Perang Iran Jadi Bumerang, Gedung Putih Terbelah-Trump Ditarik 3 Kubu

6 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan dan pernyataan publik Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai jalannya perang melawan Iran ternyata tidak muncul begitu saja. Di balik layar Gedung Putih, berbagai faksi penasihat, politisi, hingga tokoh media konservatif saling mempengaruhi arah kebijakan, mulai dari desakan untuk segera mengakhiri operasi militer hingga dorongan untuk terus menekan Teheran.

Sumber yang mengetahui pembahasan internal mengatakan kepada Reuters bahwa perdebatan di lingkaran kekuasaan Washington kini berfokus pada satu pertanyaan penting, yakni kapan dan bagaimana pemerintah AS seharusnya menyatakan kemenangan, di tengah konflik yang justru semakin meluas di Timur Tengah.

Beberapa pejabat dan penasihat memperingatkan Trump bahwa lonjakan harga BBM berpotensi menjadi bumerang politik dari serangan AS dan Israel terhadap Iran. Sementara itu, kelompok yang lebih agresif mendorong presiden agar mempertahankan ofensif terhadap Republik Islam tersebut.

Informasi tersebut diungkapkan oleh seorang penasihat Trump dan sejumlah pihak lain yang dekat dengan proses pengambilan keputusan, memberikan gambaran yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan mengenai dinamika di Gedung Putih saat Washington menyesuaikan pendekatannya terhadap operasi militer terbesar Amerika sejak Iraq War.

Pesan yang Berubah-ubah

Tarik-menarik di balik layar itu menunjukkan besarnya taruhan politik yang dihadapi Trump. Presiden yang kembali menjabat tahun lalu dengan janji menghindari intervensi militer "bodoh" kini telah membawa AS ke dalam perang yang hampir memasuki dua minggu dan mengguncang pasar keuangan global serta perdagangan minyak internasional.

Upaya berbagai pihak untuk mempengaruhi Trump memang bukan hal baru selama masa kepresidenannya. Namun kali ini dampaknya menyangkut perang dan perdamaian di salah satu kawasan paling volatil sekaligus paling penting secara ekonomi di dunia.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump terlihat mengubah penekanan pesan publiknya. Jika pada awal peluncuran perang pada 28 Februari ia menyampaikan tujuan besar, belakangan ia menegaskan bahwa konflik tersebut merupakan kampanye terbatas yang sebagian besar tujuannya telah tercapai.

Namun pesan itu tetap membingungkan banyak pihak, termasuk pasar energi global yang bergerak naik turun mengikuti pernyataan presiden.

Dalam sebuah rapat umum bergaya kampanye di Kentucky pada Rabu, Trump mengatakan, "kita menang" dalam perang tersebut. Namun tak lama kemudian ia mengubah nada bicaranya dengan mengatakan "Kita tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan? Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini."

Kekhawatiran Ekonomi dan Politik

Para penasihat ekonomi dan pejabat pemerintah, termasuk dari Departemen Keuangan serta Dewan Ekonomi Nasional, telah memperingatkan Trump bahwa lonjakan harga minyak dan bensin dapat dengan cepat mengikis dukungan publik domestik terhadap perang.

Hal itu disampaikan oleh sumber yang mengetahui diskusi tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas pertemuan internal.

Penasihat politik, termasuk Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dan wakilnya James Blair, juga menyampaikan argumen serupa. Mereka menyoroti potensi dampak politik dari kenaikan harga bensin dan mendorong Trump untuk mendefinisikan kemenangan secara lebih sempit serta memberi sinyal bahwa operasi militer bersifat terbatas dan hampir selesai.

Di sisi lain, suara-suara yang lebih keras mendesak presiden agar mempertahankan tekanan militer terhadap Iran. Di antara mereka adalah senator Partai Republik Lindsey Graham dan Tom Cotton, serta komentator media konservatif Mark Levin.

Kelompok ini berargumen bahwa AS harus mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan memberikan respons keras terhadap serangan terhadap pasukan AS serta kapal-kapal pelayaran.

Tekanan juga datang dari basis populis Trump sendiri. Tokoh seperti Steve Bannon dan figur televisi sayap kanan Tucker Carlson mendorong presiden agar tidak terseret dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

"Ia membiarkan para garis keras percaya bahwa kampanye militer masih berlanjut, ingin pasar percaya bahwa perang mungkin segera berakhir, dan basis pendukungnya percaya bahwa eskalasi akan tetap terbatas," kata seorang penasihat Trump.

Bantahan Gedung Putih

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menolak karakterisasi bahwa kebijakan presiden dipengaruhi tarik-menarik internal.

"Cerita ini didasarkan pada gosip dan spekulasi dari sumber anonim yang bahkan tidak berada di ruangan saat diskusi dengan Presiden Trump berlangsung," katanya.

"Presiden dikenal sebagai pendengar yang baik dan mencari pendapat dari banyak orang, tetapi pada akhirnya semua orang tahu bahwa dialah pengambil keputusan terakhir dan penyampai pesannya sendiri yang terbaik," tambahnya.

