Jakarta, CNBC Indonesia - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menaruh harapan pada peluang perbaikan akses pasar ke Amerika Serikat (AS) seiring adanya pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump di AS saat ini.
Pelaku industri nasional berharap pertemuan tersebut membawa angin segar berupa keringanan tarif resiprokal, agar ekspor tekstil Indonesia kembali kompetitif di pasar Negeri Paman Sam.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menilai, tanpa relaksasi tarif, daya saing ekspor Indonesia akan sulit pulih, terlebih ketika kondisi industri di dalam negeri belum sepenuhnya membaik.
"Tentunya kami berharap AS akan memberikan keringatan tarif agar ekspor kita ke AS bisa kembali bersaing, meskipun hal itu sulit tanpa ada perbaikan di sisi industrinya," kata Redma kepada CNBC Indonesia, Rabu (18/2/2026).
Meski peluang penurunan tarif resiprokal terbuka, jalan menuju realisasi kebijakan tersebut dinilai tidak mulus. Amerika Serikat memberikan syarat penurunan tarif yang semula 32% menjadi 19%, dengan permintaan agar Indonesia meningkatkan impor kapas (cotton) asal AS.
Skema ini menghadirkan persoalan tersendiri bagi industri dalam negeri, mengingat kinerja pabrik pemintalan nasional masih tertahan dengan tingkat pemanfaatan kapasitas yang belum menembus 50%, sehingga ruang untuk menambah serapan bahan baku dinilai sangat sempit.
"AS meminta kita membeli lebih banyak cotton dari mereka, hal ini akan sulit dilaksanakan selama industri pemintalan kita utilisasinya masih di bawah 50%," jelasnya.
Ia memaparkan, sebelum pandemi, total impor kapas Indonesia mencapai sekitar 600 ribu ton, dengan porsi impor dari AS sekitar 300 ribu ton. Namun setelah 2022, volume impor kapas terus menurun.
"Sebelum pandemi, total impor cotton (kapas) kita sekitar 600 ribu ton, impor dari AS 300 ribu ton. Setelah 2022, impor kapas terus turun hingga saat ini di 2025 hanya sekitar 300 ribu ton, dari AS hanya sekitar 70 ribu ton," ungkap dia.
Dengan kondisi tersebut, Redma menilai peluang peningkatan impor kapas dari AS masih sangat terbatas selama utilisasi industri pemintalan belum membaik.
"Jadi selama utilisasi industri pemintalan berada di bawah 50%, kecil kemungkinan impor cotton kita dari AS bisa naik," tegasnya.
Ia menyoroti persoalan membanjirnya produk impor dengan harga dumping, baik kain maupun benang, yang menekan pasar domestik turut menjadi penghambat pemulihan utilisasi industri.
"Utilisasi pemintalan tidak mungkin bisa naik selama barang-barang impor dumping baik kain maupun benang masih membanjiri pasar domestik. Karena kebutuhan utama industri hanyalah pasar dan persaingan yang fair (adil)," kata Redma.
(hoi/hoi)
Addsource on Google

















































