Presiden AS Stres dan Menangis Usai Serangan Militer Gagal Total

2 hours ago 2
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. 

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak semua operasi militer Amerika Serikat (AS) berjalan mulus. Sejarah mencatat satu kegagalan besar yang membuat presiden AS terpukul secara mental dan menangis. Momen itu dialami Presiden John F. Kennedy (1961-1963) saat invasi ke Kuba gagal total pada 1961.

Pada 17 April 1961, AS melancarkan operasi rahasia yang dikenal sebagai Invasi Teluk Babi. Sekitar 1.400 pasukan yang dilatih CIA dikirim ke Teluk Babi, Kuba. Tujuannya memicu pemberontakan rakyat untuk menggulingkan pemimpin Kuba, Fidel Castro, yang berhaluan komunis dan menjadi musuh utama Washington.

Namun, rencana itu runtuh dalam hitungan hari. Begitu mendarat, pasukan invasi langsung dihantam militer Kuba. Alih-alih memicu pemberontakan, operasi ini justru berakhir dengan kekalahan telak. Banyak pasukan tewas atau ditangkap. Misi penggulingan Castro pun gagal total. Peristiwa ini menjadi salah satu noda terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri AS.

Kegagalan tersebut memicu gejolak politik di dalam negeri. Kennedy yang awalnya ingin menunjukkan kebesaran Paman Sam,dihujani kritik keras karena dianggap tidak cakap dalam mengambil keputusan. CIA ikut disorot, sementara dunia internasional menjadikan AS bahan olok-olok.

Dalam buku John F. Kennedy's Presidency (2016), Rebecca Rowell menggambarkan Kennedy langsung terkena tekanan mental tinggi akibat kegagalan tersebut. Kennedy bahkan menyebut masa-masa kegagalan itu sebagai "neraka" dalam masa kepemimpinannya. 

"Saya telah mengalami dua hari penuh neraka dan belum tidur. Ini menjadi periode paling menyiksa dalam hidup saya," kata Kennedy kepada penasihatnya, Clark Clifford.

Sejarawan Arthur M. Schlesinger Jr. dalam A Thousand Days: John F. Kennedy in the White House (1965) juga mencatat kondisi psikologis Kennedy yang terguncang. Dia dihantui bayangan para pejuang di pantai Kuba dengan harapan menjadi pahlawan, tetapi berakhir ditangkap atau dibunuh.

Akibat tekanan mental yang begitu besar, Ibu Negara Jacqueline Kennedy Onassis disebut menjadi saksi langsung rapuhnya kondisi sang presiden. Dia melihat John F. Kennedy menangis di kamar tidur sambil menundukkan kepala ke tangannya sembari terbebani rasa bersalah atas orang-orang yang dia kirim ke pantai Kuba.

"Satu-satunya saat Jacqueline melihatnya menangis adalah dalam momen keputusasaan yang sangat dalam. Air mata memenuhi matanya dan mengalir di pipinya," tulis Arthur M. Schlesinger Jr..

Beberapa hari setelah kegagalan itu, Kennedy akhirnya mengakui kesalahan dan mengambil tanggung jawab penuh atas operasi yang berujung bencana tersebut. Namun, dampaknya sudah terlanjur besar. Kuba justru semakin dekat dengan Uni Soviet dan memperkuat posisi Fidel Castro di panggung global.

Kennedy sendiri mengakhiri masa jabatannya lebih cepat, yakni pada 22 November 1963 karena tewas ditembak. Kini, 63 tahun setelah kegagalan memalukan itu, Presiden AS Donald Trump disebut ingin melakukan serangan militer ke Kuba. 

(mfa/luc)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |