Pejabat Israel Bongkar Fakta Pahit: Teror Palestina Picu Horor Baru

2 hours ago 3

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

17 May 2026 19:40

Jakarta, CNBC Indonesia — Konflik di Tepi Barat kembali menjadi sorotan setelah meningkatnya kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.

Mantan diplomat Israel, Nimrod Novik, menilai tindakan tersebut tidak hanya memperburuk kondisi kemanusiaan, tetapi juga berpotensi menciptakan siklus teror baru yang semakin sulit dihentikan.

Melansir dari The Economist, dalam tulisannya, Nimrod Novik menggambarkan bagaimana tekanan, intimidasi, dan kekerasan yang dialami warga Palestina perlahan mendorong sebagian dari mereka menuju radikalisasi. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan Israel sendiri, sekaligus merusak moral dan citra internasional negara itu.

Kisah "Ali", Simbol Perubahan di Tepi Barat

Novik menceritakan pertemuannya dengan seorang pemuda Palestina yang disamarkan dengan nama "Ali" saat melakukan tur di Tepi Barat. Menurutnya, Ali sebelumnya tidak pernah terlibat politik, demonstrasi, maupun organisasi perlawanan Palestina. Fokus hidupnya hanya bekerja dan menghidupi keluarga.

IsraelĀ mengumumkan operasi 'kontraterorisme' baru dalam skala besar di Tubas, utara Tepi Barat yang diduduki, Kamis (27/11/2025). (REUTERS/Mohamad Torokman)Foto: Israel mengumumkan operasi 'kontraterorisme' baru dalam skala besar di Tubas, utara Tepi Barat yang diduduki, Kamis (27/11/2025). (REUTERS/Mohamad Torokman)

Namun situasi berubah setelah seorang pemukim Israel mendirikan pos pemukiman baru hanya beberapa meter dari rumah keluarganya. Kehadiran pemukim tersebut, menurut Novik, menjadi awal dari tekanan yang terus meningkat terhadap keluarga Ali.

Ali lahir 10 bulan setelah kakaknya yang berusia 13 tahun tewas ditembak pasukan Israel. Keluarganya tinggal di lahan warisan turun-temurun dan menggantungkan hidup dari beternak domba.

Meski hidup dalam keterbatasan, keluarga itu sebelumnya tetap bertahan tanpa banyak mengeluh. Namun beberapa bulan terakhir, tekanan dari pemukim Israel disebut membuat kehidupan mereka berubah drastis.

Intimidasi hingga Perampasan Properti

Novik menggambarkan berbagai tindakan yang dialami keluarga Ali, mulai dari gangguan pasokan air dan listrik, pencurian ternak, hingga masuknya kelompok bersenjata ke area rumah mereka pada siang maupun malam hari.

Keluarga tersebut juga disebut mendapat tekanan untuk membongkar bangunan yang dianggap ilegal, meski warga Palestina di wilayah tersebut hampir tidak pernah memperoleh izin pembangunan. Sementara itu, pemukim Israel yang melakukan pelanggaran serupa dinilai jarang mendapat tindakan hukum.

Menurut Novik, keluarga Ali hidup dalam ketakutan karena merasa aparat keamanan Israel justru mendukung keberadaan pemukiman tersebut. Akibatnya, setiap provokasi hanya direspons dengan hati-hati demi menghindari kekerasan maupun penangkapan.

Mantan Pejabat Israel Ungkap Eskalasi Kekerasan Pemukim

Tour yang diikuti Novik dilakukan bersama sejumlah mantan pejabat militer, keamanan, dan diplomatik Israel yang tergabung dalam organisasi Commanders for Israel's Security (CIS).

Kelompok itu berisi lebih dari 550 mantan pejabat senior Israel yang selama ini aktif menyuarakan kekhawatiran terhadap meningkatnya kekerasan pemukim di Tepi Barat.

Menurut Novik, para peserta tur terkejut melihat langsung kondisi di lapangan. Ia menilai realitas kekerasan yang terjadi jauh lebih buruk dibanding gambaran yang selama ini diketahui publik Israel.

CIS sebelumnya telah memperingatkan pemerintah Israel, parlemen, militer, hingga badan keamanan dalam negeri mengenai risiko membiarkan kekerasan pemukim terus berlangsung. Mereka menilai situasi tersebut menciptakan Wild West Bank yang dipenuhi teror, penjarahan, hingga pembunuhan.

Siklus Kekerasan Dinilai Akan Terus Berulang

Ratusan warga Palestina di Tepi Barat telah tewas di tangan pemukim atau tentara Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kekerasan semakin meningkat sejak Israel dan Amerika berperang dengan Iran pada Februari.

Novik mengatakan dirinya tidak tahu kapan tekanan yang dialami Ali akan membuatnya memilih jalan kekerasan. Namun ia menilai kondisi seperti itu berpotensi melahirkan aksi balasan, baik melalui kelompok seperti Hamas maupun tindakan individu.

Ia juga memperingatkan bahwa apabila aksi kekerasan benar-benar terjadi, kelompok pemukim kemungkinan akan menggunakan insiden tersebut untuk membenarkan pandangan bahwa seluruh warga Palestina adalah teroris.

Asap mengepul selama operasi tentara Israel di Jenin, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 2 Februari 2025. (REUTERS/Mohammed Torokman)Foto: Asap mengepul selama operasi tentara Israel di Jenin, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 2 Februari 2025. (REUTERS/Mohammed Torokman)

Menurut Novik, pola seperti itu hanya akan memperpanjang lingkaran kekerasan dan penindasan di kawasan tersebut. Ia menilai tanpa perubahan kebijakan dan penghentian kekerasan pemukim, konflik di Tepi Barat akan terus membesar dan memicu ledakan baru di masa depan.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |