Perang AS-Iran Jadi "Laboratorium" China, Beijing Siap Ambil Untung

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran yang kini memasuki bulan ketiga mulai dipandang bukan hanya sebagai konflik Timur Tengah semata, melainkan juga "laboratorium" militer besar yang diamati secara serius oleh China. Dari serangan drone murah Iran yang mampu menembus pertahanan udara Amerika Serikat hingga penggunaan senjata presisi canggih Washington, konflik tersebut memberi Beijing gambaran nyata tentang bagaimana kemampuan militer AS bekerja di bawah tekanan perang modern.

Para analis di China, Taiwan, hingga negara lain menilai pertempuran di sekitar Teluk Persia dalam dua bulan terakhir dapat memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan konflik di masa depan antara Beijing dan Washington, terutama terkait Taiwan. Namun mereka juga memperingatkan bahwa China berisiko salah membaca kekuatannya sendiri apabila hanya fokus pada keberhasilan teknologi tanpa memahami dinamika perang yang sesungguhnya.

Mengutip analisis CNN Indonesia, konflik Iran juga menyoroti fakta bahwa dalam peperangan modern, lawan selalu memiliki kemampuan beradaptasi yang bisa mengubah jalannya konflik. Pengalaman tempur, ketahanan logistik, hingga kemampuan menghadapi perang berkepanjangan disebut menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kecanggihan senjata.

Fu Qianshao, mantan kolonel Angkatan Udara China, mengatakan salah satu pelajaran terbesar dari perang Iran adalah pentingnya memperkuat pertahanan dalam negeri. Ia menilai Iran berhasil menemukan celah terhadap sistem pertahanan udara AS seperti Patriot maupun Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD).

"Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita guna memastikan kita tetap tak terkalahkan dalam perang di masa depan," kata Fu dilansir Senin (11/5/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) memang berkembang pesat dalam kemampuan ofensif. China menambah rudal hipersonik yang mampu menghindari sistem pencegat dan memperkuat platform peluncurnya.

Angkatan Udara PLA juga mempercepat produksi jet tempur siluman generasi kelima J-20 yang disebut setara dengan F-35 milik AS. Lembaga pemikir Inggris RUSI memperkirakan China nantinya akan memiliki sekitar 1.000 unit J-20 untuk misi serangan presisi jarak jauh.

Selain itu, Beijing juga tengah mengembangkan pembom siluman jarak jauh yang disebut mirip dengan B-2 atau B-21 milik Amerika Serikat.

Namun menurut para analis, kemampuan pertahanan China masih menjadi pertanyaan besar.

Iran, dengan teknologi yang relatif sederhana seperti drone Shahed murah dan rudal balistik berbiaya rendah, disebut mampu menembus sistem pertahanan udara Amerika di Teluk Persia.

Di sisi lain, AS melancarkan kampanye udara menggunakan kombinasi persenjataan canggih seperti F-35 dan B-2 bersama amunisi berpemandu yang lebih murah dari B-1, B-52, dan F-15. Serangan itu menghancurkan berbagai target mulai dari peluncur rudal, kapal perang, hingga jembatan.

Fu menilai kombinasi serangan seperti itu harus menjadi perhatian serius Beijing.

"Kita harus menggali lebih dalam untuk secara efektif melindungi lokasi-lokasi penting kita, lapangan terbang, dan pelabuhan dari serangan dan penggerebekan," ujarnya.

Isu Taiwan juga menjadi sorotan utama dalam pembelajaran perang Iran. Taiwan selama ini dipandang sebagai titik konflik paling potensial antara AS dan China.

Partai Komunis China berulang kali menegaskan tekad untuk melakukan "reunifikasi" dengan Taiwan, meski Beijing tidak pernah menguasai pulau tersebut. Presiden Xi Jinping juga tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer.

Di Taiwan, para analis menilai China kini memiliki kombinasi kemampuan perang presisi berteknologi tinggi ala AS dan perang drone murah dalam jumlah besar seperti Iran.

"Roket jarak jauh dan kawanan drone pasti akan memainkan peran kunci dalam operasi militer gabungan China melawan Taiwan," kata Chieh Chung dari Institute for National Defense and Security Research Taiwan.

Meski demikian, muncul pertanyaan apakah kekuatan tersebut cukup untuk memenangkan perang lintas Selat Taiwan.

China saat ini merupakan produsen drone terbesar di dunia. Para analis menyebut kapasitas produksi sistem senjata nirawak China sangat besar.

Laporan tahun 2025 dari platform analisis War on the Rocks bahkan menyebut produsen sipil China dapat beralih memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun dalam waktu kurang dari setahun.

"Produsen sipil Tiongkok memiliki kapasitas untuk melakukan penyesuaian ulang dalam waktu kurang dari satu tahun untuk menghasilkan satu miliar drone bersenjata setiap tahunnya," demikian isi laporan tersebut.

Beberapa pihak memperingatkan Taiwan belum siap menghadapi serangan drone dalam skala seperti itu.

Laporan terbaru lembaga pengawas pemerintah Taiwan menyebut sistem penangkal drone militer Taiwan saat ini "tak efektif" dan menimbulkan "risiko keamanan besar" terhadap infrastruktur penting dan pangkalan militer.