Leavitt juga menegaskan bahwa seluruh tim presiden fokus pada pencapaian tujuan operasi militer yang disebut "Operation Epic Fury".

Mencari Jalan Keluar

Ketika membawa Amerika Serikat ke dalam perang, Trump memberikan penjelasan yang terbatas. Tujuan perang yang disampaikan pemerintah juga berubah-ubah, mulai dari menggagalkan serangan Iran yang disebut segera terjadi, melumpuhkan program nuklirnya, hingga mengganti pemerintah di Teheran.

Kini, ketika berupaya mencari jalan keluar dari konflik yang tidak populer, Trump mencoba menyeimbangkan berbagai narasi yang saling bertentangan. Sejumlah kritikus menilai pendekatan itu justru memperumit situasi yang sudah sulit, sementara Iran tetap menunjukkan perlawanan meski menghadapi serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel.

Penasihat politik senior dan penasihat ekonomi, yang sebelumnya memperingatkan potensi guncangan ekonomi sebelum perang namun sebagian besar diabaikan, disebut memainkan peran besar dalam mendorong Trump untuk menenangkan pasar dan mengendalikan kenaikan harga energi.

Perubahan nada dalam pernyataan publik presiden yang menggambarkan perang sebagai "petualangan jangka pendek", serta keyakinannya bahwa kenaikan harga bensin hanya bersifat sementara, tampaknya ditujukan untuk meredakan kekhawatiran tentang konflik yang berlarut-larut.

Beberapa penasihat juga menyarankan Trump untuk mengarah pada penyelesaian konflik yang dapat ia klaim sebagai kemenangan, setidaknya secara militer. Hal itu bahkan jika sebagian besar kepemimpinan Iran masih bertahan dan sisa-sisa program nuklirnya tetap ada.

Dampak Serangan dan Respons Iran

Adapun gelombang demi gelombang serangan udara Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan sejumlah pemimpin senior Iran di antara sekitar 2.000 korban secara keseluruhan, bahkan hingga wilayah seperti Lebanon.

Serangan tersebut juga menghancurkan sebagian besar arsenal rudal balistik Iran, menenggelamkan banyak kapal angkatan lautnya, serta melemahkan kemampuan Teheran mendukung kelompok bersenjata sekutunya di Timur Tengah.

Namun pencapaian militer tersebut sebagian tergerus oleh serangan balasan Iran terhadap kapal tanker minyak dan fasilitas transportasi di Teluk Persia, yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Trump mengatakan bahwa ia sendiri yang akan memutuskan kapan operasi militer dihentikan. Ia dan para pembantunya juga menyatakan bahwa kemajuan operasi jauh melampaui jadwal awal empat hingga enam minggu yang pernah diumumkan presiden.

Meski demikian, perubahan alasan peluncuran konflik, yang kini telah meluas ke lebih dari setengah lusin negara, membuat masa depan perang semakin sulit diprediksi.

Para analis juga memperkirakan para penguasa Iran tetap akan mengklaim kemenangan hanya dengan bertahan dari gempuran AS dan Israel, terutama setelah menunjukkan kemampuan mereka melakukan serangan balasan yang menimbulkan kerusakan bagi Israel, Amerika, dan sekutunya.

Faktor Selat Hormuz

Salah satu faktor paling menentukan bagi arah akhir perang adalah Selat Hormuz.

Sekitar seperlima pengiriman minyak dunia yang biasanya melintasi jalur sempit itu kini hampir terhenti. Dalam beberapa hari terakhir Iran menyerang kapal tanker di perairan Irak dan kapal lain di dekat selat tersebut.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan bersumpah akan tetap menutup jalur vital tersebut.

Jika penutupan itu mendorong harga bensin di AS melonjak tajam, tekanan politik terhadap Trump untuk mengakhiri operasi militer kemungkinan akan meningkat, terutama menjelang pemilu sela Kongres pada November, ketika Partai Republik berusaha mempertahankan mayoritas tipis mereka.

Belakangan Trump juga tidak lagi secara aktif mendorong gagasan bahwa perang bertujuan menggulingkan pemerintah Iran. Intelijen Amerika menilai kepemimpinan di Teheran tidak berada dalam risiko runtuh dalam waktu dekat.

Perdebatan soal Nuklir Iran

Sejumlah pakar juga menolak klaim sebagian pembantu Trump bahwa Iran hanya beberapa minggu lagi mampu memproduksi senjata nuklir, meski presiden pada Juni bersikeras bahwa pengeboman AS dan Israel telah "dilenyapkan" atau menghancurkan program nuklir negara itu.

Sebagian besar stok uranium yang sangat diperkaya milik Iran diyakini terkubur akibat serangan pada Juni. Artinya, material tersebut secara teori masih dapat diambil kembali dan dimurnikan hingga tingkat yang dapat digunakan untuk bom.

Iran sendiri selama ini selalu membantah berusaha mengembangkan senjata nuklir.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |