Jakarta -
Seorang pelajar berinisial R (17) membawa bom rakitan yang diledakkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat (Sumbar). R belajar merakit bom secara autodidaktik selama empat bulan untuk membalas bullying yang dialami.
"Berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau autodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak dan itu sudah disampaikannya," ujar Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya saat dihubungi wartawan, Kamis (16/7/2026).
Susmelawati menyampaikan belum ada informasi terkait adanya pihak yang mengajari korban merakit bom. Namun R mengaku bahwa ia belajar autodidaktik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri sendiri," ungkapnya.
Dia mengatakan R belajar merakit bom sejak sekitar empat bulan yang lalu. Dia kerap menjadi korban bullying sejak menginjak kelas II.
"(Belajar merakit) dari bulan Ramadan kemarin, berarti dari April, sampai sekarang. Karena si anak dari duduk kelas II dia sudah di-bully. Sekarang dia sudah kelas III. Sejak pertama duduk di kelas II, dia sudah di-bully sama teman-teman kelasnya," tuturnya.
"Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam sehingga dia dari bulan Ramadan sudah belajar secara autodidak, kemudian melihat internet, melihat instagram itu ia lakukan, itu ia akui sendiri," tambahnya.
Tak Terafiliasi Jaringan Terorisme
Polisi menyebutkan R tidak terafiliasi dengan jaringan terorisme.
"Update dari informasi menunjukkan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan jaringan-jaringan terorisme seperti yang kita bayangkan," ucapnya.
Dia mengatakan saat ini R tengah menjalani rehabilitasi psikologis. Pihak kepolisian berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pemulihan R.
"Jadi, kita juga butuh merehab (pemulihan) supaya merehabilitasi psikologis si anak ini agar tidak terpapar lebih jauh. Saat ini, Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini yang sedang menjadi prioritas utama," tuturnya.
Susmelawati menjelaskan, saat ini pemeriksaan terhadap R masih berjalan. Namun polisi masih berfokus pada pemulihan R.
"Saat ini masalah pemeriksaan sedang berjalan. Masalah penetapan (status) atau apa itu belum ada, karena fokus saat ini adalah pemulihan bagi korban. Pemulihan atau pendampingan psikologis bagi korban menjadi hal yang paling utama," tuturnya.
"Yang kedua juga ada pemulihan untuk anak-anak sekolah. Jadi dari Polsek kemarin sudah dilakukan trauma healing oleh Kapolseknya ke sekolah. Seperti yang disampaikan kemarin oleh pimpinan, anak ini kan masih muda, usianya 17 tahun, dan dia ini terpapar," tambahnya.
Ledakan bom rakitan terjadi pada Selasa (14/7) di MAN 3, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang. Jubir Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka, menjelaskan barang yang diduga merupakan bom rakitan ditemukan oleh petugas keamanan sekolah.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Polisi menyebutkan R kerap menjadi korban bullying oleh teman-temannya.
"Iya betul korban bullying, karena tekanan psikologis sering jadi objek ejekan teman-temannya ya, dia berbuat seperti itu," ujar Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya saat dihubungi wartawan.
(dvp/mea)

















































