Titiek Soeharto Cek Rumdin Berbahan Batako FABA Produksi Napi Nusakambangan

2 hours ago 3

Jakarta -

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto mengunjungi workshop batako yang terbuat dari residu pembakaran batubara yakni fly ash bottom ash (FABA) di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Ia nampak antusias melihat para narapidana (napi) memproduksi batako.

Titiek juga mengunjungi rumah dinas pegawai lapas Nusakambangan yang dibangun dengan batako FABA. Di rumah tipe 36 tersebut, Titiek mengecek fasilitas yang ada.

"Dapurnya mana?" tanya Titiek kepada pegawai Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pegawai tersebut kemudian menjelaskan dapur berada di sisi belakang rumah dan berkonsep terbuka atau outdoor. Pantauan detikcom, sisi belakang rumah merupakan lahan kosong.

Titiek menyarankan agar pihak Nusakambangan membuat atap untuk menutup separuh area dapur yang terbuka. "Dapurnya mana? Harus ada dapurnya. Mbok ya sekalian dipayongin sithik dapur di luar. Kalau dapur di luar, sekalian payungin sedikit," ujar Titiek.

Titiek memantau area produksi FABA selama kurang lebih 10 menit. Ia didampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto, Dirjenpas Mashudi, dan Direktur Jenderal Imigrasi (Dirjenim) Hendarsam Marantoko.

Workshop ini berdiri di lahan seluas sekitar 11.250 meter persegi. Terdapat dua mesin cetak batako dan paving blok di workshop ini. Masing-masing mesin cetak berkerja otomatis dan manual.

"Sehari (produksi) berapa?" tanya Titiek kepada Menteri Agus.

"Sehari 2000 pieces, Bu" jawab Menteri Agus.

"(Pengeringan batako dan paving yang dicetak) pakai mesin dry?" tanya Titiek lagi.

"Dijemur saja, Ibu," jawab Menteri Agus.

Sebanyak 20 napi dari Lapas Nirbaya setiap hari mampu menghasilkan 2.000 buah paving block. Sementara untuk batako yang dihasilkan 480 buah perhari.

Hingga kini, workshop FABA Nusakambangan telah memproduksi 44.700 buah paving blok, dari total pesanan 50.500 buah.

Nusakambangan Kini

Transformasi Nusakambangan merupakan ide yang dicanangkan Menteri Agus setelah dirinya dilantik Prabowo. Di masa transisi Ditjenpas dari Kementerian Hukum dan HAM ke Kemenimipas, Menteri Agus menerima laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang banyak aset milik Kemenimipas yang berstatus lahan tidur atau idle.

Oleh sebab itu, Menteri Agus berupaya menghidupkan kembali lahan tidur dengan membangun balai latihan kerja (BLK), agar para napi memiliki kegiatan pengembangan diri. Tujuannya, keterampilan yang didapat di BLK menjadi bekal saat mereka bebas dari penjara, dan tak kembali melakukan kejahatan.

Selain workshop FABA, prasarana pelatihan dan pengembangan keterampilan untuk napi yang telah berdiri di Nusakambangan di antaranya BLK konveksi; BLK pengolahan pupuk organik; budidaya ikan Sidat; pengolahan sampah, budidaya ikan Nila, Lele dan Bawal; tambak udang Vaname; peternakan sapi, domba dan unggas; BLK pelintingan rokok: BLK produksi Mocaf hingga budidaya anggrek.

(aud/eva)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |