Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
22 February 2026 07:00
Jakarta, CNBC Indonesia- Negara-negara produsen kopi utama dunia menghadapi lonjakan hari panas ekstrem dalam lima tahun terakhir. Analisis Climate Central yang dikutip The Guardian mencatat lima negara penghasil 75% pasokan kopi global mengalami rata-rata tambahan 57 hari bersuhu di atas 30°C setiap tahun akibat krisis iklim.
Suhu 30°C menjadi ambang kritis bagi tanaman kopi, terutama varietas arabika. Tanaman ini membutuhkan kombinasi suhu dan curah hujan yang presisi di kawasan "bean belt" antara Tropic of Cancer dan Tropic of Capricorn.
Ketika hari dengan suhu tinggi bertambah, fase pembungaan dan pembentukan buah terganggu. Hasil panen turun, risiko penyakit meningkat.
Data Climate Central menghitung jumlah hari bersuhu di atas 30°C pada periode 2021-2025 di wilayah sentra kopi, lalu membandingkannya dengan skenario tanpa polusi karbon.
Hasilnya, El Salvador mencatat tambahan 99 hari panas ekstrem. Brasil, produsen terbesar dunia dengan kontribusi 37% produksi global, mengalami tambahan 70 hari. Ethiopia yang menyumbang sekitar 6,4% produksi global mencatat tambahan 34 hari .
Tekanan ini merembet ke harga. Bank Dunia mencatat harga arabika dan robusta hampir dua kali lipat sepanjang 2023-2025. Pada Februari 2025, harga kopi menyentuh rekor tertinggi Kenaikan terjadi saat konsumsi global mencapai sekitar 2 miliar cangkir per hari.
Ethiopia memberi gambaran paling jelas soal dampaknya. Lebih dari 4 juta rumah tangga menggantungkan hidup pada kopi. Komoditas ini menyumbang hampir sepertiga pendapatan ekspor negara tersebut
Dejene Dadi dari Oromia Coffee Farmers Cooperatives Union menyampaikan petani sudah merasakan efek panas ekstrem. Arabika Ethiopia sensitif terhadap paparan matahari langsung; tanpa naungan cukup, produksi biji turun dan tanaman rentan penyakit .
Upaya adaptasi berjalan terbatas. Koperasi di Oromia membagikan kompor hemat energi untuk menekan deforestasi di kawasan hutan yang berfungsi sebagai pelindung alami kebun kopi . Namun kebutuhan pendanaan jauh lebih besar. Studi tahun lalu mencatat petani kecil yang memproduksi 60%-80% kopi dunia hanya menerima 0,36% dana adaptasi iklim pada 2021 .
Tanpa dukungan pembiayaan dan kebijakan iklim yang lebih kuat, ruang gerak petani menyempit. Tambahan hari panas berarti risiko gagal panen makin sering muncul.
CNBC Indonesia Research
(emb/luc)


















































