Perang Arab Resmi Melebar! Iran-Houthi Blokade Dua Pintu Arab Saudi

11 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas memproklamasikan bahwa perselisihan bersenjata antara negaranya dan Amerika Serikat (AS) telah memasuki fase baru yang sangat krusial. Pernyataan ini dikeluarkan seiring dengan pengumuman serangan udara balasan dari pasukan AS serta ancaman perluasan konflik di kawasan Teluk.

Mengutip laporan CNA, selasa (21/07/2026), eskalasi militer ini kian memanas setelah sekutu Teheran di Yaman, kelompok pemberontak Houthi, secara resmi mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Langkah radikal Houthi tersebut berisiko melumpuhkan kemampuan Riyadh untuk mengekspor minyak via pelabuhan Yanbu di Laut Merah, akses utama yang selama ini digunakan Arab Saudi untuk memotong jalur blokade Selat Hormuz, sehingga mengancam pasokan energi global secara masif.

"Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh," tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai eskalasi konflik terkini.

Otoritas Arab Saudi mengutuk keras ancaman dari kelompok yang mereka sebut sebagai "milisi teroris Houthi" tersebut, sembari menegaskan komitmen mereka untuk terus mendukung pemerintah resmi Yaman. Di sisi lain, eskalasi pertempuran di lapangan terus menelan korban jiwa dari pihak militer Washington.

Konflik yang pecah kembali pasca-runtuhnya kesepakatan damai darurat bulan Juni ini telah mencatatkan total 17 korban tewas di pihak tentara AS. Selain itu, Pentagon mengonfirmasi pada hari Senin bahwa hampir 100 personel militer Amerika Serikat lainnya mengalami luka-luka sejak 7 Juli lalu, yang mayoritas disebabkan oleh gegag otak ringan akibat serangan drone dan rudal.

Aksi Saling Gempur

Guna melumpuhkan kemampuan Iran yang membidik aset komersial di Selat Hormuz, Komando Pusat AS (Centcom) kembali meluncurkan gelombang serangan udara terbaru ke wilayah Republik Islam tersebut. Di saat yang sama, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan rentetan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menghantam sejumlah sasaran militer serta infrastruktur di Bahrain, Yordania, Kuwait, hingga Suriah.

Pihak militer Yordania mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayah kerajaan tanpa menimbulkan korban jiwa atau kerusakan. Sementara itu, Kuwait dan Bahrain juga melaporkan serangkaian serangan susulan dari Teheran.

Dampak pertempuran sengit di Selat Hormuz dilaporkan semakin mengkhawatirkan setelah para pelaut terpaksa mengabaikan dan meninggalkan sebuah kapal yang terbakar akibat serangan di jalur perairan tersebut, menurut laporan badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO). IRGC sebelumnya juga mengklaim dua kapal tanker minyak meledak dan terhenti saat mencoba melintasi selat tersebut, disusul insiden kapal lain yang dihantam proyektil di dekat selat di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).

Kondisi mencekam ini sempat mendongkrak harga minyak mentah dunia ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir seiring perebutan kendali atas jalur navigasi vital tersebut, yang dalam kondisi damai menyalurkan sepertujuh pasokan minyak dunia.

Jalur Diplomasi Masih Terbuka

Kendati aksi saling gempur dan eskalasi serangan militer terus meluas di berbagai front, pintu diplomasi antar kedua belah pihak diklaim masih belum tertutup sepenuhnya.

"Gagasan-gagasan telah disampaikan kepada kami oleh mediator tertentu," beber Juru Bicaranya Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi bahwa saluran komunikasi tidak langsung dengan AS masih terus berjalan.

Guna menindaklanjuti proses mediasi dan pertukaran gagasan tersebut, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dilaporkan bertolak ke Islamabad pada hari Senin untuk menggelar pembicaraan strategis bersama pemerintah Pakistan yang kembali bertindak sebagai mediator konflik.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |