikasi kelayakan terbang dari Amerika Serikat dan Eropa.
Habibie pun mengaku tidak memahami alasan IMF meminta penghentian dukungan terhadap proyek tersebut.
"Saya tidak dapat mengerti, karena sama sekali tidak beralasan rasional, mengapa IMF pada akhir tahun 1997 menuntut agar pemerintah segera tidak membantu IPTN untuk penyelesaian pesawat turboprop N250 yang canggih dan terbang perdananya pada tanggal 10 Agustus 1995 berhasil," tulis Habibie dalam memoarnya, Detik-Detik yang Menentukan (2006).
Menurut Habibie, N250 memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Pesawat turboprop tersebut diyakini akan semakin kompetitif apabila harga minyak dunia meningkat di atas US$35 per barel karena lebih hemat bahan bakar dibanding pesawat jet pada rute pendek dan menengah.
"N250 direncanakan untuk berperan dan menjadi unggul jikalau harga minyak meningkat di atas 35 dolar AS per barrel dan akan menjadi produk unggul yang dapat kita andalkan," ujarnya.
Habibie juga melihat N250 bukan hanya sebagai alat transportasi, melainkan sarana untuk memperkuat konektivitas sekaligus mendukung pariwisata di negara kepulauan seperti Indonesia.
Namun pada akhirnya, kondisi ekonomi membuat pilihan menjadi sangat terbatas. Demi menyelamatkan perekonomian nasional, Habibie harus merelakan proyek yang menjadi simbol ambisi teknologi Indonesia itu berhenti di tengah jalan.
(mfa)
Addsource on Google

















































