Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan pihaknya tengah menangani tumpukan sampah di pesisir Jakarta Utara (Jakut), tepatnya di Muara Angke. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis mendorong pemprov mengambil langkah jangka panjang dalam mengatasi masalah sampah tersebut.
"Yang pertama saya mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas LH dan Petugas Lapangan serta seluruh pihak yang telah berhasil membersihkan tumpukan sampah di kawasan Muara Angke yang sempat viral sampai berbentuk pulau selama 4 hari ini sebanyak 8.8 ton," kata Ali kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Foto: Hamparan sampah membentuk pulau di pesisir Jakut viral di medsos. Petugas gabungan membersihkan 'pulau sampah' tersebut. (dok DLH DKI)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ali mengapresiasi pemprov langsung menindaklanjuti permasalahan sampah di pesisir itu usai viral di publik. Menurut Ali, langkah pemprov itu mencegah dampak ekosistem dan aktivitas masyarakat pesisir yang lebih luas.
"Gerak cepat ini menunjukkan keseriusan pemprov dalam menjaga lingkungan pesisir Jakarta dan mencegah dampak yang lebih luas terhadap ekosistem laut maupun aktivitas masyarakat pesisir," ujarnya.
Di sisi lain, Ali mendorong pemprov tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek. Terlebih, kata dia, saat ini tidak menutup kemungkinan masih banyak warga membuang sampah sembarangan ke sungai.
"Namun yang perlu di perhatikan adalah pembersihan sampah saat ini hanyalah solusi jangka pendek saja, di mana persoalan utamanya bagaimana agar sampah-sampah tersebut tidak lagi menumpuk hingga menjadi pulau di Muara Angke tersebut," katanya.
Ali pun meminta pemprov merumuskan langkah jangka panjang. Salah satunya dengan memperkuat sistem penahan sampah di hulu sungai.
"Ada beberapa usulan solusi dan langkah strategis yang bisa dilakukan Pemprov seperti memperkuat sistem penahan sampah di hulu sungai; pemasangan lebih banyak jaring, sekat, dan alat penangkap sampah pada sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta sehingga sampah tidak sampai ke kawasan pesisir," kata Ali.
Selain itu, Ali mendorong pemerintah melakukan edukasi ke masyarakat secara masif mengenai program pemilahan sampah dari rumah tangga. Pengawasan juga perlu dilakukan secara konsisten agar volume sampah yang masuk ke sungai berkurang secara signifikan.
"Melakukan inspeksi rutin dan pembersihan di sungai-sungai yang menuju Muara Angke dan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern," kata dia.
Dia juga mendorong pemprov memberikan insentif kepada masyarakat yang aktif mengelola sampah. Sebaliknya, pelaku pembuangan sampah sembarangan ke sungai didorong agar disanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya, Gubernur Jakarta Pramono Anung menyebutkan tumpukan sampah di pesisir Jakut, tepatnya di Muara Angke memerlukan waktu empat hari agar bersih. Menurut dia, tumpukan sampah di sana akan terus bertambah bila tak rutin dibersihkan.
"Minusnya, kalau tidak secara rutin dibersihkan maka akan menjadi seperti yang kemarin, seperti pulau sampah. Dan sekarang ini terus terang sudah dibersihkan dan memerlukan waktu kurang lebih 3-4 hari untuk membersihkan itu," kata Pramono kepada wartawan di CFD Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (7/6).
Dia menjelaskan, sumber sampah di Muara Angke itu datang dari sampah yang dibuang ke sejumlah sungai. Pramono mengatakan Muara Angke jadi seakan tempat akhir pembuangannya.
"Memang Muara Angke itu adalah tempat begitu ujung dari sungai-sungai yang ada, ada 13 sungai, salah satunya kemudian muaranya di Muara Angke. Begitu mereka keluar, selama ini mengalami pengendapan di sana. Dan ini sudah berlangsung lama," jelasnya.
Pramono mengatakan tumpukan sampah beruntung tak sampai terdorong ke Pulau Seribu. Untuk itu, dia menegaskan bakal membersihkannya secara rutin.
"Saya sudah meminta untuk Muara Angke ini secara rutin untuk dibersihkan, karena jangan sampai seperti kemarin yang sudah menjadi seperti pulau baru dibersihkan," ucap dia.
(fca/knv)

















