Meski begitu, Taiwan mulai meningkatkan kesiapan. Direktur pelaksana produsen drone utama Taiwan, Thunder Tiger, Gene Su, menyerukan peningkatan investasi untuk produksi drone massal.

"Kita perlu berproduksi terus-menerus, siang dan malam, untuk melawan musuh-musuh kita," katanya.

Amerika Serikat juga disebut belajar dari perang Iran. Dalam kemungkinan konflik di Pasifik, Washington kemungkinan akan lebih banyak bertahan ketimbang menyerang.

Komandan Indo-Pacific Command AS Laksamana Samuel Paparo sebelumnya mengatakan drone membuat perang jauh lebih mahal bagi pihak penyerang.

Jika konflik Taiwan terjadi, AS atau Taiwan dapat menggunakan drone untuk menyerang kapal dan pesawat China yang membawa ratusan ribu tentara PLA melintasi Selat Taiwan.

Biaya kapal dan pesawat tersebut jauh lebih mahal dibanding drone yang bisa menghancurkannya. Faktor itu disebut menjadi efek penangkal yang juga terlihat dalam perang Iran.

AS, misalnya, sangat berhati-hati mengirim kapal perang ke Selat Hormuz karena khawatir terhadap perang asimetris Iran.

Beijing juga diyakini memperhatikan rencana Paparo yang ingin memenuhi Selat Taiwan dengan ribuan drone di udara, laut, dan bawah laut untuk menghambat pergerakan militer China.

Namun para analis menegaskan satu hal penting, yakni musuh juga terus belajar.

Banyak pengamat masih mempertanyakan mengapa Washington tidak mengantisipasi penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Ada pula yang heran bagaimana pemerintahan Iran tetap bertahan meski mengalami tekanan militer besar.

Craig Singleton dari Foundation for Defense of Democracies mengatakan kemenangan taktis tidak selalu menghasilkan kemenangan politik.

"Kemenangan taktis tidak sama dengan hasil politik," ujarnya. "Tekanan militer... belum sepenuhnya menghasilkan penyelesaian politik yang langgeng."

Menurutnya, pelajaran penting bagi China adalah keberhasilan di medan tempur belum tentu menghasilkan hasil akhir politik yang diinginkan.

"Bagi China, hal itu memperkuat pelajaran inti: keberhasilan di medan perang tidak secara otomatis menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan," lanjut Singleton.

Analis juga menyoroti satu kelemahan utama China, yakni minim pengalaman tempur nyata.

PLA terakhir kali terlibat perang besar saat konflik melawan Vietnam pada 1979. Sebaliknya, militer AS telah memiliki pengalaman panjang di Irak, Afghanistan, Kosovo, hingga Panama.

Analis militer China Song Zongping mengatakan perang Iran menunjukkan gambaran perang modern yang sesungguhnya.

"Inilah (gambaran) peperangan sesungguhnya," katanya.

Jika China berkonflik dengan AS dalam satu dekade ke depan, Washington disebut masih memiliki banyak personel yang terlibat langsung dalam perang Teluk Persia saat ini, baik di lapangan maupun dalam perencanaan operasi.

Mereka telah mengalami kehilangan rekan, kehilangan aset militer, menjalankan perang presisi tingkat tinggi, hingga beradaptasi cepat terhadap perubahan medan tempur.

AS misalnya mengubah strategi dari serangan udara besar menjadi blokade pelabuhan Iran dan memperkuat perlindungan pesawat setelah kehilangan aset penting seperti pesawat radar AWACS.

Para analis mengatakan belum jelas apakah PLA mampu beradaptasi secepat itu jika menghadapi perang besar sesungguhnya.

Drew Thompson dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura mengingatkan pengalaman Perang Korea sebagai contoh penting.

Saat itu China memiliki jet tempur MiG-15 buatan Soviet yang lebih unggul dibanding F-86 milik AS. Namun pilot Amerika yang memiliki pengalaman Perang Dunia II justru tampil lebih efektif.

"Pelajaran yang bisa dipetik adalah 'pilot andal dengan pesawat biasa-biasa saja akan selalu mengalahkan pilot biasa-biasa saja dengan pesawat yang sangat bagus,'" kata Thompson.

Perang Iran juga menunjukkan bahwa konflik modern tidak selalu dapat diselesaikan secara cepat dan rapi seperti operasi penangkapan presiden melalui serangan pasukan khusus.

Menurut Singleton, kemampuan Iran memanfaatkan Selat Hormuz menunjukkan bagaimana konflik lokal dapat dengan cepat berubah menjadi krisis global.

"Kemampuan Iran untuk memanfaatkan titik rawan dan memasukkan risiko ke dalam rantai pasokan global menunjukkan betapa cepatnya konflik lokal dapat menjadi konflik internasional," ujarnya.

"Bagi Beijing, itu adalah peringatan bahwa skenario Taiwan apapun akan segera melibatkan perdagangan global, aliran energi, dan aktor pihak ketiga dengan cara yang sulit dibayangkan."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |